Facebook

Friday, 22 December 2017

Studi Kasus COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)




Ada Holding company yang membawahi 6 perusahaan dan 36 penguasaan saham Proyek.

Perusahan ini punya hutang di bank, katakanlah 50% dari total asset ( book value ).

Jadi engga mungkin lagi layak dapat pinjaman dari bank. Perusahaan bergerak dibidang Property dan industri material building.

Pemegang saham mayoritas mau melepas sahamnya secara tertutup.

Catatan tambahan atas Perusahan itu adalah posisi credit udah call 4. Artinya udah engga bisa lagi bayar bunga dan cicilan. Jumlah karyawan tetap dan honorer mencapai 3000 orang.

Nah pertanyaannya adalah bagaimana meng akuisisinya tanpa keluar uang. Hanya memanfaatkan skema pembiayaan ? Jawaban sederhana aja.

Nanti biar babo jelaskan detailnya. Yang bisa jawab, babo akan hadiahi buku priciple of financial engineering.



JAWABAN BABO ATAS STUDI KASUS.

Sebelum babo menjawab study kasus yang kemarin babo lempar ke forum DDB, maka kita harus mengetahui secara pasti persoalan mendasar yang ada.

Karena tanpa mengetahui secara pasti , akan menyulitkan kita mendapatkan solusi keuangan. Pengetahuan ini berkaitan dengan aspek credit rating dari perusahaan dan dasar bank mengambil keputusan memberikan kredit. Baiklah , babo jelaskan,

Pertama, Posisi perusahaan tidak memungkinkan lagi mendapatkan solusi dari pihak perbankan.

Walau debt to equity Ratio nya sudah 50% dan belum insolven namun secara cash flow tidak sehat lagi. Mengapa bank tidak mau memberikan solusi padahal jumlah assetnya diatas hutang bank?

Bank bukan lembaga pegadaian, yang memberi hutang karena alasan collateral saja.

Tapi lebih dari itu bank harus memperhatikan fungsinya sebagai intermediasi menciptakan pertumbuhan ekonomi nasional,

Karenanya kesehatan bisnis nasabah sangat penting bagi bank. Nah kesehatan bisnis itu diukur dari cash flow.

Kedua, Cash Flow yang positip mencerminkan business process yang sehat.

Artinya menagement bekerja dengan efektif dari sejak billl tagihan pengeluaran sampai dengan invoice tagihan pemasukan. Kalau cash flow negatif ,dan Perusahaan sampai gagal membayar hutang dan bunga itu karena management gagal mengangkat nilai dari perusahaan yang didalamnya ada modal dan manusia, termasuk culture.

Bisnisnya sendiri tidak salah. Tapi yang salah adalah management. Makanya bank tidak lagi menaruh kepercayaan kepada management. Pintu solusi tertutup. Apalagi para rekanan juga sudah tidak percaya.

Ketiga, Seluruh asset perusahaan tentu di kuasai bank sebagai collateral. 

Bank tidak akan menyetujui solusi apapun bila solusi itu ingin menguasai collateral kecuali masalah hutang dan resiko bank diselesaikan.

Jadi masalahnya sederhana bayar atau collateral akan dilelang kalau sampai dinyatakan default. Dan ini sedang berproses menuju default.

Keempat, perusahaan yang tidak sehat mencerminkan sistem rekrutmen juga engga sehat. Maklum management itu berkaitan dengan manusia. Jadi hampir engga mungkin SDM punya passion sebagai solution provider.

Karenanya mengharapkan karyawan sebagai penyelemat perusahaan itu harus di lupakan. Itu akan buang waktu saja.

Nah bagaimana solusinya kalau kita ingin melakukan akuisisi ?

Pertama, Anda harus melakukan kajian mendalam atas rencana pengambil alihan itu. Kajian itu bukan hanya dalam bentuk data dan informasi resmi dari pihak perusahaan tapi juga lakukan investigasi secara luas.

Contoh anda harus lakukan secara diam diam mewawancarai karyawan perusahana itu dari tingkat bawah sampai menengah. Umumnya mereka jujur. Anda juga harus lakukan diam diam bertemu dengan banker secara informal untuk mengetahui hal yang mendasar mengapa perusahaan gagal bayar hutang. Umumnya banker akan terbuka. Anda juga harus menemui para rekanan perusahaan itu untuk mendapat informasi tentang perusahaan itu.

Atas dasar itu , anda bisa menyusun rencana bisnis yang baik, tentu harus lebih hebat dibandingkan rencana yang sudah ada pada perusahaan itu. Kalau sama aja itu artinya bego.

Kunci dalam akuisisi adalah pastikan posisi penjual lemah dan anda mendapatkan harga murah dan cara pembayaran yang flexible. Dan ini sangat tergantung dari seni negosiasi dan intuisi anda dalam business.

Artinya anda harus tampil sebagai malaikat tapi berhati Srigala.

Pastikan bahwa anda tidak akan keluar uang sebesar harga penjualan itu tapi uang berasal dari institusi. Karenanya sangat penting sekali kekuatan ada pada anda.

Kedua, anda harus buat perjanjian dengan pemilik perusahaan bahwa anda akan mengambi alih perusahaannya, bukan hanya asset nya.

Dengan perjanjian seperti ini maka memungkinkan sumber daya keuangan terbuka dihadapan institusi keuangan. Karena anda tidak bicara asset milik pribadi tapi milik perusahaan.

Tapi dalam negosiasi selalu pihak penjual berpatokan dengan asset harga pasar. 

Engga usah didengar. Itu dia sedang menjual ilusi kepada anda. Yang pasti secara hakekat dia bukan pemilik asset tapi bank. Kalau dia gagal bayar, asset itu akan di lelang dan yang melakukan adalah bank, bukan dia.

Agar perjanjian itu punya nilai dihadapan hukum dan dipercaya sebagai paper work maka perjanjian itu harus menyertakan uang muka. Ingat tidak ada perjanjian yang mengikat atas jual beli tanpa uang muka.

Ketiga, berdasarkan perjanjian pengambil-alihan itu, anda mendatangi bank kreditur. Anda harus menampilkan diri sebagai risk taker atas resiko yang ada pada bank.

Walau anda orang hebat, bank tidak akan terima solusi karena reputasi.

Pakem bank sederhana saja, ini masalah resiko, dan resiko hanya bisa di cover dengan pembayaran.

Pembayaran tidak selalu harus uang kontan. Jaminan keuangan ( Financial guarantee ) dari bank lain juga sama dengan uang kontan. Ingat juga bahwa kreditur bank itu selalu menempatkan NPL atas pinjaman nasabah sebagai solusi terakhir.

Jadi kalau anda datang dengan solusi yang bisa mengcover resikonya dan dengan rencana bisnis yang bagus tentu bank akan mendukungnya.

Nah ajukan kepada bank bahwa resiko kredit macet dalam bentuk collateral asset itu di SWAP dengan Non Cash Loan dalam bentuk LC dari bank lain.

Dan anda akan dapatkan colateral dalam bentuk asset dari bank.

Berapa lama jangka waktu LC itu tergantung negosiasi dengan bank.

Bagi bank itu tidak penting asalkan jaminan itu juga menyertakan bunga yang harus dibayar.

Semakin lama tentu semakin besar LC nya.

Pertanyaannya adalah bagaimana anda dapatkan jaminan pembayaran dari bank lain dalam bentuk non cash loan?

Caranya sebagai berikut. Kembali anda harus pahami cara kerja lembaga keuangan.

Jangan datang ke bank kalau anda hanya punya janji asset sebagai collateral.

Tapi anda bisa datang ke Lembaga Trustee seperti asset management. Minta jasa mereka mengadakan collateral dalam bentuk Non Cash Loan. Tentu anda harus perlihatkan perjanjian anda dengan pihak penjual perusahaan.

Perlihatkan daftar asset berserta laporan dari lembaga appraisal untuk memastikan nilai asset itu.

Perlihatkan juga exit strategi anda atas bisnis ini bila seandainya bisnis plan anda gagal.

Contoh dengan cara mempreteli asset itu kepasar.

Apabila pihak trustee setuju maka mereka akan mengatur Penerbitan SBLC dari bank.

Tentu bank tidak akan menerbitkan SBLC tesebut bila tanpa ada jaminan. 

Umumnya pihak trustee akan meminta anda mengeluarkan Promisore note atau dalam bentuk senior bond. Dengan begitu anda harus membuat Special propose company agar resiko atas SBLC itu terhubung dengan single entity.

Keempat, setelah LC dikirim ke bank penerima maka asset berpindah kepada SPC anda.

Pada saat itu anda harus melakukan transfer right (balik nama) atas asset itu kepada SPC yang terikat perjanjian trustee agrement. 

Tentu anda harus membayar sisanya kepada pihak penjual.

Jangan bayar tunai tapi kembali gunakan dalam bentuk jaminan pembayaran berupa LC.

Kembali ajukan kepada Trustee tambahan pengadaan LC itu. Trustee akan senang karena asset sebagai colltateral real yang back up Bond anda sudah ditangan dia.

Nah gimana kalau pihak penjuan butuh tunai bukan LC , katakan bahwa anda bisa bantu jadikan LC itu tunai asalkan dia bersedia diskon. Umumnya mereka mau.

Kelima, lantas gimana selanjutnya untuk pengembangan bisnis?

Kan butuh modal lagi. Engga usah kawatir. Anda bisa lakukan right issue terhadap SPC untuk menjual saham kepada investor terbatas (karena belum IPO jadi engga boleh lepas saham ke publik ).

Di sini business plan anda sangat menentukan sekali. Jangan ajukan pelepasan saham dengan harga progessive tapi konservatif. Anda harus punya mindset bahwa cara berpikir investor harus dijadikan sandaran.

Artinya harga saham maksimum 1,5 X dari total asset.

Mengapa ? 

agar yield dan oportunity tinggi dan resiko rendah dan tentu investor happy karena itu.

Kelak setelah business plan terpenuhi maka anda bisa IPO untuk membayar commitment kepada trustee melunasi LC tersebut dan investor akan dapat capital gain.

Nah selanjutnya perusahaan akan terstruktur bukan hanya anda sebagai pemilik tapi juga ada investor. Bukan hanya anda dan investor yang mengawasi tapi juga ada perbankan dan trustee.

Atas dasar itu management harus sehat dan terpelajar. Bahwa misi anda harus memastikan commitment kepada semua pihak terlaksana terlebih dahulu, bukannya memperkaya diri lebih dulu.

Selagi mindset itu dipegang maka semua akan berjalan sesuai dengan rencana.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)