Facebook

Tuesday, 12 June 2018

BEDAH KASUS : Skema Toll Cipali COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Pada Era SBY ada ide besar yaitu membuat jalan Toll Trans Java. Sebetulnya ide ini sudah ada di era Soeharto. Namun karena keterbatasan sumber dana makanya jadi lambat prosesnya. Sebagaimana jalan tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang memiliki panjang mencapai 116,7 kilo meter (KM). Proyek ini direncanakan sejak tahun 1996 era Soeharto.

Di era SBY tahun 2013 proyek mulai dikerjakan dan, dijadikan bagian dari proyek jalan tol Trans Jawa yang melewati 5 kabupaten di Jawa Barat yaitu Kabupaten Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka dan Cirebon. Tol yang memiliki 99 jembatan tersebut akan terhubung dengan Jalan Tol Jakarta – Cikampek dan Jalan Tol Palimanan – Kanci.

Ciri khas proyek era Soeharto dan SBY untuk business konsesi infrastruktur ekonomi lebih banyak jatuh kepada swasta nasional daripada BUMN. Apakah swasta nasional memang mampu dan punya uang? tidak juga.



Perhatikan skemanya. Pemilik konsesi proyek ini adalah PT Lintas Marga Sedaya (LMS).

Pemegang saham LMS adalah PT. Baskhara Utama sebesar 45%. Sisanya 55% saham dikuasai Plus Expressways Berhad ( anak perusahaan UEM Group Berhad Malaysia). Pembiayaan ini menggunakan non recourse loan. Artinya collateral proyek itu adalah proyek itu sendiri atau konsesi yang dimiliki. Loan To Value adalah 70% dari nilai proyek. Sisanya sebesar 30% harus berupa cash equity.

Siapa yang keluar 30% itu? Plus Expressway sebagai investor asing.

BUS keluar apa ? Akses politik untuk dapatkan konsesi bisnis jalan Tol.

Jadi value PT. Baskhara Utama dalam LMS adalah berupa goodwill mendapatkan konsesi jalan toll. 

Ini asset politik pemegang saham BUS, yang wajar dihargai tinggi yaitu 45% saham. Besar kan goodwill nya? ya besar. Karena BUS bukan hanya punya konsesi bisnis tetapi juga punya akses politik untuk mengatur konsorsium bank memberikan pinjaman.

Tahukah anda? Proyek ini melibatkan sindikasi 22 bank yang dipimpin PT Bank BCA Tbk (BBCA) bersama dengan PT Bank DKI. Hampir semua bank BUMN terlibat dalam menyalurkan kredit ke proyek ini.

Kalau tanpa lobi politik hebat boss BUS rasanya tidak mungkin penggalangan dana 70% proyek ini dapat sukses. Hebatkan, BUS tanpa keluar uang, dapat saham 45% proyek terpanjang di Indonesia.

Konsorsium bank terlibat dalam pembiayaan bukan hanya karena dukungan politik sangat kuat di era SBY kepada proyek ini tetapi juga ada exit strategi yang bisa menghasilkan uang cepat.

Apa itu? melepas saham kosong itu kepada PT Astratel Nusantara yang merupakan anak perusahaan PT Astra International Tbk. Maklum pemegang saham utama BUS adalah Edwin Soeryadjaya, yang pemegang saham pengendali utama Saratoga dan Recapital yang merupakan induk dari BUS.

Dan semua tahu bahwa Edwin Suryajaya adalah putra dari pendiri Astra International. Maka klop dah stategi itu. Benarlah, setelah proyek selesai di bangun tahun 2015, tahun 2016 dan 2017 proses akuisi terjadi secara sistematis.

Tahun 2017, PT Astratel Nusantara ( Astra Infra) mengambil alih 60 persen saham PT Baskhara Utama Sedaya (BUS) dari PT Karsa Sedaya Sejahtera dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).

Maka Astra Infra menguasai 100 persen saham BUS. BUS sendiri merupakan pemegang 45 persen saham PT Lintas Marga Sedaya (LMS). Dengan demikian kepemilikan saham efektif Astra Infra bertambah 22,7 persen yang sebelumnya tahun 2016 adalah 22,3%.

Sehingga total kepemilikan efektif saham Astra Infra di LMS menjadi 45 persen.

BUS keluar dari proyek tol Cipali dengan mendapatkan uang tunai triliunan atas capital gain 45 % saham yang tadinya hanya modal lobi dan akses politik.

Dan itu berkat kedekatan Sandi dengan PD (Partai Demokrat) di era SBY. Edwin melalui kakaknya Edwar yang bendahara Golkar merupakan koalisi PD diera SBY.

Di era Jokowi cara bisnis konsesi seperti tersebut diatas tidak bisa lagi dilakukan swasta. Jokowi lebih memilih BUMN untuk kerjakan skema tersebut dan capital gain masuk ke kas BUMN.

Kalau swasta , maka pastikan mereka bawa uang sendiri dan tidak bisa tarik pinjaman dari bank dalam negeri. Atau silahkan gandeng investor asing dan pastikan juga bawa uang tunai 100%.

Kalau engga lebih baik minggir aja. Tiga bulan setelah dinyatakan menang tender maka harus financial closing. Kalau engga, ijin dicabut.

Mengapa ? jalan toll itu asset nya milik negara, investor hanya dapat hak konsesi ( kelola), kan lucu kalau duitnya dari bank dalam negeri. Itu sama saja boong. Modal ente apa ? Makelar sapi udah engga laku lagi..





Q&A

Rizka Husnu Maulana bagaimana nasib expressway berhad babo? masih punya saham.d LMS?

Erizeli Jely BandaroErizeli Tetap sebagai pemegang saham mayoritas 55% saham di LMS.

Elys KoroElys  Pak Erizeli Jely Bandaro, sebenarnya ada masalah yang ingin bangat saya dan mungkin dan mungkin juga yang lainnya pingin tau soal cara pak Jokowi, mempercepat pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur. Karena jika kita berkaca pada persoalan-persoalan di masa lalu, setiap ada proyek infrastruktur selalu dihadapkan pada dua kendala utama, yaitu soal pendanaan dan pembebasan lahan.

Sedangkan sekarang dijaman pak Jokowi, semua serasa mudah dan cepat. Dimana poin yang membedakan?

Erizeli Jely BandaroErizeli Di era Jokowi, tanah di reimburse oleh negara. Mengapa ? karena jalan toll itu sebenarnya milik negara. Jadi wajar kalau tanah yang bayar negara. Namun investor bayar dulu, setelah bebas semua barulah negara reimburse. Dulu tanggung jawab investor makanya lambat sekali proses. Disamping itu negara juga memberikan fasilitas PINA dalam bentuk VGF dimana resiko dibawah IRR dibail out negara.

Tjeng Fu Ming Kalo pembebasan tanah oleh investor tanpa reimburse oleh negara, berarti tol menjadi asset mereka dong, bukan konsesi lagi jadinya....begitukah Babo?

Erizeli Jely BandaroErizeli Tjeng Fu Ming UU jalan toll dari dulu memang asset tetap milik negara..hak swasta hanya konsesi melalui KPBU..

Marojahan Siburian Informasi dari Babo selalu menambah wawasan baru yg.kredibel.Tapi ngomong-ngomong benar gak kalo Sandi itu bisa jadi konglomerat tdk bisa dilepas dari peran besar keluarga Almarhum William Soeryadjaya founder Astra Intersional Holding ? Tapi isunya antara Edwin Soeryadjaya dengan Sandiaga Uno masih berseteru masalah sengketa tanah.

Jimmi Charlo Simanjuntak kalo gak salah yang ribut itu sama edward....edward sama edwin kayaknya sih gak akur....kalau saratoga itu kongsi sandi dengan edwin...yang ngenalkan rosan roeslani (iparnya sandiaga)...yang kemaren2 ribut2 gak dapat jataj proyek...

Erizeli Jely BandaroErizeli  ya Sandi bukan hanya didukung oleh Edwin tetapi juga oleh keluarga Bakri bersama SB. Kemudian setelah kejatuhan saham BUMI akibat jatuhnya harga batu bara, dia hijrah ke Prabowo setelah melepas sahamnya ke Antoni dll.

Karena maklum Hashim dekat dengan Nat rotchild yang punya koneksi kuat dengan GSF. Sayang GSF tidak sehebat ceritanya karena pemerintah Singapore tidak lagi mengizinkan GSF masuk ke INdonesia secara frontal karena adanya tex amnesty..

Marojahan Siburian Oh..begitu ceritanya pantas koneksi dia kuat ada Aburizal Bakrie,Sutrisno Bachir,Hashim Djojohadikusumo dsb.Itupula namanya sbg pemilik saham di PT. Adaro Energy Tbk hengkang.

Erizeli Jely BandaroErizeli  Marojahan Siburian itu berkat maminya yang memang orang hebat..

Rocky Qautsar Mien Uno sebagai jongos nya Astra grup, alias backup koneksi ke pemerintahan orde baru. Setiap business man era suharto pasti butuh backup nasionalis, astra grup milih mien uno. Si mien uno nitip anaknya si sandi ini buat dijadiin anak didik oleh erwin.

Makanya disekolahin ke USA ama erwin, dititipin perusahaan recapital sebagai sarana training untuk entrepreneurship. Disono sekolah? Kaga, yang ada dugem ama ngeband ama anaknya sudwikatmono, si agus lasmono.

Muhammad Andisyah Tapi astratel yg punya sekarang hartono brothers kan, bukan keluarga soeryadjaja lagi? Babo Erizeli Jely Bandaro

Erizeli Jely BandaroErizeli  Erwin masih ada disana dan dia creator semua dibalik semua aksi corporate




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)