Facebook

Thursday, 19 October 2017

Krisis Hutang BUMN COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)




Waktu ketemu dengan teman teman di Ritz , ada diskusi yang menarik, Karena kebetulan ketika itu ada beberapa direktur BUMN dan Pengusaha bergerak dibidang insfrastruktur dan player private equity. 

Apa yang menarik itu ? 

Pertama, adalah kondisi Debt Equity Ratio ( DER) BUMN yang mendapat penugasan dari Jokowi membangun infrastruktur sudah diatas pagu yang tak mungkin menarik pinjaman lagi dari Bank.

Kedua, BPJS mengalami defisit tidak kecil. Kedua hal ini mengarah kepada posisi APBN dan membuyarkan konsentrasi pengelolaan kehati hatian fiskal.

Lantas bagaimana solusi sebenarnya? 

Mengapa perlu ada solusi cepat ?

Karena Jokowi tidak akan menghentikan programnya pembangunan insfrastruktur.

Ini soal politik sesuai dengan agenda Nawacita. Semua nampak terdiam. Saling menatap.

Saya katakan bahwa ini biasa sajalalah dalam business.

Mengapa bisnis?

Yang kita bahas sekarang inikan insfrastruktur yang engga ada kaitannya dengan APBN.

Ini murni B to B. Ada cuan disini.

Soal uang yang kering karena resource bank tertutup itu tapi bukan berarti stuck.

Karena bukan hanya bank satu satunya resource.

Masih banyak sumber pendanaan.

Bahkan kalau dilihat dari data potensi dana dalam negeri dan reserved cash pengusaha di luar negeri yang tercatat oleh Tax Amnesti sangatlah tidak ada artinya dibandingkan dengan kebutuhan dana pembangunan insfrastruktur.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana direktur BUMN melakukan diversifikasi sumber pembiayaan proyek.

Apalagi menteri keuangan dan OJK telah memberikan platform yang jelas untuk terbangunnya financial scheme. Itu saja.

Karena yang namanya dana selalu punya hukum mencari saluran yield yang tinggi. 

Dan Bisnis insfrastruktur di Indonesia masih tertingi IRR nya dibandingkan negara lain.

Jadi upaya sekuritasasi asset harus semakin di gencarkan, Harus lebih kreatif menentukan jenis sekuritisasi asset untuk mendapatkan beragam sumber pedanaan dalam dan luar negeri.

Lah di luar negeri aja bokong artis aja bisa di sekuritisasi kok , apalagi proyek infrastruktur yang telah jadi dibangun dan menghasilkan laba.

Saat sekarang berdasarkan data Global Asset Management 2016 , dana yang dalam pengelolaan dunia siap terbang sebesar USD 71,4 triliun. Dari sejumlah itu ASIA Timur Jauh (diluar jepang ) hanya menyerap sebesar USD 5,5 triliun.

Artinya masih besar sekali gap antara resource yang tersedia dengan yang belum terserap.

Jadi apa yang harus dilakukan pemerintah membuat uang mengalir ke pasar sekuritisasi asset itu ?
tanya teman.

Satu satunya cara adalah Dirut BUMN harus berkualifikasi fund manager yang punya wawasan financial engineering.

Dengan demikian indonesia akan jadi boutique investment khusus infrastruktur yang akan mengundang investor institusi masuk.

Jadi jelaskan. Kalau ada dirut BUMN yang engga mampu , ya pecat aja.

Lantas bagaimana dengan BPJS ? 

Saya terdiam, kemudian saya katakan bahwa dimanapun BPJS didunia itu selalu bilang rugi kalau mau naikan premi.

Sementara kalau untung , dana mereka banyak di parkir dalam kegiatan investasi di pasar uang dan pasar ekuitas.

Nanti cash flow ngadat, mereka akan buat lagi rekayasa akuntasi bahwa mereka rugi.

Jadi gimana solusinya ? kata teman lagi. 

Biarin aja. Itu dana murah bagi kita untuk membuat likuiditas pasar uang bergairah.

Tapi kan rakyat jadi menjerit kalau premi naik.

Ya seharusnya rakyat menjaga kesehatannya dengan baik agar tidak di panggang oleh asuransi semacam BPJS.

Emang ada Asurasni sosial rugi di dunia ini? 

Engga ada yang gratis …udahan ya .saya mau sholat maghrib.

Loh katanya mau ikut kita santai di Avanti ? kata teman lagi.

Saya hanya tersenyum.

Terlalu tua untuk bermanja diruang tertutup bersama wanita wanita engga jelas.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)