Facebook

Tuesday, 5 September 2017

Cerita Utang Bisnis Perikanan COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Ada teman saya bisnisnya sebagai pedagang ikan. Modal awalnya hanya USD 200.000. Dengan uang sebanyak itulah dia memulai bisnis. Ikan dibeli lewat juragan ikan. Posisinya hanya sebagai buying agent dari pembeli luar negeri. 

Artinya dia tidak mendapatkan margin dari penjualan itu tapi hanya komisi. 

Namun putaran modalnya bergerak cepat karena setiap stok ikan bertambah, langsung dibayar oleh buyer yang punya perwakilan di Indonesia. Setiap bulan dia bisa mengkapalkan dua kontainer ikan beku ke buyernya. Komisi dia terima setiap bulan USD 30.000. Hari demi hari dia lewati dengan kerja keras dan hidup hemat.

Dua tahun berlangsung , kalau tadinya coldstorage sewa, kini dia sudah punya sendiri.

Lima tahun kemudian, dia sudah punya pabrik pengolahan ikan berstandar bersertifikasi FDA (Food and Drug Administration) Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat

Sehingga dia bisa ekspor sendiri ke luar negeri. Dari keuntungan bisnis ikan itu dia kembangkan ke bisnis pengolahan rumput laut dengan membangun pabrik pengolahan carregenan di Cibinong.

Semua produknya di ekspor. Bukan itu saja dalam rangka mendekat buyer dan memudahkan proses pengepakan maka dia juga membangun pabrik pengolahan ikan di negara Buyer. Jadi pabriknya di Indonesia disamping ekspor barang jadi siap pasar , Juga mengolah barang setengah jadi yang butuh pengolahan lebih lanjut di negara pembeli.

10 tahun bisnis di gelutinya kini asset nya mencapai USD 50 juta atau Rp. 600 miliar.

Nah bagaimana bisa sehebat itu pertumbuhannya.?

Saya akan uraikan penyebabnya.

Tidak konsumtif

Setiap laba yang diperoleh tidak di gunakan untuk konsumsi tapi dikembalikan keperusahaan.

Setiap tahun sebagai agent dia dapat laba minimal USD 400.000.

Laba ini tidak digunakan untuk beli rumah mewah, kendaraan mewah, atau piknik keluar negeri atau makan di restoran mewah. Tidak. Tapi di gunakan untuk meningkat modal.

Sehingga ketika modalnya sudah diatas USD 500.000 dia berani lepas dari sistem margin dan bertindak langsung sebagai penjual kepada buyer.

Tentu buyernya senang. Karena dapat mitra sejajar. Dari itu laba semakin besar dan akumulasi laba menjadi modal yang terus meningkat.

Agar lebih meningkat, dia beli coldstorage sendiri sehingga bisa menghemat ongkos sewa.

Tapi dia tidak punya uang cukup untuk membangun.

Dia masih kurang 70% dari total biaya membangun coldstorage.

Kalau menanti uang cukup, dia akan kehilangan momentum mengembangkan bisnisnya.

Solusinya dia meminjam dari bank sebesar 70% dengan collateral coldstorage yang dia bangun senilai 100 % berserta asset lainnya.

Usahanya semakin berkembang, karena dengan adanya coldstorage dia juga punya pendapatan sampingan penyedia coldstorage bagi orang yang membutuhkan dan juga yang lebih penting dia semakin di percaya oleh buyer karena punya infrastruktur bisnis sendiri.

Karena usaha terus berkembang, dia tidak ingin hanya menjual ikan beku tapi dia ingin membangun sendiri pabrik pengolahan ikan agar bisa langsung masuk kepasar retail di luar negeri, tentu laba semakin besar. 

Karena dia tidak lagi menjual kepada buyer pabrikan tapi kepada grosir ikan yang punya akses kepasar retail.

Dengan itu laba terus meningkat. Dari laba meningkat ini kembali berhutang untuk membangun pabrik pengolahan rumput laut secara modern.

12 tahun lalu modal dia USD 200,000 tanpa ada utang sama sekali.

Tapi sekarang asset perusahaanya mencapai USD 50 juta atau Rp. 600 miliar tapi hutangnya Rp 150 miliar. Bila kelak asset nya tembus Rp 1 triliun maka hutangnya juga akan meningkat menjadi Rp. 300 miliar.

Orang awam akan bilang dia utang baru untuk bayar utang lama. Gali lobang tutub lobang. Padahal sebenarnya ketika dia bayar utang lama kemampuan-nya menarik hutang baru sudah diatas kemampuan yang lama. Itulah nilai dari adanya utang.

Nilai yang membuat orang semakin tumbuh karena waktu.

Semakin besar dia berhutang semakin besar volume bisnisnya dan semakin besar tanggung jawab moral dan sosialnya kepada stakeholder.

Walau hidupnya tetap sederhana namun tanpa disadari dia telah memberikan kesejahteraan kepada karyawannya. Telah memberikan peluang berkembang bagi rekanan-nya. Telah memberikan laba bagi bank sebagai agent of development.

Telah ikut serta memberikan kontribusi kepada negara lewat pajak langsung agar kemampuan APBN lebih besar menopang fungsi sosialnya.


Pesan moral :

Setiap laba tahunan tidak pernah ditarik deviden untuk konsumsi pribadi berlebihan tapi dikembalikan ke perusahaan untuk meningkatkan modal.

Sehingga struktur permodalannya semakin sehat. Dengan semakin bertambahnya modal semakin kuat posisinya dihadapan kreditur.

Karenanya utang yang dia dapat bukan lagi karena faktor belas kasihan dari bank atau investor tapi karena dasarnya saling menguntungkan, dan itu semua tertuang dalam akad suka sama suka.

Selagi utang di gunakan untuk tujuan produktif maka tidak ada istilah utang tak terbayar karena semua dilakukan atas dasar akal sehat dan kekuatan moral, dan kalau ada masalah maka akan selalu ada jalan keluar.

Mengapa ? 

Karena tidak ada utang mengalir ke istri muda , rumah mewah , villa di puncak, apartement di Singapore, London, Perth atau meja judi. Kendaraan Rubicon, Lamborgini. Tidak ada.

Semua mengalir ke asset produktif yang tentu punya nilai sebagai solution provider.

Tidak ada yang salah dengan utang, yang salah adalah sikap mental hidup yang rakus dan malas.

Semakin besar utang semakin besar tanggung jawab tentu semakin keras bekerja.

Karenanya semakin besar usaha tumbuh semakin besar harta bertambah, tidak akan membuat pengusaha hidup bermewahan, kecuali bila usaha tumbuh karena tipu dan korup atau bisnis rente. 

Mengapa ? 

Menjadi pengusaha adalah hidup yang jauh dari kesepian. Hidup kesepian karena orang tidak bertanggung jawab dan minta agar orang lain bertanggung jawab terhadap dirinya, dan karenanya selalu punya alasan mengeluh.

Pahamkan sayang.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)