Facebook

Monday, 18 June 2018

Kinerja BUMN Kontruksi COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)




Tiga tahun era Jokowi berkuasa peningkatan kinerja BUMN Kontruksi luar biasa pertumbuhannya.

Hal ini karena penugasan dari pemerintah membangun infrastruktur dan maraknya proyek Joint operation dengan asing dalam membangun proyek B2B.

Kuartal I 2018 Enam BUMN Kontruksi berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan usaha secara signifikan. Keenam BUMN dimaksud adalah PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Jika dibandingkan dengan kuartal I 2017, pendapatan usaha Hutama Karya naik 110% menjadi Rp 4,8 triliun dan berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 200 miliar.

Kemudian Waskita Karya mencatatkan kenaikan pendapatan usaha sebesar 68,56% menjadi Rp 12,3 triliun, dengan laba bersih sebesar Rp 1,7 triliun.

Pendapatan usaha Wijaya Karya dan Adhi Karya pun mendulang hasil positif serupa.

Emiten berkode saham WIKA dan ADHI tersebut berhasil meraup pertumbuhan pendapatan usaha masing-masing sebesar 64% menjadi Rp 6,2 triliun dan 92,8% menjadi Rp 3,1 triliun. Hingga 31 Maret 2018, keduanya berhasil membukukan laba bersih masing-masing sebesar Rp 215 miliar dan Rp 73 miliar.

Tak mau kalah, PT PP juga berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3,6 triliun, naik 26% dibandingkan periode sama tahun lalu. Laba bersih perseroan naik 26 % menjadi Rp 204 miliar.

Begitupun Jasa Marga, pendapatan perseroan naik 92,8% menjadi Rp 9,6 triliun, dengan capaian laba bersih sebesar Rp 560 miliar. Selain itu, rata-rata pertumbuhan aset keenam BUMN tersebut pun berada diangka 55,98%.

Ekuitas ( modal ) keenam perusahaan ini pun bertumbuh cukup baik. Ekuitas Hutama Karya naik menjadi Rp 8,7 triliun dibandingkan capaian periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 7,6 triliun.

Ekuitas Waskita naik menjadi Rp 24,4 triliun dibandingkan capaian periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 20,2 triliun. Sementara WIKA, ekuitasnya naik menjadi Rp 14,7 triliun dibandingkan kuartal I 2017 sebesar Rp 12,7 triliun.

Begitu pun dengan ADHI, PTPP dan Jasa Marga. Hingga 31 Maret 2018, ekuitas ketiga emiten tersebut masing-masing sebesar Rp 5,9 triliun, Rp 14,6 triliun, dan Rp 18,9 triliun.

Capaian ini tumbuh cukup baik dibanding periode sama tahun lalu, di mana ekuitas ADHI berada di angka Rp 5,3 triliun, PTPP Rp 10,6 triliun dan Jasa Marga Rp 16,4 triliun.

Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana BUMN tersebut diatas mampu meningkatkan laba dan assetnya?

Disamping adanya PMN juga meningkatnya liabilities yang diukur dengan rasio Debt to equity rasio ( DER). Sampai dengan akhir kuartal III-2107, DER PT Waskita Karya Tbk (WSKT) tercatat mencapai 2,89 kali, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sebesar 0,74 kali, dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sebesar 1,42 kali. Median DER untuk subsektor konstruksi tersebut tercatat hanya sebesar 0,92 kali.

Apakah DER itu tinggi dan mengkawatirkan ? 

DER BUMN konstruksi rata-rata masih berkisar 0,63 kali-1,61 kali, tidak terlalu berbeda jauh dengan BUMN konstruksi di Asia tenggara dan China, bahkan Indonesia termasuk konservatif menjaga tingkat DER.

Dan lagi DER meningkat bukan karena biaya operasional tetapi karana adanya proyek yang umumnya sangat secure sebagai B2B atau ada payment undertaking yang bisa disekuritisasi untuk dapatkan uang mendukung cash flow.

Liabilities berupa DER itu bukan utang seperti senior Bond yang menggadaikan neraca BUMN, tetapi Debt by project. itu tumbuh karena investasi proyek dengan beragam skema seperti Factoring, sekuritisasi asset , non recourse loan. Mutual fund limited offers, perpetual Bond, preffered stock. 

Kalau engga feasible itu proyek mana mungkin bisa dapatkan financial resource. Kehebatan BUMN kontruksi adalah mereka disamping sebagai kontraktor juga sebagai investment Manager dan Fund provider bagi proyek infrastruktur.

Jadi kalau ada yang bilang BUMN kontraktor berbahaya karena hutang menggunung dan terancam bangkrut sehingga kelak terpaksa pemerintah bailout. Itu karena dia tidak paham membaca neraca perusahaan. Ingat loh semua BUMN itu sudah IPO, yang pasti transfarans.

Mereka yang nyinyir menyudutkan ibu Rinso, pasti engga pernah melantai dibursa bermain saham secara fundamental. Tetapi anehnya sok jadi analis keuangan Perusahaan sekelas BUMN.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)