Facebook

Wednesday, 30 August 2017

Divestasi Freeport COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Tadi saya kebetulan bertemu dengan salah satu direktur BUMN yang punya kerjasama membangun kawasan industri untuk pusat smelter BUMN yang mengelola tambang.

Kemarin sejak di umumkannya persetujuan Freeport untuk divestasi sebesar 51%, saham salah satu BUMN bergerak dibidang tambang naik di BEJ. Padahal saham lainya tidak mengalami kenaikan berarti.

Keliatannya ada ekspektasi dari investor Bursa bahwa BUMN itu akan dapat opsi dalam divestasi saham Freeport. Yang berpotensi untuk membeli saham FI adalah Pt. Aneka Tambang, Inalum dan PT. Bukit Asam.

Begitu hebatkah Freeport, tanya teman. Freeport tidak sebesar namanya.



Faktanya Freeport bukanlah perusahaan terbesar dari sisi kapitalisasi pasar di bursa efek.

Bahkan beberapa perusahaan di Indonesia mempunyai nilai kapitalisasi pasar lebih besar daripada induk usaha Freeport Indonesia, Freeport McMoran. Di bursa New York. Nilai kapitalisasi (market capitalization atau market cap) saham induk usaha Freeport ini hanya $10,59 miliar 2015. 

Market cap perusahaan terbesar di Indonesia saat ini dipegang PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Market cap BBCA mencapai $22 miliar.

Di bawah BBCA masih ada PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan market cap senilai $20,2 miliar,

Dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) dengan market cap senilai $20,3 miliar.

Jadi engga usah terlalu silau. Santai aja. Engga sulit kok ambil saham FI.

Berapa valuasi saham freeport sebenar yang layak? Katanya.

Menurut saya, data financial yang bisa jadi pegangan kita dalam menilai Freeport Indonesia ( FI) adalah tahun 2014.

Karena pada tahun ini awal Freeport menghadapi ketidak pastian KK.

Berdasarkan data balance sheet FI per Juni 2014, nilai aset Freeport Indonesia sekitar US$ US$ 7,97 miliar.

Tapi pihak FI tidak mau di hitung berdasarkan nilai aset di neraca.

Mereka maunya ada perhitungan replacement cost dengan memasukan nilai cadangan sebagai asset.

Pemerintah dengan tegas menolak dan harus sesuai kesepakatan yang telah di tanda tangani yaitu Berdasarkan Harga Pasar.

Nah kalau 51 % divestasi maka nilainya menjadi USD 4,07 miliar atau dalam rupiah Rp. 53 triliun.

Saran saya, divestasi FI jangan dilakukan melalui bursa. Tapi dilakukan tutup oleh tiga BUMN yang masing masing PT. Aneka Tambang sebesar 21%, PT. Inalum 20% dan PT. Bukit Asam 10%. 

Ketiga BUMN ini bisa mendapatkan sumber dananya dari IPO dan Right issue di Bursa.

Kalau jadwal IPO dan Right issue dilakukan tidak berbarengan maka capitalisasi sebesar Rp.. 53 triliun akan diserap pasar cepat.

Dan ini akan meningkat kinerja BUMN sebagai emiten di Bursa. 

Namun apabila dilakukan lewat hybrid fund yaitu lewat bursa dan juga hutang bank akan lebih realistis dan feasible. Tap syaratnya para BUMN itu harus segera melakukan revaluasi asset agar struktur permodalan jadi lebih sehat untuk menarik pinjaman bank.

Apakah ada kemungkinan FI minta nilai lebih besar?

Sangat tidak mungkin dan tidak rasional. Bahkan bisa lebih rendah.

Karena FI menghadapi outstanding loan yang harus segera di selesaikan untuk penambangan bawah tanahnya. Atau akan terancam default.

Ini akan berdampak buruk bagi induk perusahannya yang sudah listing di bursa NY.

Divestasi FI adalah langkah rasional dan akan direalisaikan secara fair as business usual.




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)