Facebook

Friday, 26 January 2018

Nothings Free COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Tidak ada yang gratis

Saya punya teman orang asing di tahun 1990an yang kebetulan punya bisnis di Indonesia.

Dia sering datang ke Indonesia. Namun antara saya dengan dia tidak ada bisnis.

Kami hanya bersahabat saja. Dalam satu kunjungan agak lama di Indonesia , saya dapat kabar dari dia bahwa dia di tangkap oleh pihak imigrasi.

Saya segera meluncur ke Kalideres Tahanan Imigrasi dimana dia di tahan.

Menurutnya dia kena tipu oleh relasinya di Indonesia. Uang nya di rampok dan passport nya di curi.

Dia berusaha menemukan relasinya dan lapor ke polisi tapi tidak ada kelanjutannya.

Akhirnya dia kena over stay. Dia minta tolong agar saya mengurus Passpor nya di kedutaan negaranya.

Segera saya urus. Setelah passport saya dapat, saya mendampinginya berjuang menanti proses pengadilan dan deportasi.

Selama dia di tahan, setiap hari saya menjenguknya di penjara.

Saya katakan ke istri bahwa teman saya itu seorang diri di sini. Dia tidak punya uang.

Dia sudah bercerai dengan istrinya. Saya sedang berusaha menghubungi kedua anaknya.

Dan lagi dia dizolimi orang. Setiap hari saya bawa makan siang untuk dia di Penjara.

Kalau saya sibuk, istri saya membantu saya membawa makan untuk dia. Begitu seterusnya sampai akhirnya tiga bulan dalam tahanan dia bisa bebas.

Saya antar dia ke bandara ketika di deportasi oleh imigrasi.

Dia sempat menangis sambil memeluk saya, begitu caranya mengungkapkan rasa terimakasihnya.

Saya bersyukur saya bisa mengirimnya pulang. Agamanya kristen.
Orang asing, namun dia sahabat saya.

Setelah itu saya masih terus berkomunikasi via email. Saya tahu dia sedang berusaha membangun kembali usahanya. Saya juga katakan bahwa indonesia sedang krisis moneter sehingga peluang bisnis agak sulit. Dia maklumi. Dia menyarankan ke saya agar hijrah dari Indonesia.

Cari peluang bisnis di luar negeri itu lebih baik daripada stuck di Indonesia.

Tahun 2000 saya lost contact dengan dia. Kami disconnect sama sekali. Walau begitu kenangan tentang dia selalu ada. Saya mengikuti sarannya hijrah ke Hong kong. Kadang saya mendoakan yang terbaik untuk dia. Tahun 2006, saya sedang terjepit masalah di Hong kong.

Karena pemerintah Hong Kong menghentikan semua bisnis saya.

Saya pun tidak boleh meninggalkan Hong kong sampai kasus saya selesai.

Itu juga karena fitnah seseorang.


Di satu pagi saya terkejut karena ada telp ke kamar hotel dari seseorang yang tak mungkin saya lupa suara khasnya. Saya segera berlari ke lantai loby untuk menemuinya.

Dia memeluk saya dengan erat. Dia datang khusus untuk saya. Dia dapat kabar tentang saya dari seorang banker relasinya di New York. Hanya dua hari setelah kedatangannya di Hong kong dia bisa menyelesaikan masalah saya.

Ternyata dia telah sukses pemain private equity. Kantor nya di NY , London, Swiss.

Dia juga mengelola tambang di Afrika , Papua New Guinea dan Mexico. Dia bermitra dengan investment banker world class. Setelah itu dia kenalkan saya dengan mitranya.

Walau saya menolak namun dia berkeras. Alasannya agar saya dapat financial resource untuk mengembangkan bisnis saya.

***

Tahun 2013, Mitra-nya menyerang saya untuk melakukan hostile atas business batubara kami di Mongolia. Saya berusaha memaklumi posisi nya yang sudah kenalkan saya dengan mitranya.

Setelah saya berhasil keluar dari jebakan hostile itu, mereka kembali menyerang saya dengan tuduhan money laundry dan insider trading. Saya tahu ini tuduhan yang lahir dari konspirasi hebat, yang bisa membuat saya habis. Terkubur tak berbekas. Saya harus hadapi sampai pada batas kemampuan saya sebagai manusia.

Saya kembali ke Jakarta karena harus mundur dari holding agar saya bisa focus menyelesaikan kasus.

Suatu hari dia datang ke Jakarta untuk menemui saya. Dia sengaja ajak saya makan ketupat kegemaran saya di Jatinegara. Dengan tersenyum dia memeluk saya ketika sampai ditempat itu.

Dia bicara panjang lebar bernostalgia tentang masa lalu dia di Jakarta.

Tapi selama pembicaraan itu saya tidak pernah menyinggung kasus yang saya hadapi, yang di sebabkan ulah mitranya. Ketika kembali ke Hotelnya, dia hanya bicara sedikit kepada saya “ Bro, maafkan saya. Karena saya tidak bisa bantu kamu. “ Air matanya nampak berlinang.

Saya menepuk bahunya, “ Its ok, It's just business. Nothing serious. Me and You, will not change anything because of this case. I will face as usual.”

Tahun 2017 bulan maret saya bisa selesaikan kasus saya.

Tak terasa 3 tahun proses pengadilan itu seakan waktu terpanjang dalam hidup saya.

Melelahkan dan ongkosnya mahal sekali. Pengadilan Hong kong dan Zurik menyatakan saya tidak bersalah, dan memberi peluang saya untuk menuntut balik.

Dia datang bersama mitra globalnya ke Jakarta.

Waktu pertemuan itu saya di dampingi Lawyer saya. Dengan tenang saya katakan bahwa saya tidak akan menuntut balik. Saya hanya ingin melupakan yang telah lalu. Mereka terkejut.

Karena mereka tahu kemampuan saya untuk bertarung. Kalau saya bisa bertahan dan menang, maka tentu tidak sulit bagi saya menyerang balik untuk jadi pemenang.

Mereka menjabat saya dengan hangat dan sekarang kami menjadi sahabat tak terpisahkan.

Kalau sampai seseorang berkorban untukmu dan berbuat d luar akal, maka itu dia lakukan dengan hatinya. Dia berbuat karena cinta. Tuhan mengirim seseorang untuk mu dan akhirnya menjadi tongkatmu tidaklah gratis. Akan ada proses sampai akhirnya kamu dan dia tak terpisahkan. 

Ketika Tuhan memberimu sahabat, pada waktu bersamaan juga Tuhan memintamu berkorban untuk dia. Hadapi sahabat atau orang terdekat mu dengan sabar dan ikhlas sampai akhirnya kamu tidak berharap apapun dari dia kecuali inginkan yang terbaik untuk dia.

Maka setelah itu tunggulah .Tangan Tuhan akan bekerja memberikan reward.

Selalu indah pada akhirnya..

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)