Facebook

Friday, 13 July 2018

Modus FreeportMC Moran COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)




Semua orang hanya melihat Freeport MCMoran sebagai perusahaan tambang raksasa.

Bukan hanya raksasa tetapi juga punya akses politik yang sangat kuat di jantung kekuasaan di AS.

Kini staf khusus Presiden Trump juga adalah pemegang saham dari Freeport.

Pengalaman mereka dimanapun termasuk di Indonesia sangat ahli dalam hal suap kepada elite Politik. Mereka juga terlibat membiayai operasi inteligent AS untuk kepentingan hegemoni AS di wilayah operasi mereka.

Contoh, dulu era Soeharto , divestasi FI jatuh ketangan Aburizal Bakrie sebesar 9,36 % melalui PT. Indocopper senilai US$213 juta. Namun, Ical hanya membayar US$40 juta. Sisanya sebesar US$ 173 juta share loan dari Freeport.

Kemudian Bakrie melepas 51% saham indocopper kepada PT. Nusamba milik keluarga Pak Harto dan Bob Hasan seharga USD 315 juta. Tapi transaksi ini duitnya dari Freeport USD 254 juta, sedangkan Nusamba hanya menyetor US$61 juta. Enak kan. Kemudian sisanya 49% di jual lagi oleh Ical kepada Freeport senilai US$211,9 juta di pasar modal. Dahsyat engga.

Lantas bagaimana dengan Freeport sendiri apakah mereka ambil resiko dalam bisnis konsesi tambangnya ? Tidak.

Semua biaya investasi di keluarkan oleh Rio Tinto. Rio Tinto adalah perusahaan asal inggeris yang bergerak di sektor material. Perusahaan ini memproduksi batu bara, besi, tembaga, uranium, emas, dan intan.

Perusahaan ini mempekerjakan 32.000 pekerja pada tahun 2004. Industri yang menjadi fokus utama Rio Tinto adalah industri pertambangan dan metal. Pada tahun 2014, Rio Tinto mendapatkan nilai penjualan sebesar AS$51,2 miliar dengan profit AS$3,7 miliar.

Pada tahun yang sama, Rio Tinto menempati peringkat ke-109 dalam daftar Global 2000, sebuah daftar perusahaan terbesar di dunia yang diperingkat oleh majalah bisnis Forbes, dengan total nilai pasar (market value) AS$103,8 miliar dan total aset sebesar AS$111 miliar.

Bagaimana skema nya ?

Rio Tinto mengeluarkan modal investasi kepada Freeport atas dasar Participation Interest.

Apa itu participation interest ? 

Hak atas uang yang dikeluarkan untuk suatu pembiayaan dengan jaminan kontrol secara langsung terhadap perusahaan. Konpensasinya bukan berupa saham tetapi kapan saja dia bisa ambil saham kalau gagal bayar. Dalam bisnis tambang, umumnya pemilik PI mendapatkan jatah dari produksi tambang tanpa harus keluar uang bayar pajak atas konsesi tambang itu. 

Dalam hal tambang di Papua itu, Rio Tinto mendapat jatah sebesar 40% dari produksi tambang dan 60% nya untuk Freeport. Dari 60% ini Freeport harus keluar uang untuk bagi hasil kepada pemerintah, bayar pajak, bayar uang politik dan lain sebagainya.

Jadi dalam bisnis tambang, memang pemegang saham Freeport hanya mengelola konsesi politik sambil tidur tiduran menikmati hasil tanpa keluar dana dan resiko. Semua resiko investasi dibayar oleh Rio Tinto dan semua akses tekhnologi dimiliki oleh Rio Tinto. 

Freeport Mc Moran hanya dipakai nama dan akses politiknya saja. Makanya negosiasi dengan Freeport sejak tahun 2011 selalu menemui jalan buntu. Mereka gunakan segala macam cara agar bisa bertahan. Tentu mereka menekan asset politik mereka di Indonesia agar mempengaruhi presiden dalam mengambil keputusan.

Contoh ketentuannya dua tahun sebelum berakhir KK atau 2019 barulah diadakan negosiasi.

Namun era SBY , CT (Chairul Tanjung) yang ditunjuk ketua team negosiasi merekomendasikan agar ditanda tangani MOU dimana pemerintah sepaham akan memperpanjang KK menjadi Kontrak Karya dari 2012-2041.

Ini sebetulnya melanggar UU 4/2009 tentang Minerba dimana era KK dihapus menjadi IUP ( izin usaha penambangan). MOU ini buah permainan Freeport dan pasti engga gratis.

Di era Jokowi, keadaan ini disadari sepenuhnya. Apalagi ketika Freeport mulai main kasar dengan mengadu domba Jokowi dengan elite politik Senayan dengan bocornya rekaman pembicaraan antara SN, Mures dan Petinggi Freeport.

Jokowi tidak mau ladenin Freeport langsung. Disamping ongkos politik mahal, juga biaya tendang freeport juga mahal.

Jadi gimana ? istilah china kuno, kalau ingin melumpuhkan Ular, pegang kepalanya. Jangan pegang ekornya. Ya pegang Rio Tinto. Intinya kalau kita mau ambil 51% saham Freeport dengan harga yang wajar, kalau mau wajar ya dengan berbagai cara.

Kuasai PI (Participation Interest) dari Rio Tinto.

Kalau Rio engga mau gimana ? Ya buat Rion Tinto stress.

Larang ekspor dan persulit perpanjangan kontrak. Kemudian tunggu sampai Rio Tinto hilang trust terhadap Freeport yang hanya modal politik.

Dengan adanya Head of Agreement kemarin, maka proses akuisisi 51% saham Freeport Indonesia dapat berlangsung dengan efektif. Berdasarkan head of agreement itu, team financial engineering dari Inalum akan bekerja melakukan aksi korporat untuk mendapatkan dana melalui perbankan atau pasar uang. Tanpa harus keluar uang dari APBN dan Indonesia dapat menguasai saham mayoritas Freeport Indonesia dan tentu akan melanjutkan kerjsama dengan freeport termasuk dengan stakeholder bidang tekhnologi dan financial.

Yang jelas tujuan akhir agar generasi KK (Kontrak Karya) closed file tercapai dan digantikan dengan IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) berdasarkan UU 4/2009 tentang Minerba.

Selanjutnya para insinyur Indonesia akan memimpin operasi tambang itu melalui Joint Operation dengan Freeport. Rakyat Papua bukan hanya mendapatkan pajak tanah dan air tetapi juga dapat saham 10%. The mission accomplished. Thanks Pak Jokowi.




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)