Facebook

Friday, 10 August 2018

Program Populis COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)




Indonesia akan masuk masa putaran kampanye. Kamu ingat kan, Hugo Chavez. Tubuhnya tambur, Ia mantan para militer. Ambisi kekuasaannya sangat besar.

Pada waktu masih aktif sebagai militer dia pernah mencoba melakukan kudeta tapi gagal. Pemerintah mengampuninya.



Apakah dia kapok? tidak.

Hasrat berkuasa, tak surut. Diapun bergabung dengan Partai sosialis dan akhirnya memimpin partai tersebut. Upaya militer untuk berkuasa dia hapus dari rencana. Selanjutnya dia rebut kekuasaan melalui jalur demokrasi langsung.

Hugo memang petualang sejati yang bisa membungkus dirinya menjadi malaikat demi merebut simpati rakyat miskin. Maklum, dia paham betul sumber daya MIGAS Venezuela terbesar di dunia.

Selama ini dinikmati oleh elite politik yang pro AS. Ketika berkampanye dia menuduh penguasa yang ada sekarang telah gagal memenuhi janjinya. Harga melambung tinggi. Pengangguran meningkat. Subsidi dipotong. Orang miskin semakin banyak. Negara digadaikan kepada asing. Hutang bertumpuk. TKA merampas angkatan kerja lokal. Dia komunikator ulung yang mampu menciptakan magic word merasuk ke otak rakyat yang sebesar kacang itu.

Rakyat larut dengan mimpi hidup makmur dari segala kemudahan dari calon pemimpinnya.


Lantas apa yang dia janjikan?

Dia tidak berbicara tentang perlunya menjadikan SDA sebagai pemicu untuk pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Bahwa kalau dia berkuasa SDA yang ada akan digunakan untuk mendistribusikan keadilan ekonomi dan sosial. Upah buruh maupun PNS naik berlipat.

Pengadaan rumah dengan DP dan angsuran di subdisi Negara. Harga kebutuhan hari hari semua di subsidi dan dijamin murah. Semua kebutuhan sosial di jamin negara. Yang nganggur di gaji.

Ketika lawan politiknya menyerangnya dengan menuduhnya membawa program populis, dia menjawab dengan santai “ itulah contoh penguasa yang tidak punya keberpihakan kepada rakyat miskin.”

Sebagian besar rakyat yang memang miskin , memang tidak paham bagaimana seharusnya mesin ekonomi bekerja untuk kemandirian. Tentu sangat percaya dengan janji populis itu. Sudah dapat di tebak hasilnya. Hugo dapat menang mudah.

Selama menjabat lebih dari 14 tahun, dia selalu membakar emosi rakyat tentang kesalahan presiden sebelumnya. Sementara program real bagaimana menciptakan kemandirian rakyat untuk berproduksi tidak nampak, Bahkan dia terus meracuni rakyat dengan subsidi besar besaran.

Bukan itu saja, dia pun memotong jam kerja agar rakyat punya waktu melakukan kegiatan kesenian dan beribadah di gereja. Gerakan Gereja yang menentang kebijakannya semakin kehilangan pamor di hadapan rakyat. Rakyat menjadikan gereja tempat dansa ala sosialis.

Di Caracas tidak ada hari tanpa pesta dan kebaktian keagamaan. Kekuasaannya semakin kokoh dan diapun meminta Parlemen menghapus pembatasan masa jabatan presiden. Sehinga dia bisa seumur hidup berkuasa.

Teman saya di China yang punya bisnis di Venezuela bilang bahwa kesalahan terbesar dari Hugo adalah tidak menggunakan keuntungan MIGAS untuk memperluas industri hilir. Lebih konyol lagi, dia memaksa BUMN untuk membayar tunai semua bagi hasil dari minyak mentah.

Sehingga tidak ada lagi uang untuk pengadaan tekhnologi dan peningkatan produksi. Dengan uang tunai itulah dia bagikan kepada rakyat lewat program populis. Tapi karena sebagian besar kebutuhan rakya berasal dari impor dan pengadaanya di kelola negara, maka business rente di semua sektor meluas.

Pemerintah membayar 90% dari harga rente itu. Jadi daya korupsinya lebih dahsyat diibandingkan waktu presiden sebelumnya masih sistem kapitalis.

Karena program populis itu memang angka kemisikinan turun tapi tidak berdampak kepada pertumbuhan real untuk jangka panjang. Dampak buruk dari program populis itu adalah rakyat lemah bersaing dan manja. Seakan pesta akan terus berlansung tanpa jeda.

Selagi MIGAS masih ada maka selama itu rakyat menikmatinya.





Namun apa yang terjadi kemudian?

ketika harga minyak dunia mulai anjlok pada 2010, reaksi berantai terjadi di Venezuela. Pemerintah tak sanggup lagi mengimpor bahan pokok dan memberikan subsidi. Akibatnya kelangkaan terjadi di mana-mana. Rakyat pun kelaparan. Tahun 2013, Hugo meninggal karena kanker.

Penerus Chavez, adalah Nicolas Maduro yang harus menanggung tugas berat memberesakan masalah ini. Tapi lagi-lagi warisan Chavez menjadi penghalang. Kali ini bukan warisan kebijakan, melainkan ideologi yang terlanjur meracuni rakyat jadi rakus dan malas. 

Dia tahu bagaimana harus berbuat agar keluar dari masalah tapi dia tidak bisa mengubah idiologi yang sudah terlanjur merasuk rakyat. Maklum Maduro adalah murid Chavez yang pernah jadi wakil presiden pada periode akhir pemerintahan Chavez.

Banyak negara ingin membantu Venezuela tapi Maduro menolak, Karena syarat yang ditetapkan, dia harus menghentikan program populis itu dan memastikan APBN kredible untuk menjamin pertumbuhan berkelanjutan.

Pihak negara asing di jadikannya alasan atas kegagalan dia mengatasi ekonomi.

Dia menuduh negara-negara yang tidak suka pada Venezuela sengaja memantik perang ekonomi.

Rakyat bisa menerima alasan itu. Tapi ketika tidak ada lagi uang untuk membayar program populis itu, rakyat pun marah. Karena tidak ada barang tersedia dipasar. Mata uang terjun bebas, harga melambung tak terbilang. Kejahatan terjadi dimana mana.

Orang jadi ganas. Angka kemiskin meningkat pesat, bahkan lebih miskin dari sebelum HUGO jadi presiden. Orang menjual anak gadisnya demi sepiring spaghetti. Uang tidak ada nilainya lagi. Karena barang tidak tersedia dipasar.

Kini baru rakyat tahu, bahwa apa yang mereka terima selama ini bukan hanya berasal dari MIGAS tapi juga hutang luar negeri. 

Apa yang terjadi pada venezuela pernah terjadi di Indonesia di era Soeharto dan SBY.

Tapi untunglah Jokowi yang terpilih sebagai pengganti sehingga tahu akar masalah bangsa.

Bahwa ini adalah soal mental. Baik pemimpin maupun rakyat terjebak dengan mental too good to be true. Mempertahankan kekuasaan lewat subsidi tanpa kerja keras. Itulah yang akan ditawarkan oleh pasangan PS -Sandi dalam kampanye nanti.

Kita sebagai rakyat yang cerdas harus berhati hati dengan calon pemimpin yang populis.

Karena dia lebih jahat daripada kapitalis dan lebih buruk dari komunis.

Lihatlah contoh di Jakarta. Pemimpin oportunis adalah dajjal yang sengaja lahir untuk merusak peradaban. Mereka adalah musuh orang beragama dan bermoral.

Mengapa ? 

Mereka menciptakan paradox. Karena mereka meracuni orang miskin dan bodoh untuk menyembah mereka dengan janji populis dan kemudahan, tapi sebetulnya merampok lebih banyak dibandingkan kaum kapitalis maupun komunis.




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)