Facebook

Tuesday, 17 October 2017

Pengusaha asal Palembang Setiawan Ichlas




Nama Setiawan Ichlas mendadak populer pasca memiliki 13,27% saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI). Apalagi, setelah PADI menyatakan bakal mengakuisisi 51% saham Bank Muamalat.

Lahir dan besar di Palembang, Setiawan Ichlas terlahir dari keluarga sederhana. Lahir pada 10 April 1977, pria yang akrab disapa Iwan ini menyebut dirinya terjun ke dunia bisnis untuk pertama kalinya sejak masih duduk di bangku sekolah.

Dalam bisnis, Iwan menyebut dirinya tidak punya kerabat pengusaha. Seluruh usahanya, dimulai dari nol, pun tanpa bimbingan ayah kandungnya yang meninggal dunia saat usianya masih 16 tahun.

Saat berbincang dengan KONTAN di bilangan SCBD, Sudirman, Kamis (12/10), Iwan berkisah dirinya sangat tertarik berbisnis di sektor riil. Beberapa bisnis yang digarap Iwan antara lain, transportasi atau jasa, perkebunan, trading, pertambangan batubara, belakangan jasa keuangan.

Tidak berhenti di situ, dalam gurita bisnisnya Iwan juga memiliki sejumlah pelabuhan yang tersebar di Indonesia. Antara lain di Palembang, Lampung serta Kalimantan.

Khalayak kemudian baru mengenal namanya, pasca dia memiliki 13,27% saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) awal Agustus 2017 lalu. Ia membeli saham PADI di harga Rp 350 per saham, alias bermodal Rp 525 miliar.

Akhir pekan lalu, harga saham PADI sudah Rp 1.410. Dus, potensi keuntungan Iwan sudah mencapai Rp 1,56 triliun.

Bukan kali ini saja, Iwan pernah terlibat dalam pembelian saham dalam jumlah besar. Asal tahu saja, pria yang kini baru berusia 40 tahun itu pernah menjadi pemegang saham mayoritas PT Bank Pundi Indonesia Tbk (BEKS) yang sekarang telah berganti nama menjadi PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BPD Banten).

Iwan sempat menguasai mayoritas saham Bank Pundi setelah membelinya dari Grup Recapital.

Seiring berjalannya waktu, saham itu dia lepas kepada Pemprov Banten, hingga akhirnya menyisakan sekitar 20% hingga saat ini. Namun nama Iwan tak terlihat dalam struktur kepemilikan saham, karena saham itu dia sebar ke sejumlah kerabat.

Secara singkat, Iwan menyebut strategi bisnisnya dengan mengambil alih perusahaan bermasalah. Hal ini yang dilakukannya kala membeli Bank Pundi yang terpuruk karena biaya operasional dan pendapatan operasional (BOPO) serta kredit bermasalah (NPL) yang tinggi.

Hal yang sama, kini akan dia lakukan terhadap Bank Muamalat Indonesia. Dengan menggandeng sejumlah lembaga keuangan, seperti dana pensiun dan international sovereign fund, Iwan akan menginjeksi dana senilai Rp 4,5 triliun ke Bank Muamalat di bawah bendera Minna Padi.



Ia akan masuk dengan menjadi pembeli siaga rencana penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue Bank Muamalat. Kelak, Minna Padi akan menguasai minimal 51% saham Bank Muamalat.

Iwan lantas akan memberikan 2,5% saham Muamalat kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan 1%-1,5% ke Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Ketua Umum MUI, Ma'ruf Amin menyambut kalau Iwan akan memberikan 2,5% saham Bank Muamalat ke MUI. "Dulu, kami pernah rutin mendapatkan dividen, namun berhenti setelah investor dari Arab datang ke Bank Muamalat," tutur Ma'ruf, kepada KONTAN, Minggu (15/10).

Rencana PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) untuk menjadi pemegang saham PT Bank Muamalat Indonesia Tbk hampir mencapai babak akhir.

Sampai saat ini, Minna Padi dan Muamalat sudah mengumumkan akan melakukan perjanjian pengambilalihan saham bersyarat. Nantinya, Minna Padi akan menjadi pembeli siaga dalam aksi penerbitan saham Bank Muamalat dengan skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Sebelumnya, beredar kabar masuknya Minna Padi juga mengikutsertakan nama Setiawan Ichlas, pemilik 13,27% saham PADI per akhir September lalu.

Dalam wawancaranya bersama Kontan.co.id, Kamis (12/10) di Jakarta, pria yang kerap disapa Iwan ini mengungkap pihaknya berencana memiliki saham mayoritas Bank Muamalat.

Melalui rights issue, Minna Padi berencana memiliki kepemilikan saham Bank Muamalat mencapai 51% dengan nilai sebesar Rp 4,5 triliun.

Menurut Iwan, jika seluruh proses pengambilalihan saham rampung, pihaknya akan memberikan saham sebesar 2,5% kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan sebesar 1,5% kepada Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

"Saya komitmen setelah saya ambil hak saya (di Bank Muamalat) saya akan serahkan 2,5% ke MUI dan 1,5% ke ICMI, sebagai salah satu pendiri awal Bank Muamalat di tahun 1992 dulu," ujarnya.

Alasannya, MUI bisa dibilang menjadi salah satu lembaga yang diakui pemerintah untuk mewakili umat muslim di Indonesia.

Sementara itu, Head of Strategic and Corporate Planning Minna Padi, Harry Danardojo mengungkapkan untuk proses injeksi modal ke Bank Muamalat pihaknya juga akan menggandeng beberapa lembaga keuangan.

Kendati belum dapat mengungkapkan secara detail, Hari menyebut lembaga keuangan tersebut dapat berupa Dana Pensiun atau melalui International Sovereign Fund.

"Strukturnya, Pak Iwan akan melakukan penjualan sahamnya kepada lembaga keuangan, nantinya uang yang diterima dijadikan setoran pemegang saham untuk kemudian disuntik ke Bank Muamalat dengan total Rp 4,5 triliun," kata Harry.

Harry juga mengungkap salah satu nama yang akan menduduki posisi sebagai salah satu pemegang saham di Minna Padi yakni Ilham Habibie.

Asal tahu saja, Ilham Habibie sempat menduduki posisi sebagai Ketua Presidiem ICMI periode 2010-2015. Beliau juga merupakan anak ketiga dari mantan Presiden Republik Indonesia ketiga B.J Habibie.

Lebih lanjut, Minna Padi menyebut secara aturan proses pengambilalihan saham Bank Muamalat akan rampung di Desember 2017.

"Paling telat harusnya kita bisa dapat di bulan Desember, efektifnya kami bisa siapkan dalam tempo 2 minggu. Mungkin di pertengahan atau awal Januari 2018 selesai," tuturnya.

Rencana PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) menjadi pembeli siaga dalam aksi penerbitan saham baru dengan Hak Membeli Efek Terlebih Dahulu (HMETD) PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, kian melambungkan harga sahamnya. Hingga penutupan perdagangan Rabu (4/10), harga saham PADI bertengger di level 1.600 per saham, alias naik 370,59% sejak harganya mulai bergerak liar pada 20 Juli 2017 di posisi Rp 340 per saham.

Hal tersebut tentu membuat sumringah pemegang saham PADI, tak terkecuali Setiawan Ichlas. Berita KONTAN sebelumnya menyebutkan, Setiawan membeli total 1,5 miliar saham PADI Agustus lalu seharga Rp 350 per saham. Artinya, total dana yang dikeluarkan Investor yang beralamat di Jl. R.H.A. Rozak Komp. Villa Evergreen F-16 No.12 ini berjumlah Rp 525 miliar.

Taruh kata Setiawan menjual seluruh (13,27%) saham PADI miliknya pada harga penutupan Rabu di level Rp 1.600 per saham, maka duit segar yang bakal diterimanya mencapai Rp 2,4 triliun. Bila dikurangi harga perolehan saham PADI sebesar Rp 525 miliar, artinya Setiawan bakal mengantongi keuntungan Rp 1,9 triliun dari aksi investasinya dua bulan lalu.

Bila tidak aral melintang, akhir tahun nanti PT Bank Muamalat Indonesia Tbk akan kedatangan investor baru, yakni PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI). PADI menawarkan dana Rp 4,5 triliun sebagai pembeli siaga rencana penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue Bank Muamalat.

Dengan dana sebesar itu, PADI akan menguasai 51% saham Bank Muamalat. Menurut riset PT Bahana Sekuritas tertanggal 6 Oktober 2017, yang ditulis Henry Wibowo, Alvin Baramuli dan Ryan Hansel Jackdy, disebutkan dengan asumsi memiliki 51% saham maka price to book value (PBV) Bank Muamalat ada di level 2,34 kali. Asumsi itu dengan tolak ukur kinerja Semester I-2017 yang memiliki nilai buku Rp 3,76 triliun.

Namun bila ternyata PADI mampu menguasai 65%-80% saham Bank Muamalat, maka PBV bank syariah tertua di Indonesia ini berada di kisaran 1,5 kali hingga 1,8 kali.

Menurut riset Bahana, saham perbankan di Indonesia kini ditransaksikan di atas PBV 2 kali, dengan memakai proyeksi kinerja 1 tahun ke depan.

Rasio pembiayaan bermasalah  (NPF gross) Bank Muamalat memang menunjukkan tren penurunan, dari 6,6% di akhir 2014, menjadi 3,8% pada akhir 2016.

Hingga kini, manajemen PADI belum bersedia mengungkap asal dana yang akan mereka pakai untuk melaksanakan niatnya. Yang jelas, baru tahun ini kinerja PADI melonjak drastis. Djoko Joelijanto, Direktur Utama PADI berharap akhir tahun ini akuisisi Bank Muamalat bisa tuntas.



“Muamalat ini milik kita, umat Islam di Indonesia. Masuknya Minna Padi sebagai investor jadi momentum yang mendorong Muamalat berkontribusi besar untuk kepentingan umat,” tutur Anggawira dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 8 Oktober 2017.

Bahkan, dalam keterangan itu, Angga pun menyebut rencana Minna Padi masuk menjadi pemegang saham Bank Muamalat akan didukung pengusaha asal Palembang Setiawan Ichlas. Lalu, siapa sebenarnya Setiawan Ichlas?

Kepada Bareksa, Angga bercerita bahwa dirinya mengenal Setiawan. “Dekat. Beliau adalah pengusaha pertambangan dan keuangan asal Palembang. Usia masih sekitar 40-an,” ujar Angga, Senin, 9 Oktober 2017.

Angga menambahkan, dirinya bersama Setiawan juga bergabung dalam Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Indonesia (Aspebindo).

Dengan kedekatan itu, Angga mengapresiasi langkah Setiawan yang akan membantu Minna Padi menjadi pemegang saham Bank Muamalat. “Ya memang Muamalat kesulitan likuiditas, dan harus disuntik,” katanya.

Bareksa belum berhasil menghubungi Setiawan untuk mengonfirmasi lebih lanjut.

Sebagai informasi, Bank Muamalat yang beraset Rp58,18 triliun ini memiliki nilai ekuitas Rp3,8 triliun per Agustus 2017. Pada periode sama, laba bersih Bank Muamalat mencapai Rp45,43 miliar atau naik tipis 3,2 persen dari periode sama tahun lalu Rp44,02 miliar.

Saham PADI

Seperti diketahui, sejak muncul kabar pertama mengenai rencana Minna Padi mengakuisisi Bank Muamalat, saham PADI terus menguat. Hingga Jumat, 6 Oktober 2017, saham PADI berada pada level Rp1.605 atau naik 237,18 persen jika dibandingkan posisi akhir tahun 2016 saat harganya masih berada pada level Rp476.

Adapun penguatan harga saham PADI mulai terjadi sejak menyentuh level terendah tahun ini pada 20 Juli 2017 saat harganya Rp340.



Adapun nama Setiawan Ichlas muncul menjadi pemegang saham PADI sejak 4 Agustus 2017. Saat itu, Setiawan memborong 1,25 miliar saham PADI atau setara dengan 11,05 persen pada harga Rp350 dengan nilai Rp437,5 miliar. Padahal, saat itu harga saham PADI di pasar regular sudah menyentuh level Rp985.

PT Bank Muamalat Tbk bakal kedatangan pemegang saham mayoritas baru yakni PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI). Keduanya telah menandatangani perjanjian bersyarat (Conditional Share Subscription Agreement) bahwa PADI akan menjadi pembeli siaga dalam proses right issue Bank Muamalat.

Aksi korporasi tersebut menorehkan cerita yang cukup menarik. Awalnya hanya berhembus isu tidak jelas bahwa PADI akan mengakuisisi Bank Muamalat. Manajemen PADI pun sempat membantahnya secara tegas.

Namun sepertinya pelaku pasar sudah mengetahui kebenaran isu tersebut sejak awal. Sebab saham PADI terus membumbung tinggi. Bayangkan saja dari Rp 340 di 20 Juli 2017 meningkat menjadi Rp 985 pada 1 Agustus 2017, atau meroket 198,7% dalam waktu hanya kurang dari 2 minggu.

Di tengah heboh-hebohnya saham PADI muncul nama Setiawan Ichlas. Dalam keterbukaan informasi pria tersebut memborong saham pagi sebanyak 1,48 miliar lembar saham di level Rp 350 per saham. Jika dihitung Setiawan mengeluarkan dana untuk memborong saham PADI sebanyak Rp 517 miliar.

Nah, sekarang saham PADI sudah bertengger di level Rp 1.600. Jika dihitung harga saat ini nilai investasi Setiawan di saham PADI sebesar Rp 2,37 triliun. Itu artinya Setiawan sudah memiliki keuntungan bersih sebanyak Rp 1,85 triliun. Lalu siapa sebenarnya Setiawan Ichlas?

PT Bank Muamalat Indonesia (Bank Muamalat) yang sudah lebih dua tahun dirundung penambahan modal akibat beban pembiayaan bermasalah akhirnya menemukan dewa penolong. Sang Dewa itu adalah PT Minna Padi Investama Sekuritas (PT Minna Padi). Dan, masyarakat pun bertanya-tanya siapa “Si Minna”?

Akhir minggu lalu, dimedsos (media sosial) ramai dibicarakan soal keterlibatan Lippo Grup ada dibalik PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk. Kabar keterlibatan Lippo Grup dibantah oleh Ma’ruf Amin yang ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam penjelasannya kepada TV One. Ma’ruf Amin, menjelaskan, yang membeli Bank Mualamat adalah pribumi asli pengusaha muda asal Palembang, namanya Setiawan Ichlas, demikian penjelasan Ma’ruf Amin.

Menurut data Infobank Institute, susunan pemegang saham PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk adalah Setiawan Ichlas (13,27%), melainkan Eveline Listjo Suputra (11,85%), Hendry Kurniawan Latief (0,23%), Wijaya Mulya, Komisaris (0,21%), Djoko Joelijanto, Direksi (0,1%), Trinita lesu, direksi (0,38%), dan publik (74,65%). Apakah porsi saham Setiawan Ichlas masih ada di saham publik? Ini yang masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut.

Mungkinkah secara keuangan PT Minna Padi Investama Sekutiras Tbk yang beraset Rp478 miliar membeli harga Muamalat Rp4,5 triliun?

Di pasar modal ada istilah katak “menelan” kerbau. 

Jadi mungkin saja, tentu tidak memakai uang sendiri. Menurut data InfoBank Institute, Non Performing Finance (NPF) gross (Bank Muamalat) sudah mendekati 5 persen dengan NPF Net 4,74 persen. Angka NPF itu dengan restu satu pilar. Jika menggunakan ketentuan 3 pilar seperti ketentuan OJK sekarang, dapat dipastikan NPF Muamalat lebih besar.

Jika demikian halnya, maka dibutuhkan dana segar lebih besar untuk membuat Bank Muamalat untuk ekspansi. Jumlah dana Rp4,5 triliun hanya untuk membersihkan angka NPF semata dan tanpa memperhitungkan kualitas pembiayaan yang ditahan atau “dipura-pura” kan lancar.

Perhitungan InfoBank Institute, dibutuhkan dana untuk disuntikan ke Bank Muamalat sebesar Rp8 triliun sampai Rp9 triliun. Jika seluruh kualitas kredit dibersihkan dari Buku Muamalat. Boleh jadi, masuknya PT Minna Padi Investama Sekuritas ke Muamalat tidak akan menggunakan uang perusahaan.

Alasannya, kas perusahaan atau alat likuid tidak sampai Rp250 miliar.

Bagaimana mungkin aset hanya Rp478 miliar bisa menelan Bank Muamalat?

PT Minna Padi boleh jadi diragukan kekuatan financialnya untuk membuat Muamalat lari kembali — apalagi bisnis utama Setiawan Ichlas sektor pertambangan yang lagi lunglai.

Infobank memastikan dana pembelian bukan dari PT Minna Padi Investama Sekuritas tbk.

Jika benar terjadi transaksi jual beli Bank Mualamat oleh PT Minna Padi yang ditanda tangani 25 September 2017 tentu memakai duit orang lain dan bukan duit perseroan.

Apakah PT Minna Padi semacam calo atau broker yang mencarikan pembeli atau hanya menggoreng sahamnya yang sekarang sudah naik lebih dari 3 kali?

Semua sudah mengetahui, untuk mengembalikan otot-otot Muamalat membutuhkan dana yang besar, dan banyak yang meragukan isi kantong PT Minna Padi Investana Sekuritas Tbk.

Kalau pun PT Minna Padi yang membeli, apakah ketentuan maksimal 30 persen membeli saham bank juga akan ditabrak.

Soal batas maksimal kepemilikan saham bank untuk perusahaan keuangan bisa saja ditabrak jika menggunakan alasan penyelamatan atau penyehatan.

Sudah saatnya pelemik pembelian saham Bank Muamalat diakhiri, karena makin dibicarakan makin kering kantong dana Muamalat karena nasabah akan memilih tempat yang aman dulu.

Banyak yang ingin Bank Muamalat terus punya kontribusi terhadap kemandirian umat dan bukan sebagai alat politik — bahwa syariah adalah sebuah sistem yang tetap menggunakan pendekatan bisnis yang sudah pasti ada untung dan buntung.

Siapa sesungguhnya pembeli Muamalat?

Masih perlu waktu yang lama, paling tidak RUPSLB akhir Oktober atau November mendatang. Uang sendiri atau uang orang lain atau justru batal.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)