Facebook

Saturday, 7 October 2017

Potensi Investasi di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi



PT Star Energy, perusahaan terafilisasi PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang dikendalikan oleh taipan nasional Prajogo Pangestu, kini mentahbiskan diri sebagai perusahaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) terbesar di Tanah Air mengalahkan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Apalagi, sejak Jumat (31/3) pekan lalu, Konsorsium Star Energy sah menjadi pemilik tiga aset PLTP Chevron Corp di Indonesia dan Filipina setelah menuntaskan pembelian aset Chevron senilai total US$ 2,3 miliar atau setara Rp 31,05 triliun (kurs Rp 13.500 per dolar AS).

Konsorsium Star Energy untuk pembelian PLTP yang dikelola Chevron terdiri atas Star Energy Group Holdings, Star Energy Geothermal, AC Energy (Ayala Group) Filipina, dan EGCO dari Thailand. Grup Star Energy memiliki sekitar 68,31% saham konsorsium, AC Energy menguasai 19,3%, dan EGCO memiliki 11,89%. Konsorsium Star Energy dan Chevron meneken share sale and purchease agreement PLTP di Indoensia dan Filipina pada 22 Desember 2016.

Manajemen Chevron dalam siaran persnya menyatakan, Chevron menuntaskan perjanjian jual beli PLTP di Filipina dan Indonesia dengan Konsorsium Star Energy pada 31 Maret dan dimasukkan ke dalam kinerja perusahaan pada kuartal I 2017. Sementara untuk penjualan aset panas bumi Chevron di Filipina paling lambat tuntas pada akhir 2017.

Jay Johnson, Executive Vice President, Upstream, Chevron Corporation, mengatakan Chevron melepas aset-aset panas bumi yang dikuasainya di Indonesia dan Filipina ke Konsorsium Star Energy.

Pelepasan aset ditandai dengan penandatanganan perjanjian jual beli aset antara kedua perusahaan.

Menurut dia, aset-aset panas bumi Chevron menghasilkan energi yang andal untuk mendukung kebutuhan ekonomi Asia Pasifik yang berkembang.

“Penjualan ini sejalan dengan strategi untuk memaksimalkan nilai bisnis hulu global kami melalui pengelolaan portofolio yang efektif,” kata Johnson dalam keterangan tertulisnya.

Tiga aset PLTP Chevron yang dijual kepada konsorsium Star energy adalah PLTP Gunung Salak di Bogor, Jawa Barat berkapasitas 370 megawatt (MW) dan PLTP Derajat di Kabupaten Garut, Jawa Barat berkapasitas 240 MW.

Sementara objek transaksi di Filipina adalah pengambilalihan 40% saham aset panas bumi Tiwi-MakBan berkapasitas 326 MW. Dengan demikian, total kapasitas PLTP dalam jual beli ini mencapai 740 MW.

PLTP Gunung Salak

Star Energy saat ini mengoperasikan PLTP Wayang Windu I-III di Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Total kapasitas terpasang ketiga unit pembangkit tersebut sebesar 287 MW.

Pasca pembelian aset Chevron di Darajat dan Gunung Salak, total kapasitas listrik panas bumi yang dikelola Star Energy sebesar 897 MW. Dengan demikian, Star Energy bukan hanya pengelola atau operator PLTP terbesar di Tanah Air, juga salah satu yang terbesar di bawah Calpine Corp, Amerika Serikat dengan 945 MW.

Akuisisi Star Energy

Paralel dengan konsorsium Star Energy yang mengakuisisi PLTP Chevron di Indonesia dan Filipina, Barito Pacific juga mengakuisisi Star Energy. Henky Susanto, Direktur Barito Pacific, mengtakan pada 21 Maret 2017, Barito Pacific menandatangani supplemental memorandum of understanding dengan Star Energy Investment Ltd dan SE Holdings Limited terkait rencana akuisisi sebagian besar saham dalam Star Energy Group Holdings Pte Ltd.

“Rencana akuisisi ini bergantung pada dipenuhinya persyaratan-persyaratan pendahuluan yang akan dituangkan dalam perjanjian jual beli bersyarat atau conditional sale and purchase agreement [CSPA], antara lain due diligence atas Star Energy Group Holdings Pte Ltd.,” kata Henky dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, Kamis pekan lalu.

Menurut Henky, rencana akuisisi tersebut merupakan transaksi afiliasi karena perseroan, Star Energy Investment Ltd dan SE Holdings Limited dikendalikan oleh pihak yang sama yakni Prajogo Pangestu. 

Dengan demikian, perseroan bakal memiliki porsi mayoritas saham usai memperoleh pinjaman sindikasi perbankan senilai US$300 juta yang digunakan untuk membeli sebagian besar saham Star Energy Group Holding Pte Ltd.

Dalam salinan akta notaris tentang Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Barito Pacific Tbk pada 3 Februari 2017, sebanyak 98,83% pemegang saham BRPT sepakat untuk menjaminkan saham perseroan di PT Chandra Asri Petrochemicals Tbk. 

Berdasarkan dokumen tersebut, manajemen Barito menyatakan bahwa perseroan tengah melakukan negosiasi untuk mendapatkan pinjaman dari sindikasi bank dengan jumlah pinjaman mencapai US$300 juta untuk uang muka atas rencana akuisisi sebagian besar saham Star Energy Group Holding Pte Ltd yang dimiliki Star Energy Investment Ltd. dan Star Energy Holdings Limited.

Pada 20 Desember 2016, perseroan telah meneken MoU dengan Star Energy Investment Ltd. dan Star Energy Holdings Limited terkait rencana akuisisi tersebut.

Barito Pacific juga telah memberikan deposit sebesar US$60 juta yang dananya berasal dari pinjaman Bangkok Bank Public Company Limited. Pinjaman tersebut merupakan bagian dari total rencana pinjaman sebanyak-banyaknya US$300 juta.

Kiprah Star Energy dalam bisnis energi terbarukan, khususnya energi listrik dari tenaga panas bumi (geothermal), sudah memasuki usia dua windu.

Sejak tahun 2000 perusahaan yang tergabung dalam grup bisnis milik pengusaha Prajogo Pangestu ini memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Wayang Windu dengan kapasitas terpasang 227 MW.



Langkah terbarunya yang strategis adalah mengakuisisi aset PLTPB milik Chevron di Indonesia dan Filipina. Namun, untuk aksi bisnis ini, Star Energy tidak sendirian, melainkan melalui Konsorsium Star Energy, yang terdiri dari Star Energy Group Holdings, Star Energy Geothermal, AC Energy (terafiliasi dengan Ayala Group Filipina) dan EGCO (Thailand).

Yang pasti, melalui akuisisi tersebut, Star Energy akan mendapat tambahan kapasitas dari dua proyek panas bumi Chevron di Indonesia, yaitu di Salak dan Derajat, dengan kapasitas 648 MW, plus tambahan kapasitas dari aset panas bumi Chevron di Filipina sebesar 277 MW. Dengan begitu, total energi panas bumi yang dioperasikan Star Energy menjadi 1.152 MW, sehingga menjadikannya sebagai operator PLTPB terbesar di dunia.

Creative Common Image by SWA
Lalu, bagaimana sebenarnya target jangka panjang Star Energy?

Wartawan SWA Kemal Effendi Gani dan Yosa Maulana berkesempatan mewawancarai Preskom PT Barito Pacific Tbk. Prajogo Pangestu, selaku pemilik Star Energy.

Mengapa Anda tertarik masuk ke usaha energi terbarukan, khususnya geothermal? 

Dan bagaimana pengalaman Anda selama ini?

Menurut saya, energi terbarukan ini penting. Green, clean, dan tidak merusak lingkungan.

Dan potensinya sangat besar. Menurut Bank Dunia, potensi geothermal di Indonesia sekitar 29,000 MW. 

Kita sudah mengetahui hal ini sejak 70 tahun lalu. Dan selama 70 tahun, yang digarap baru 1.400 MW. 

Kalau dibandingkan potensinya, artinya baru sekitar 5% yang digarap. Berarti 95% masih berupa potensi.

Nah, ini mesti ada perhatian lebih khusus.

Sebab, potensi ini bersembunyi di kaki-kaki gunung tinggi.

Contohnya yang kami punya, Wayang Windu, berada 1.800 meter di atas permukaan laut.

Cuacanya 18-20 derajat celcius kalau malam. Untuk menempatkan dan memindahkan alat-alat berat, misalnya untuk drilling, infrastrukturnya kan belum ada. Jadi mesti membuat infrastruktur jalan dan jembatan supaya alat-alat berat itu bisa ke atas dan ke bawah gunung. Pinggangnya gunung itu bisa 100 meter dalamnya. Itu jurang. Jadi mahal bangun infrastukturnya.

Dan, kalau sudah dapat, juga belum tentu bisa tepat. 

Kalau ternyata (panas buminya) kering, ya berarti dana US$ 10 juta sia-sia saja. Itu diluar pengangkutan alat-alat berat tadi. Risikonya memang tinggi sekali.


Tapi setelah lubang yang potensial ditemukan, kan berikutnya lebih mudah? 

Kalau sudah dapat, uap panas itu kan bisa inclining. Dalam satu tahun bisa berkurang 10%. Kalau ada orang bilang itu bisa untuk seumur hidup kalau sudah ketemu lubangya, itu enggak betul.

Jadi kalau kita misalnya punya 227 MW, tiap tahun turun 10%, jadi sekitar 23 MW steam hilang.

Rata-rata penurunannya 8, 10 atau 12% per tahun.

Jadi kita harus cari lagi, yang berada 1500 sampai 2000 m di bawah permukaan tanah.

Tiap tahun kita harus drilling, supaya produksinya tetap bisa eksis di 227 MW.

Kalau enggak ya lama-lama juga habis steam-nya. 8-10 tahun bisa habis.


Masih ada 95% lagi potensi yang belum digarap. Apakah Anda tertarik untuk ekspansi lagi?

Ya, kami kan mencari terus. Tetapi, Indonesia kan besar, dari Sabang sampai Merauke.

Contohnya, di Halmahera ada potensi 1.000 MW.

Namun, di situ tidak ada pemakainya. Kalau kita cari datanya di PLN, mungkin di daerah itu hanya perlu 40 MW saja.

Itu sudah cukup untuk satu Halmahera. Jadi, kami mesti cari user-nya siapa. 

Karenanya, biasanya kami cari tempat yang banyak pemakainya, misalnya ada industri.

Atau contoh lain, Ternate atau Nusa Tenggara Timur, kebutuhannya hanya 5-10 MW.

Ini sayang sebetulnya, punya potensi besar dan bisa digarap lebih mudah, tetapi pemakainya tidak banyak.

Kalau begitu kondisinya, lantas bagaimana rencana pengembangan bisnis ini ke depan?

Mana yang mau diprioritaskan dalam waktu dekat?

Ke depan, kami masih berputar di Sumatera dan Jawa. Wayang Windu akan kami ekspansikan.

Ini kan ada unit 1 dan 2. Masih ada lagi unit 3 dan 4 yang akan digarap.

Kalau itu semua dikembangkan, totalnya bisa sampai 400MW.

Di Sumatera kami sudah mulai mencoba, tapi medannya nggak gampang. Medannya berat.

Lalu, apa visi jangka panjang Star Energy?

Visi jangka panjang Star Energy di bidang panas bumi adalah memperkuat kapabilitas dan kapasitas nasional dalam bidang energi, khususnya energi ramah lingkungan, sebagai salah satu penghasil listrik berbasis panas bumi terbesar di dunia.

Ada rencana menggarap sumber daya lain, misalnya tenaga angin atau air?

Ada sih. Kami sedang pelajari juga energi yang berasal dari solar (panas matahari).

Yang berbasis air juga sedang kami pelajari. Soalnya, yang ada di sini juga relatif tidak bisa terlalu besar, hanya 8 sampai 12 MW. Dan prinsipnya, harus ada penggunanya juga. Istilahnya “ada gula, ada semut”.





No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)