Facebook

Sunday, 25 February 2018

Skema Pembiayaan Toll, Padang - Pakan baru COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)


Ketelibatan Jepang dalam proyek Jalan Toll , Padang-Pakan baru, sebagai tindak lanjut dari rencana yang pernah dibuat oleh SBY. Jokowi melanjutkannya.

Namun sekarang proyek jalan toll itu masih outstading commitment.

Mengapa ?

Karena jepang keluar dari kesepakatan awal yang tidak meminta down fall guarantee.

Padahal dalam skema pembiayaan peran jepang hanya bertugas menyediakan VGF (Viability Gap Fund) yang hanya dipakai apabila proyek tidak mencapai IRR yang di sepakati.

Nah, dengan adanya syarat down fall guarantee yang ditetapkan jepang maka itu sama saja jepang tidak terlibat alias nul. Artinya kalau negara bisa menyediakan down fall guarantee, semua investor bisa menyediakan dana VGF.

Apalagi Jepang memaksakan spec kontruksi memanfaatkan pemboran bukit dengan memanfaatkan teknologi bor yang dimiliki jepang. Akibatnya biaya kontruksi membengkak menjadi Rp. 300 miliar per KM. Ini jelas irasional. Perhitungan normal tanpa tunnel , hanya Rp. 90 miliar.

Kalaupun menggunakan tunnel mesin bor dari Cina atau korea, hanya Rp. 200 miliar.

Jokowi meresmikan proyek Jalan Toll Padang Pakan Baru itu adalah cara smart biar publik menilai betapa jahatnya jepang merampok negeri ini. Para insinyur dan direktur BUMN tidak bodoh.

Mereka tentu punya solusi lain agar proyek ini bisa terus terbangun tanpa harus mendapatkan bantuan dari Jepang.

Kabar saya dengar beberapa investor dalam dan luar negeri berminat untuk menggantikan skema yang diajukan jepang.

Jepang selalu awalnya begitu manis menawarkan banyak kemudahan agar rencana proyek dibuat.

Namun ketika masuk impelementasi, mereka mulai menerapkan aturan yang mengikat.

Jepang berusaha untuk menerapkan tekhnololgi terbaru yang mereka punya dan kemudian meminta pemerintah menjamin semua resiko atas pembiayaan itu melalui APBN.



Dampaknya dalam jangka panjang pemerintah terjebak dengan hutang yang menjerat sehingga sulit bagi Pemerintah untuk bisa bersikap tegas terhadap hegemoni jepang.

Padahal era sekarang, era keterbukaan, Semua serba transfarance. 

Bahwa banyak sumber dana dari luar yang siap memberikan pembiayaan dengan skema win win atau B2B tanpa ada aneksasi terhadap kekuatan APBN.

Seharusnya Jepang yang sudah menikmati segala fasilitas bisnis di Indonesia dengan menguasai industri kendaraan di Indonesia, bersikap bijak.

Bahwa kelancaran arus barang melalui sistem transportasi yang bagus akan semakin meningkatkan permintaan kendaraan.

Seharusnya mereka meliat peluang bisnis atas adanya jalan Toll tersebut.

Seharusnya jepang belajar dari China yang lebih mengutamakan bisnis to bisnis tanpa melibatkan jaminan negara. Resikonya juga Nol.

Mengapa ? 

Kalau proyek itu tidak menghasilkan laba cepat dalam jangka pendek, china bisa mengambil alih proyek tersebut dengan memperbaiki struktur permodalan proyek agar layak dalam jangka panjang.

Dan negara menambah janga waktu konsesinya.

Negara tetap dapat pajak kalau proyek itu untung. Artinya selalu ada solusi win to win.

Tetapi anehnya, orang indonesia terlalu percaya dengan jepang daripada China,

Padahal jepang pernah menjajah kita dengan korban kemanusiaan yang massive.

Bahkan para orang pintar lulusan universitas yang diongkosi negara lewat subsidi tetap mengidolakan Jepang.

China tetap musuh abadi padahal china tidak pernah menjajah Indonesia.

Dari keadaan ini, kita tahu bahwa orang yang membenci china dan mengidolakan Jepang karena kebodohan akut dan lupa sejarah bahwa negeri ini pernah di perkosa oleh jepang.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)