Facebook

Sunday, 21 January 2018

Bisnis Ke Luar Pulau COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Tahun 1980an saya bangkrut.

Saya pun gunakan tenaga yang ada berdagang antar pulau.

Target saya adalah pulau terluar yang tidak ada komunikasi dengan dunia luar.

Kalau bisa pulau itu engga kenal uang.

Sebelum berangkat saya sudah punya rencana apa saja komoditas yang menjadi target saya.

Jadi dengan menyewa KLM ( Kapal Layar Mesin), saya berlayar ke target setelah dapat informasi dari ABK tentang potensi pulau itu.

Waktu berangkat, saya membawa kebutuhan pokok yang akan dibarter dengan komoditas dari penduduk pulau.

Seperti Kopi bubuk, gula, garam, dan beras. Hampir pulau terluar pernah saya kunjungi.

Tadinya saya sewa, akhirnya saya bisa punya sendiri dan menakhodai sendiri kapal itu.

Sebetulnya inilah cara saya fundrasing untuk memulai business lagi.

Untungnya sangat besar.

Saya beli lola ( keong ukuran besar ) 3 kwintal di pulau terluar Enggano.

Itu saya tukar dengan 10 kg gula pasir dan 2 kg Kopi bubuk ,dan Rokok Djambu satu pak.

Tahu berapa saya jual lola itu sekilo ? Rp. 7.500  jadi 3 kwintal seharga Rp. 22 juta. 

Belum lagi komoditas lain seperti damar mata kucing , rumput laut, batu apung.

Suatu hari, ketika kapal memasuki teluk Jakarta, setelah berlayar dari Pulau Pagai,

Saya serahkan kemudi kepada ABK, untuk siap siap ganti pakaian.

Karena sebentar lagi akan ada pedagang China yang akan datang ke kapal untuk meriksa muatan kapal dan transaksi di lakukan diatas kapal.

Ketika itu jam 2 pagi.

Terdengar suara keras dari lambung kapal, Saya sempat terhuyung.

Segera saya naik keanjungan. Mesin kapal kehilangan daya dorong.

Saya sadar kapal duduk diatas batu karang. Saya menghela nafas.

Segera saya perintahkan kepada ABK untuk segera lompat ke laut.

Karena sebentar lagi kapal akan pecah dihantam gelombang.

Itu akan berbahaya kalau kami masih di dalam kapal.

Saya memasukan surat kapal kedalam dompet yang melekat dengan ikat pinggang dan Wesel ( bank draft ) sebesar Rp. 50 juta.


Terasa dingin menusuk ketika menyentuh air laut.

Tak berapa lama, kami bisa menjauh dari kapal, dan menyaksikan kapal pecah.

Kami menggunakan pecahan kapal untuk bertahan di laut.

Namun saya mulai kawatir karena terasa arus menyeret kami ke tengah laut.

Benarlah, nampak teluk jakarta semakin menjauh dan akhirnya tak nampak lagi.

Kami berempat bersedekap dengan sebilah papan mengapung ditengah laut.

Pagi datang menuju senja dan malam kembali datang.

Kami terus terapung. Untuk bertahan hidup, kami makan dari sampah laut seperti rumput atau apa saja. Kalau hujan kami menengadahkan kepala keatas untuk minum.

Saya tidak tahu berapa lama kami di laut terapung apung.

Salah satu ABK nampak sudah makan jempolnya sendiri.

Saat itulah saya kehilangan harapan. Saya merasa maut sudah sangat dekat.

Apalagi berkali kali ABK terlepas dari pagutannya dipapan.

Saya berusaha menariknya kembali ke papan dengan memaksanya sadar.

Ketika sampai pada puncak kehilangan harapan dan kekuatan, saya berdoa atau tepatnya berbicara kepada Tuhan, “ Tuhan, aku berniat akan mengirim ibuku ke Makkah. Beri kesempatanku untuk berbakti kepada ibuku, Ya Tuhan. Kalau niat dan tekadku untuk berbakti kepada Ibuku adalah kebaikan di sisiMu, selamatkan kami ya Tuhan. “

Entah mengapa, tak berapa lama, ketika itu matahari baru saja tergelincir menuju malam, nampak cahaya putih tak begitu jauh dari kami.

Kapal besar mendekati kami.

Terasa gelombang menghentak kami sehingga kami terlepas satu sama lain dari pagutan pada papan.

Tapi ada cahaya kearah kami.

Tak berapa lama, nampak sekoci di turunkan.

Satu satu kami di naikan kedalam sekoci.

Ketika sampai di deck kapal itu, saya langsung tidak sadarkan diri.

Saya perhatikan ruangan semua serba putih.

Ada salip Yesus. Saya bingung. Mengapa saya ada diruangan ini.

Tak berapa lama, datang suster berbaju serba putih

“ Kamu di RS Charitas palembang. Kamu tidak siuman 8 hari. Saya akan panggil dokter. “ Katanya.

“ Mana ABK saya ?“

“ Teman kamu sudah keluar dari rumah sakit. Mereka semua sehat. Hanya dua hari di rumah sakit. “

Saya kembali ke Jakarta. Semua hasil yang saya peroleh dari bisnis ini habis,

Untunglah saya tidak ada hutang apapun, karena kapal saya beli dari laba yang saya kumpulkan.

Beberapa tahun kemudian saya berhasil mengirim ibu saya ke makkah.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)