Facebook

Friday, 22 December 2017

Pengalaman di Tahan Barang oleh Bea Cukai oleh Terry Susanto



Kepada yang terhormat Ibu Sri Mulyani.

Saya mau protest soal peraturan ibu di bea cukai, yang mengakibatkan koper saya ditahan belanja.
Jadi pada saat akhir September 2017, saya pulang dari Jepang. Saya disana beli action figure untuk koleksi saya pribadi.




Saya membawa mainan ini 2 koper dan total belanja saya sekitar 12 juta rupiah. Waktu sebelum pergi saya sudah tau FOB yang kena bebas pajak adalah 250 USD, dan max belanja adalah 1500 USD.

Ketika turun dari pesawat, barang saya ditahan oleh bea cukai. Saya sudah menunjukan bon, dan NPWP saya. Karena dari video dan berita-2 yang beredar bon belanja harus disimpan.

Namun petugas bea cukai menahan koper saya karena harus SNI. Disini saya sudah jelaskan ke petugas barang SNI itu untuk mainan 14 tahun kebawah. Di mainan saya ada tertulis untuk 15 tahun ke atas, tidak cocok untuk 0-3 tahun karena bisa menyebabkan tersedak (tentu saja dalam bahasa Jepang).

Creative common image by TS

Petugas pajak tidak mau tau dia bilang "karena peraturannya gitu". Iah saya serius dia ngomong "peraturan gitu", tidak jelas yang mana pokoknya gitu. Alhasil koper saya disegel oleh petugas bea cukai. Disana saya dijelaskan "Bapa tinggal ke kantor lalu nanti wawancara, lalu jelaskan barang ini untuk dijual atau untuk koleksi pribadi, nanti barang langsung keluar".

Lalu saya bertanya kantornya dimana?

Dia memberikan amplop ini datang ke kementrian keuangan. Karena hari itu sudah jam 5, jadi ya sudah saya akhirnya menginap di Jakarta.

Note : 2 koper saya ditahan semua isiinya termasuk baju kotor, dsb.

Besok pagi-2nya saya ke kantor keuangan membawa surat pengantar dari bea cukai, oleh petugas resepsionis dibawah, mereka juga bingung kenapa ke sini ?

Lalu dibantu petugas dia tanya sana sini, akhirnya diketahui saya harus ke kementrian perdagangan.

Datang ke kementrian perdagangan saya dijelaskan, bapa harus bikin surat permohonan pengecualian barang dagangan, lalu cantumkan ayat "mentri perdanganan no 87 tahun 2015 pasal 19 point f". 

Saya bilang dimana ada warnet untuk saya mengetik ini ?

Lalu kata petugas itu diperempatan depan KFC disana ada warnet.

Saya menyebarang, warnet sudah tidak ada. Akhirnya tanya-2 ada yang bilang naek ojek saja ke menara BCA. Disana ada warnet. Akhirnya saya naek ojek kesana, selesai mengetik dan print saya bawa lagi mentri perdagangan.

Setelah diserahkan saya disuruh menggu 14 hari.

Dengan kesal, ya sudah saya pulang ke Bandung.

Setelah menunggu 14 hari, akhirnya surat selesai.

Saya cuti dari kantor dan datang ke sana, begitu saya terima surat.

Tulisannya ditolak karena tidak ada airway bill.

Saya sangat terkejut, saya sudah jelaskan disurat permohonan ini adalah barang bawaan penumpang.

Kenapa ditanya airway bill???

Setelah tanya-tanya, saya disuruh ke bagian import.

Waktu itu saya datang jam 10 pagi hari Jumat, saya menunggu hingga jam 15:00 an, akhirnya bertemu dengan petugas, kemudian dijelaskan "Bapa ini salah pasal, dan harus mengajukan lagi"

Saya kaget "lah yang kasih ayat siapa, trus kenapa dibilang salah", saya khan tidak mengerti juga.

Dan waktu sudah menunjukan jam 16:00an, saya minta tolong ke petugas itu untuk pengertiannya tidak mungkin saya ke menara BCA dulu, nanti bisa-2 saya Senin harus ke Jakarta lagi dari Bandung.

untuk petugas itu mau mengerti, "Bapa tunggu dibawah nanti saya bantu buatkan suratnya". 

Saya mengiikuti sarannya kemudian saya ditelpon, surat sudah jadi, saya bawa ke TPP lagi.

Kemudian menunggu 14 hari lagi.

14 hari kemudian, surat saya keluar saya bawa ke bandara Soekarno hatta terminal 2, lalu dari sana diberitau."Oh ini ke terminal kargo, emang bapa tidak tau ?" , saya jawab "tidak, malah dari awal saya disuru ke mentri keuangan". 

Saya naik takxi ke sana. Di sana setelah ke ruangan sebelah gudang, diterima oleh petugas lalu dibilang "Oh sudah lengkap, tapi ini karena lagi sibuk belum bisa dihitung pajaknya."

Saya disuruh kembali lagi 14 hari kerja, dan dikasih nomor HP TU nya.

Setiap hari saya bertanya ke petugas itu untuk permohonan surat saya gimana, namun tidak ada jawaban.

Setiap hari saya bertanya terus ke no HP itu tapi dari 14 hari kerja bertanya ( 3 minggu kurang 1 hari). Cuma pernah dijawab 2x "ia masih proses"

Setelah 14 hari kerja, saya penasaran akhirnya ke Jakarta lagi.

Waktu datang saya diping-pong-pingpong

"Bapa ke gedung A", di gedung A. Oh ia tunggu disini ambil antrian.

Tunggu 1 jam antrian, petugasnya bingung "Lah ini apa? Kenapa ke sini?". 

Petugas itu bingung dan tanya-tanya ke yang lain, akhirnya diberitau oh ini langsung ke TPP.

Di TPP, saya mengambill surat lalu tulisannya "DITOLAK karena harus ada SNI". 

Saya kesal kenapa ngga ada yang kasih tau ini perlu SNI ??

Akhirnya saya ke mentri perindustrian.

Disana saya diberitahu "Oh bapa harus bikin surat permohonan". 

Saya disana minta tolong dibantu karena saya kesulitan cari warnet,

Setelah surat dibantu dibuatkan, saya antar suratnya ke TU.

Dsisana diberitahu "Oh pimpinannya lagi rapat di Bandung", nanti selasa lagi bapa bisa ke sini.

Kemudian saya diberi no telp kantor TU.

Hari senin saya bertanya tentang surat permohonan,

lalu dijawab "Oh pimpinanya lagi cuti sampai jumat. Coba minggu depan". 

Minggu depannya hari Kamis, akhirnya surat selesai ditanda tangan,

kemudian hari Jumatnya saya ke Jakarta lagi dari Bandung.

Akhirnya surat keluar, lalu saya bawa ke bea cukai.

Akhirnya juga koper saya bisa keluar setelah proses pingpong pingpong sana sini....

Total koper saya ditahan itu dari 26 Sep - 27 Nov. 2 bulan saya dipingpong.

Total pajak 6 juta. 

Sedangakan biaya yang diperlukan untuk perjalanan travel Bandung ke Jakarta sekitar 7 juta.

Biaya travel lebih mahal dari pajak saya.

Akhir cerita

OK saya mengaku, saya salah karena belanja berlebihan hingga mau disangka dagang.

Tapi saya tidak suka dipingpong-pingpong seperti ini.

Saya ini dari awal berpikir "Oh ya dah, saya mau jujur ikutin aturan". 

Dari petugas bandara malah suruh ke mentri keuangan.

Dari sana dipingpong ke mentri perdaganan 1 bulan. 2x ngajuin surat gara-gara yang pertama salah ayat, padahal siapa coba yang kasih ayat.

Yang .paling kesal petugas bea cukai lagih, yang di TU.

Susah amat sie ditanya ini surat sudah beres atau belum ?

Lalu disuruh menunggu 14 hari kerja (3 Minggu). dah gitu malah ditolak, disuruh ke mentri perindustrian untuk pengecualian SNI, nunggu lagi 14 hari.

Saya ini jadi kaya petugas pos, datang ke jakarta antar surat antar kantor pemerintah, lalu pulang ke Bandung.

Yang saya ingin protest :

1. Tolong ibu bikin peraturan yang jelas. Tolong jelaskan barang segimana yang boleh, mana yang tidak ?

2. Tolong petugas itu samakan suara, Ibu bilang perturannya adalah A B C. Yang bawah ngertinya Z, setiap mengurus baru ngomong A , datang lagi B, datang lagi C.

3. Saya yang bepikir "oh ya sudah saya mau mengikuti aturan", malah jadi kecewa!

mendingan waktu dulu jaman suap-2an tinggal saya bayar sekian juta. Sudah selesai tidak usah buang waktu tenaga , dan beban pikiran juga takut ilang juga.



Harapan saya :

Kalau saya kelebihan belanja, ya sudah saya bayar saja kelebihan pajaknya. Jangan ditahan koper saya, btw

Lalu ada yang lucu juga sie, dari peraturan mentri perdagangan disana ditulis, mainan yang beredar untuk dagang wajib SNI.

Sedangkan saya waktu ke mentri perdagangan dan mentri perindustrian sudah membuat pernyataan kalau ini tidak untuk diperdangankan.

Jadi mestinya surat dari mentri perdagangan saja cukup, tidak perlu bikin pengecualian SNI.

Karena bukan barang dagang. Tapi dari mentri perindustrian dapat surat pengecualan SNI.

Lalu oleh oleh bea cukai, pajak saya tidak dikurangin 250 USD juga.

Dianggap barang dagang. Lucu ya jadi saya disuruh bikin surat yang saling kontradiksi, lalu diapprove lagi.

Sekali lagi .. Tolong jangan tahan-tahan barang di Bea Cukai, tolong kalau kelebihan belanja...

Ya sudah bayar pajak saja, jangan tahan koper...

Terima Kasih


Q&A


Budita Ariya Peraturannya sudah jelas, tapi birokrasi di bawah yang masih tidak mengikuti.
Kalau mengalami kejadian seperti diatas, jangan sungkan tanya nama orang dan jabatan yang menjawab. Bila perlu buat keterangan bahwa dia jawab seperti itu dibawah meterai.

Frenky Wong Point number 2 juga ada benernya juga. Pingpong gak jelas karena beda2 aturan antara dept yg satu dgn yg lain. Untung skrg ga kuar sepeser pun pelicin ya.

Muhammad Haryadi

1. Seharusnya sih tidak perlu SNI mas bro karena tertera jelas mainan itu untuk umur 14 tahun kebawah

2. Untuk pembebasan $250 itu hanya untuk barang pribadi, memang disini ada sedikit kerancuan dalam penetapan mana barang dagangan dan barang pribadi, tapi kedepannya sih akan ada aturan yang menjelaskan secara khusus mengenai permasalahan tersebut

3. Kesimpulannya berdasarkan cerita mas bro diatas seharusnya memang cukup bayar pajak saja sih tidak sampai barang ditahan

Markistiandi Syawal Fadhilah Salut sama ente, stok sabarnya gede banget... Semoga bu Sri Mulyani baca yak. Biar dia sadar masih banyak oknum bawahannya yang ndak beres.

Ongaku Senshi Emosi bgt bacanya.. Lucunya lagi kenapa seluruh koper smp k pakaian kotor juga d tahan.. Idih, 2 bln jadi apaan itu pakaian kotor.. Bea cukai jahat bgt.. Jahat bgt.. Jahat bgt..

Halim Tony Eddy saya pernah alamin hal yg hampir sama dengan bro Terry tapi barang saya barang kiriman dan nilai nya dibawah $100. Saya memang sudah sering masukin barang via pos.

Suatu hari barang saya masuk dan dipanggil buat ke kantor sesampai disana orang bea cukai minta SNI karena masuk kategori mainan dan jumlahnya ada 9pcs.

Di peraturan mentri perdagangan kategori mainan itu yang buat anak2 di bawah umur 14 tahun sedangkan mainan saya ini pembelinya rata2 di atas umur 20 tahun semua. Jadi ada semacem area abu2 antara mainan anak2 dan mainan koleksi

Bea Cukai beralasan kalau mereka cm menjalankan peraturan titipan dari kementeran perdangan saja, secara pribadi bahkan staff bea cukai mengatakan mereka akan release barang karena mereka tahu mainan gini bukan buat anak2 14 tahun tapi peraturan mentri perdangan tidak jelas,

Sebagai masukan dari saya sebagai padagang kecil2an tolong peraturan mentri perdangan dan keuangan diperjelas untuk barang kiriman yang dibatasi dan dilarang itu kriteria seperti apa?
Misal jumlah tidak lebih dari 10pcs
Dalam 1 bulan tidak boleh masukin lebih dari 50pcs

Nah saya rasa kalau ada aturan seperti in sama2 enak petugas bea cukai kerjanya pasti dan masyarakat gak dirugikan harus bolak balik kantor bea cukai

Saya juga masih ada uneg2 banyak soal pelayanan bea cukai utamanya di Pasar Baru saya cerita next time saja

Ib Wisnu Wardhana Pakkk itu baru maenan!!!! Lahh alat kesehatan yg penting buat masyarakat di kasi pajak barang mewah pakkkk!!!! Gimana ga mahal dan terbelakang pemeriksaan kesehatan kita?!

Halim Tony Eddy haha iyah strip gua darah gak bole masuk kasian yang kena diabet harus bayar mahal tiap kali mau cek

Agung Haskara Tolong lapor di lapor.go.id - Semoga di follow up dengan kebijakan baru

Alexander Marpaung Yah dari dulu itu begitu petugas di airport. Koleksi dvd saya saja pernah sebulan ditahan sama bea cukai, sebelum mereka akhirnya nyerah karena saya sounding ke asosiasi dan di baca para pejabatnya.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)