Facebook

Saturday, 7 October 2017

Suprapto Santoso Indonesian Premium Shrimp Crackers



PT United Harvest Indonesia (UHI) merupakan salah satu perusahaan ‘langka’. Pasalnya, di saat perusahaan Indonesia lainnya megap-megap lantaran serbuan produk China di Indonesia, UHI malah tengah bergembira lantaran sukses mendaratkan produknya kerupuk udang Papatonk, di puluhan ribu gerai toko di China.

Makanan yang nama merek berarti capung dalam bahasa sunda itu pun kini tersebar di puluhan ribu toko di China. Penjualannya diklaim tembus puluhan juta bungkus per tahun. “Sebenarnya kami sudah mulai bisnis ini dan dieskpor ke China itu pada tahun 2009. Kemudian 2012 kami lahirkan produk namanya Papatonk, kategori kerupuk udang. Produknya memang kami buat khusus untuk pasar China,” jelas Suprapto Santoso, General Manager UHI yang berkantor pusat di Jl. Raya Srengseng No. 8 K-L, Jakarta Barat.

Creative Common Image by SWA

Menariknya, meski di negeri orang, ternyata kemasan Papatonk yang berwarna dasar hitam itu menonjolkan citra ke-Indonesia-an yang sangat kuat, yakni bergambar berbagai destinasi wisata unggulan Indonesia.

Produk camilan yang diberi titel Indonesian Premium Shrimp Crackers itu mengusung jurus tersebut dengan dua kepentingan. Pertama menunjukkan identitas merek Papatonk yang berasal dari Indonesia, Kedua, memperkenalkan destinasi wisata Indonesia ke pasar China.

Suprapto sendiri memaparkan, pihaknya sempat jatuh bangun sebelum akhirnya menemukan formula bisnis yang pas dalam menggarap pasar China.

Kegagalan awal itu tak lepas dari pandangan umum yang menganggap China akan menyerap begitu saja berbagai produk lantaran pasarnya yang sangat besar.

UHI pun kemudian mengetahui, dengan cara yang pahit, bahwa anggapan tersebut keliru. “Akhirnya kami mengerucut, kami harus cari yang unik. Sebagai orang Indonesia bahwa kita harus menjual produk yang memiliki dasar yang kuat di Indonesia,” tegas Suprapto.

Pencarian tersebut bermuara pada kerupuk udang. Ya, camilan murah meriah yang lekat dengan tradisi makan di Indonesia tersebut dianggap berprospek besar di China.

Sebabnya, bahan baku utamanya yakni udang, sangat berlimpah di Indonesia. Jadilah UHI merilis Papatonk, merek kerupuk udang yang saat ini telah memiliki banyak turunan seperti keripik singkong, ubi dan pisang.

Demi memperkuat citra ke-Indonesia-annya, maka Papatonk pun menonjolkan citra Indonesia,yakni gambar destinasi wisata unggulan seperti Candi Borobudur, Pulau Bali, dan spot menyelam yang keren, Raja Ampat. “Di setiap packaging, kami bercerita misalnya mengenai Borobudur, Raja Ampat dan lainnya,” urai Suprapto.

Keunggulan citra Indonesia itu pun diperkuat oleh tim UHI dengan armada pemasaran yang ditugaskan khusus menggarap pasar China. UHI mempekerjakan tak kurang dari 50 karyawan di China untuk menggarap pemasaran, penjualan, distribusi serta memantau langsung kondisi persaingan pasar.

Dedikasi sepenuh hati dan modal inilah yang menurut Suprapto membedakan perusahaannya dengan pesaing. Hasilnya tak sia-sia, produk Papatonk tersebar di 60 ribu supermarket di 30 propinsi China dan merambah pemasaran online seperti di Alibaba dan JD.id.

Penjualannya pun sukses besar hingga saat ini mencapai 25 juta bungkus per tahun. “Kami masih tergolong baby, pertumbuhan kami masih besar. Tahun ini tumbuh 25%, dari 20 juta sampai 25 juta pieces ,” papar Suprapto.

Strategi pemasaran yang menonjolkan citra pariwisata Indonesia itu ternyata membawa keberuntungan lainnya. Papatonk belakangan ditunjuk sebagai Snack Ambassador Resmi Pariwisata Indonesia.

Puncaknya, Papatonk memperoleh penghargaan Primaduta yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo saat pembukaan Resmi Trade Expo Indonesia (TXI) ke-31 tahun 2016 di JIExpo, Jakarta, di bulan Oktober tahun lalu.

Kisah di baliknya, dalam satu kesempatan tim UHI bersua dengan tim dari Kementerian Pariwisata.

Dengan keunggulan Papatonk yang konsisten mengusung destinasi Indonesia, maka Kemenpar menggandeng UHI untuk melakukan co-branding Wonderful Indonesia pada kemasan kerupuk udang tersebut. “Dari situlah kami banyak bekerja sama dan kembangkan di marketing promosinya melalui online dan offline,” jelas Suprapto.

Di antaranya program undian berhadiah jalan-jalan ke Bali. Program ini pun memiliki misi meningkatkan pariwisata Indonesia. Pemikirannya, seorang pemenang undian tidak akan berwisata ke Bali sendiri jika terpilih, melainkan mengajak keluarganya. “Jadi satu pemenang itu bisa menghasilkan 5-6 wisatawan lainnya, jadi nangkep satu bisa dapat 6, hehehe,” urai Suprapto.

Keunggulan lainnya, dengan mencantumkan logo Wonderful Indonesia dalam kemasannya, mitra distribusi UHI pun lebih mempercayai Papatonk. Selain itu, Papatonk mendapat porsi promosi dalam setiap kegiatan Kemenpar. “Saya mau beritahu pasar di China bahwa ini budaya kami, kuliner kami, produk kami dan ini destinasi kami. Jadi semua sejalan, selaras dengan misi pemerintah,” jelas Suprapto.


Melalui konsep diplomasi kuliner itu, Papatonk selalu dijadikan sebagai suvenir tanda terima kasih di berbagai acara Kemenpar. Dengan demikian, menurut Suprapto, tercipta sinergi untuk memperkenalkan pariwisata Indonesia sekaligus produk Papatonk. “Promosi yang kami lakukan, baik online dan offline juga selaras dengan mengusung tema Wonderful Indonesia. Dan ini kami lakukan sudah lebih dari satu tahun,” ujar Suprapto.

Kementerian Pariwisata pun menurut Suprapto diuntungkan dengan kerja sama ini. Pasalnya, produk Papatonk yang tersebar di 60 ribu supermarket di 30 propinsi di China dan bahkan di dunia maya, dilihat jutaan pasang mata warga China saban hari.

Hal ini menurut Suprapto lebih efektif ketimbang promosi konvensional dari mal ke mal di China yang berbiaya mahal dan hanya mampu menjangkau ribuan orang saja.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)