Facebook

Friday, 3 November 2017

Teknis Akuisisi COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)




Saya engga tahu mengapa saya harus posting tulisan ini.

Tapi sebagai pembelajaran tidak mengapa. Mungkin banyak anggota DDB bertanya kepada saya, mengapa saya memahami banyak hal terutama berkaitan dengan MIGAS, Freeport, Reklamasi , lain lain termasuk Ekonomi makro dan hukum.

Sebetulnya dengan jujur saya bukan ahli soal itu semua. Latar belakang pendidikan saya tidak memenuhi syarat untuk bicara hal yang rumit itu.

Tapi karena kebetulan sekali apabila ada tawaran atau peluang bisnis untuk ambil bagian dalam bisnis akusisi maka sudah menjadi kebiasaan saya untuk memahami segala hal tentang bisnis yang akan saya akuisisi itu.

Hal yang menjadi perhatian saya adalah mengenai aspek Legal. Ini harus saya pahami.

Disamping masukan dari ahli hukum, saya juga melakukan desk riset sendiri tentang aspek legal ini.

Kajian aspek legal ini bukan hanya soal izin tapi juga aspek politik jangka pendek dan panjang terhadap kebijakan proyek tersebut.

Apa yang terjadi? 

Secara praktis saya dipaksa memahami aspek legal. Bahkan pemahaman saya harus lebih baik dari orang lain atau team management saya. Karena resiko mengambil keputusan ada pada saya.

Standar moral pengusaha dimana saja adalah patuh hukum.

Kemudian, apabila aspek legal sudah saya kuasai maka saya akan masuk aspek Teknis dan Pasar.

Ini juga sama. Dasar dan referensi saya adalah konsultan berkatagori AAA.

Tapi tidak otomatis saya percaya. Sayapun melakukan desk riset dan riset melalui jaringan bisnis saya untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan atas bisnis itu dari segi teknis dan pasar.

Apabila pemahaman aspek pasar dan tekhnis telah saya kuasai maka barulah saya akan membuat beragam skenario apa yang akan saya lakukan kalau berniat akuisisi.

Ini berkaitan dengan business model. Karena kalau akuisisi tidak ada perubahan terhadap business model maka tidak akan ada bank atau lembaga keuangan yang akan mendukung saya membiayai akuisisi itu.

Artinya pemahaman saya soal teknis dan pasar harus lebih luas di bandingkan orang lain.

Mengapa ? 

Resiko semua kembali kepada saya kalau saya salah mengambil keputusan.

Terakhir, saya akan mendalami aspek keuangan dari bisnis yang akan di akuisisi. 

Saya harus membaca Neraca yang dibuat oleh akuntan perusahaan.

Semua teknis analisis keuangan yang berkaitan dengan rasio analis harus saya kuasai dengan baik.

Saya juga harus membaca data makro pemerintah untuk memastikan bisnis yang akan diakusisi itu sudah sesuai dengan kebijakan makro pemerintah.

Saya juga melakukan wawancara ( secara tidak langsung ) dengan ekonom dari kalangan kampus dan pemerintah untuk mempertajam analisa saya.

Dari pendalaman analisa aspek keuangan ini maka saya akan membuat skenario ( Financial engineering ) cara menarik dana dari luar untuk proses akuisisi ini.

Mengapa ? 

Karena sumber dana saya adalah institusi dan private yang sangat ahli soal resiko keuangan dan mereka umumnya didukung staf dengan skor prestasi terbaik.

Jadi saya harus yakinkan mereka bahwa mendukung saya akan aman dari resiko.

Jadi kalau saya bisa mengetahui banyak hal itu bukan karena latar belakang pendidikan saya tapi hanya karena proses bisnis yang memaksa saya harus mengetahui hal detail sebelum mengambil keputusan.

Pemahaman tentang bisnis secara luas diawal juga sangat membantu saya mengawasi jalannya perusahaan ketika di kelola oleh para professional.

Mereka tidak bisa kadali saya karena saya bukan kambing tapi hiu bermulut gergaji. 

Seharusnya, bukan hanya dalam bisnis, juga dalam kehidupan lain juga sama.

Entah jadi pemimpin organisasi sosial, pemerintah, keluarga, setiap pemimpin harus menguasai hal secara detaill dan teknis.

Mengapa ? 

Karena anda harus memotivasi orang yang membantu anda mencapai tujuan dan mengawasinya.

Tanpa pengetahuan luas maka anda hanya akan jadi monyet di atas panggung.

Pahamkan sayang


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)