Facebook

Friday, 26 January 2018

PADA SAATNYA AKAN INDAH COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



“ Kamu urus proyek ini. Datanya minta sama sekretaris saya. “ katanya seraya menyerahkan selembar dokumen ketika bertemu dengan saya di resto Mandarin Hotel Singapore.

Wajah tuanya tak pernah sekalipun nampak lembut terhadap saya.

Saya dengan menaruh hormat kepadanya untuk segera melaksakan tugas darinya.

Ketika itu tahun 2006. Selama 4 bulan saya bekerja keras memastikan proyeknya dapat dukungan dari pemerintah. Akhirnya pemerintah bersedia memberikan dukungan.

Untuk proses itu saya menghabiskan uang tidak kurang USD 500,000.

Apakah dalam proyek senilai Rp. 4,2 Triliun itu saya dapat saham? Tidak.

Waktu saya bertemu lagi dengan dia di Hong Kong, saya laporkan bahwa saya sudah laksanakan tugasnya. Dia hanya mengangguk.

Kemudian dia berkata “ Kamu pergi ke causeway bay ke toko Indonesia, beli kecap KS. Saya lupa bawa. “ Saya tersenyum langsung berlalu darinya.

Sambil telp sekretaris saya suruh beli kecap KS di Toko Indonesia.

Setelah saya serahkan kecap itu, dia suruh saya antar kecap itu ke kamar hotelnya. Saya pun berlalu.

Begitulah sikapnya kepada saya. Saya mengenalnya sejak tahun 1993.

Selama itu saya tidak pernah dapat uang satu sen pun dari dia.

Apalagi modal.

Bisnis? tidak pernah dia ajak saya dalam bisnisnya. 

Kalau ketemu dia di restoran, saya selalu bayar makannya.

Saya teringat nasehat papa saya, hormati orang kaya karena dia induk semang kamu yang akan menuntun kamu ke mata air. 

Jangan pernah berharap dia dengan mudah akan percaya kamu.

Tugas kamu harus sabar, dan ikhlas. Itu hanya mungkin kamu lakukan karena Tuhan.

Karenanya tidak perlu kecewa bila perbuatan baik tak berbuah baik,

Semua akan ada proses. Benarlah. Tahun 2013 saya kena kasus di Hong Kong dan Eropa.

Rekening reserved holding company di bank di block. Holding terancam bangkrut.

Saya harus dapatkan dana tunai segera. Mitra saya dari China berjanji akan bantu tapi tidak bisa segera. Para banker minta adakan rapat penyelesaian hutang, Saya panik. Stuck.

Saya sudah 3 malam tidak bisa tidur memikirkan solusi.


Semua sahabat terdekat bersedia membantu namun karena jumlahnya sangat besar, mereka tidak bisa mengumpulkan uang tunai dalam 72 jam.

Ditengah tekanan itu, pintu apartement saya diketuk.

Ketika pintu tersibak, Wajah tua itu menatap saya dengan keras. “ Ada apa kamu? lihat wajah kamu pucat. “ Katanya. Saya ceritakan masalah saya.

Tanpa banyak bertanya, dia langsung telp seseorang “ Saya butuh USD 1,3 miliar. Pastikan besok sudah ada. ya Jual semua portfolio saya. Berapapun harga saya tidak peduli. “

Dia menatap saya. Saya bengong.

Dia pun melangkah kearah pintu apartement “ Pastikan dalam sebulan kembalikan uang saya. Rapikan diri kamu, Saya tunggu di Marriot hotel, Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan kamu. “ Katanya seraya menghilang dari balik pintu.

Saat itu saya berasa berjalan diatas awan. Tak lebih sebulan saya kembalikan uangnya.

Saya semakin sadar bahwa setiap orang punya cara menghargai orang lain. 

Sikap yang kadang arogan, bukan berarti dia tidak mencintai kita. Sikap acuh bukan berarti dia tidak menghargai kita. Yang pasti , perbuatan baik adalah perbuatan baik, tak penting apakah akan berbalas atau tidak. Ikhlas sajalah. Selagi anda bersikap seperti Itu maka spiritual anda tidak pernah bangkrut.

Harta bisa habis, Bisnis bisa hancur. Tetapi selagi spiritual anda tidak pernah bangkrut maka uang akan selalu ada, dan anda akan selalu kaya.

Itulah intangible asset yang nilainya tak terbatas, karena sumbernya adalah mental kita, menyenangkan orang lain dan selalu memberi. Pada saatnya pasti akan indah..



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)