Facebook

Monday, 5 February 2018

Bisnis Model Perusahaan COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Ada wanita selebritis yang mungkin kekayaannya diatas normal seorang artis. Dia tidak terlibat selingkuh atau dipiara pejabat atau pengusaha. Dia gunakan potensinya sebagai artis dan selebritis untuk menjadi mediator business atau apa saja yang bisa mendatangkan uang.

Bagaimana caranya? 

Dia berusaha akrab dan tentu tidak sulit mendekati para pria kalangan elite seperti pengusaha , politisi, sampai kepada pejabat. Dari seni pendekatannya sebagai artis itulah dia punya business network.

Apapun masalah orang yang punya masalah yang berhubungan dengan akses kepada pengusaha atau politisi, atau pejabat dia bisa atur ketemu. Dan kemungkinan besar deal terjadi. Karena dengan kehebatannya sebagai artis, dia mampu meyakinkan akses bisnisnya untuk membantu clients nya. 

Walau dia tidak pernah berhasil yakinkan saya.

Anda semua tahu starbucks, banyak warung kopi tetapi tidak ada yang bisa menghasilkan laba seperti Starcbucks. Anda tahu Express taxi yang terancam bangkrut karena kalah bersaing dengan Gojek online yang tanpa punya taksi sendiri.

Anda tahu begitu banyak Mall yang sepi , namun tidak bagi Plaza Indonesia dan Lippo Karawaci. 

Anda tahu Air Asia LCC yang punya pesawat sendiri tidak lebih hitungan jari tetapi pesawat berbendera AirAsia diatas ratusan dan labanya tinggi dibandingkan maskapai penerbangan lain yang punya pesawat sendiri banyak dan justru terancam bangkrut.

Anda tahu dua perusahaan semen swasta terancam delusi asset-nya karena omzet menurun disaat permintaan semen tinggi. Sementara pabrik semen BUMN terus ekspansi ditengah harga turun akibat permintaan tinggi.

Apa yang saya sampaikan diatas contoh sederhana business model. 

Tidak ada bisnis yang salah, yang salah adalah gagal atau lemah penguasaan pasar (market share)

Market share itu tergantung dari kemampuan kreatifitas dan inovasi memanfaatkan sumber daya yang terbatas dan untuk menghasilkan hal yang optimal. Tentu didukung oleh rasa percaya diri yang tinggi.

Perubahan lingkungan bisnis terjadi sangat cepat. Berkat IT , semua proses management sampai pengambilan keputusan sudah menerapkan IT system. Pramuniaga sudah masuk ke kantong anda melalui WA. Apapun orang bisa beli secara online. Kalau anda masih berhitung berpikir tentang di luar jangkauan anda untuk berubah maka anda akan digilas persaingan.

Dulu saya punya business collateral provider sebagai bagian dari shadow banking. Tetapi 4 tahun lalu saya ubah secara drastris. Padahal ketika itu business masih bagus. Saya ubah menjadi stockis provider dengan memanfaatkan akses perbankan dan lembaga pembiayaan.

Kini bisnis itu telah menjelma menjadi trader untuk beragam komoditas tanpa punya barang.

Pasarnya terhubung diseluruh dunia yang terhubung dengan fund provider dan collateral provider. 

Kami jadi total solution bagi pabrikan, pedagang dan perbankan.

Menggabungkan Business model, Financial model dan SDM model.

Semua diuntungkan dan bisnis tumbuh merebut market share.

Sementara Bisnis Shadow Banking sekarang, semua hidup segan mati tak mau.

Mengapa ? karena takut berubah.

Era kedepan, bisnis atas dasar sinergi dan kemitraan akan mendapat tempat dengan peluang raksasa terbuka.

Mengapa ? di Era keterbukaan sekarang memaksa semua orang terbuka dan membuka diri untuk bermitra. Dan kuncinya bukan lagi modal tetapi TRUST !



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)