Facebook

Tuesday, 15 August 2017

Financial Solution Bisnis Sawit COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Masalah dalam pembiayaan proyek Perkebunan Sawit dan PKS adalah baik pemilik lahan maupun pemilik keahlian tidak punya dana awal untuk pembiayaan izin, dan juga tidak ada dana untuk pembiayaan keseluruhan.

Karenanya di perlukan solusi. Sebelum saya bicara solusi maka saya ingin menduduk persoalan secara jernih.

Pertama, untuk dapatkan izin baru dengan cara menebang atau membakar, agak sulit sekarang. Karena sejak Jokowi mewacanakan moratorium, Pemda maupun Pusat tidak berani keluarkan izin baru untuk kebun sawit.

Apalagi dengan luas 6000 Hektar. Saya tidak tahu apakah pemilik ladang berpindah ini status tanahnya bisa dipakai untuk kebun sawit atau tidak. Apakah bisa dibuat HGU atau tidak.

Kedua, sekarang banyak pengusaha kebun sawit mau melepas kebunnya kepada investor.

Mengapa ?

Setelah harga CPO jatuh di pasar international dan ada pajak ekspor , secara financial engga lagi menguntungkan bisnis kebun sawit , apalagi yang luasnya dibawah 10,000 hektar dan belum punya PKS.

Tingkat IRR yang ada kebun sawit sekarang rata rata dibawah 10%. Kecuali untuk PKS, yang IRR bisa mencapai diatas 20%. Itupun kalau ada jaminan supply TBS dengan luas minimum 10,000 hektar untuk kapasitas 16 ton/Jam.

Ketiga, investor pada umumnya lebih suka membeli lahan diatas 10,000 hektar dalan satu hamparan. Agar lebih efisien pengelolaannya. Karena saat sekarang kondisi harga CPO akan sulit naik lagi seperti era kejayaan 10 tahun lalu. Kata kunci untuk sukses adalah efisiensi dan bersedia masuk ke downstream CPO.

Solusi

Mengenai izin , sebaiknya bentuk koperasi. Semua pemilik lahan bergabung dalam koperasi yang nilai penyertaanya sesuai degan luas lahan yang mereka punya. Dengan Koperasi kemungkinan pemerintah bersedia untuk memberikan izin baru.

Tentu dengan syarat pembukaan lahan tidak dengan cara dibakar. Dalam koperasi ini juga dilibatkan investor yang bersedia mengeluarkan biaya awal untuk pengurusan izin. Tentu nilai penyertaannya di sepakati dari awal. Nah, proses selanjutnya mendatangkan investor atas nama koperasi.

Pembiayaan

Koperasi sebagai institusi mengajukan penawaran venture kepada investor dengan membentuk Perusahaan Terbatas sebagai special propose vehicle. Dimana Koperasi sebagai pemegang saham dari PT itu, dan juga investor.

Besarnya saham ditentukan dari masing masing nilai penyertaan berdasarkan perhitungan investasi.

Siapa investor yang mungkin berminat ?

Pemilik bisnis PKS.

Mengapa mereka pasti berminat? 

Karena disamping tujuan untuk mendapatkan supply guarantee TBS juga meningkatkan kapasitasn produksi mereka sendiri. Biasanya kalau nilai equity PT mencapai 30% , sisanya 70% bank akan biayai. Artinya mereka engga perlu setor modal 100% dari total pembiayaan proyek. Mungkin hanya 10% saja. Apalagi bagi PKS yang sudah dapat offtake market dari Industri Downstream CPO atau pasar Eksport akan lebih mudah sebagai avalis kredit ke bank.

Kemandirian

Karena skemanya venture ,tentu usahakan ada opsi buy back saham kepada investor sehingga suatu hari koperasi bisa menguasai 100% saham.

Darimana duitnya ? 

Koperasi bisa ajukan refinancing melalui Bank setelah Kebun sawit berproduksi.

Kemungkinan besar investor ( yang juga pemilik PKS) akan bersedia menjual sahamnya.

Karena focus mereka memang sebagai offtake TBS. Setelah jangka waktu tertentu, perkembangan cash flow bagus dengan tertip membayar bunga dan cicilan hutang, ajukan kredit ke bank untuk pembangunan PKS sendiri. Bank pasti bersedia.

Kesimpulan

Bisnis perkebunan sama dengan bisnis IT. 

Resikonya adalah business process sampai mendapatkan value dari produksi dan penjualan.

Tidak ada yang too good to be true. Kalau kalian ingin mandiri maka harus ikuti business process itu.

Oh ya kalau sudah berbentuk Koperasi , silahkan hubungi saya lagi.

Saya akan bantu deal dengan venture business. Demikian. Tetap semangat ya. Salam indonesia hebat.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)