Facebook

Saturday, 12 August 2017

Kanal Kra COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Dua tahun lalu ketika terdengar kabar MOU antara Perusahaan China dengan Perusahaan Thailand untuk membangun kanal (terusan ) Kra yang akan melintasi Tanah Genting Kra, sebuah daratan sempit di Thailand Selatan yang menghubungkan Teluk Thailand dengan Laut Andaman. Saya sempat berkerut kening.

Terutama begitu yakinnya salah satu pejabat ketika berbicara dengan saya bahwa pembangunan selat Kra akan meningkatkan potensi Pelabuhan Sabang dan Kuala Tanjung. Singapore bisa disalip. Menurut saya, terlalu cepat menilai proyek itu akan dibangun. Apalagi nama perusahaan dari China adalah Asia Union Group. 

Saya tahu perusahaan ini tidak punya akses ke pusat kekuasaan di Beijing. Namun semangat dari Thailand Kra Infrastructure Investment sebagai mitra lokal patut di hargai. Karena niat dan obsesi membangun kanal Kra ini sudah berlasung ratusan tahun namun selalu gagal.

Secara bisnis, menurut saya proyek ini tidak layak.

Mengapa ? 

Dengan estimasi biaya pembangunannya sekitar US$ 28 miliar.

Diperkirakan membutuhkan waktu delapan hingga 10 tahun untuk menyelesaikan mega proyek ini.

Sementara jarak tempuh yang dihemat kapal cargo bila menggunakan terusan kra ini hanya 72 jam.

Ongkos sebesar itu terlalu mahal. Apalagi alternatif selat Malaka sebagai bagian dari jalur sutra sedang gencarnya dikampanyekan China. The Melaka Gateway, begitu proyek tersebut dinamai, menelan dana 43 milyar Ringgit dan akan dibiayai oleh Guangxi Beibu International Port Group.

Di perkirakan tahun 2019 pelabuhan Malaka ini sudah selesai, dan saat itu proyek Terusan Kra akan jadi kenangan yang tak pernah jadi kenyataan.

Itu pertimbangan secara bisnis.

Secara sosial, proyek ini akan menenggelamkan beberapa desa dan kecamatan, yang jumlah penduduknya jutaan.

Emang gampang memindahkan penduduk sebanyak itu? 

Apalagi wilayah selatan Thailand renta dengan gerakan separatis.

Proyek ini memisahkan empat provinsi dan tentu beresiko secara politik bagi pemerintah Thailand.

Sementara manfaat sosial dan ekonomi tidak begitu berdampak luas bagai rakyat Thailand wilayah selatan.

Namun mungkin mimpi menjadi negara hebat semacam singapore yang hidup dari pelabuhan seakan obsesi membangun selat Krea tiada pernah padam.

Padahal sekarang Singapore tidak lagi hidup sepenuhnya bergantung dengan bisnis Pelabuhan bebas.

Terbukti hanya 7 % GNP singapore terhadap bisnis pelabuhan.

Kalaupun selat Kra berhasil dibangun dengan all at cost, belum tentu juga bisa mengalahkan Singapore.

Karena bisnis kapal dan pelabuhan bukan hanya keunggulan jarak tempuh tapi juga layanan logistik.

Sampai saat sekarang belum ada negara di Asia mampu mengalahkan Singapore dari segi efisiensi dan efektitifitas layanan logistiknya, khususnya dari segi dwelling time.

Dan ini engga mudah, Butuh pengalaman puluhan tahun untuk bisa seperti Singapore.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)