Facebook

Friday, 18 August 2017

Contoh Financial Engineering COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



“ Bisa datang kekantor. Lama engga ketemu kita “

“ Engga enaklah. Kamu sudah jadi pejabat. Nanti aja kalau kamu longgar saya undang makan malam.”

“ Bukan itu aja masalahnya. Saya minta tolong koreksi makalah yang akan saya sampaikan dalam seminar. “

“ Ya kirim aja ke email saya.Nanti saya bantu koreksi. Tapi apa yang harus dikoreksi. Kamu itu PHD dari Harvard.”

“ Ya teori sih hebat tapi kan perlu juga tanggapan dari praktisi. Makanya lebih enak kalau kamu datang ke kantor. Ayolah. Kita diskusi”

Demikian dialogh dengan teman via telp dua hari lalu.

Akhirnya saya sempatkan datang sore hari sebelum jam kantor tutup.

Kebetulan makalahnya berkaitan dengan Infrastructure fund.

Saya membaca cepat dan menyimpulkan makalahnya hebat. Tapi dia beranggapan itu sama saja seperti dia memberi materi kuliah.

Padahal dia ingin menyampaikan makalah dengan bahasa yang sederhana namun tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan.

“Bisa engga kamu sampaikan analogi sederhana tentang financial engineering. Karena saya bingung membuat analoginya.” katanya.

Saya katakan bahwa kebingungan itu disebabkan karena memang financial engineering itu bukan disiplin ilmu yang jelas definisinya.

Kita masih terjebak dengan financial engineering itu bagian dari ilmu ekonomi, yang bicara tentang uang dan kelembagaan pengaturan uang.

Selagi orang masih terjebak dengan pemikiran ekonomi secara konvensional maka selama itu juga dia tidak bisa menerapkan financial engineering.

Ilmu ekonomi masih memandang “ uang" ( money ) adalah object.

Financial engineering tidak lagi bicara tentang uang ( money ) tapi keuangan ( Finance ).

Jadi uang sebagai subject.

Mengapa uang sebagai subject? 

Karena pengertian uang bukan uang yang ada di bank atau tabungan atau di dompet. Bukan.

Tapi uang berkaitan dengan nilai.

Nilai apa ? 

Ya nilai business, nilai asset, nilai tekhnologi, nilai SDM, nilai pemeritah, nilai jaringan bisnis, nilai peluang. 

Ada yang berbentuk nilai berwujud ( Tangible ) dan ada juga yang tidak berwujud (Intangible).

Dengan pemahaman ini maka ketika orang mendapatkan peluang bisnis maka dia bisa merekayasa keuangan dengan menjahit semua nilai itu ( internal atau eksternal resource ) sebagai stakeholder maka jadilah dia "finance."

Bisa kasih contohnya. Katanya.

Ada teman yang punya proyek jalan Toll.

Sebagai BUMN dia dapat penugasan bangun jalan Toll itu.

Artinya dia dapat peluang dan pemerintah sebagai undertaker intangible.

Masalahnya untuk pinjam uang ke bank, engga mungkin lagi.

Karena Debt to Equity ratio ( DER) diatas pagu aman.

Mau kerjasama dengan investor, kebanyakan minta setor equity sama sama. Dia engga ada uang. Stuck kan.

Jadi bagaimana solusinya ?

Saya undang salah satu Investor institusi untuk bicara soal pembiayaan proyek.

Tapi saya tidak mengajaknya untuk investasi dengan resiko, tapi dengan tanpa resiko.

Caranya ? 

Saya tawarkan agar dia membiayai kontrak repurchase agreement dengan pemilik konsesi jalan Toll.

Syaratnya sederhana saja. Pemilik konsesi akan membeli kembali jalan toll itu setelah selesai dibangun dan melewati negatif cash flow dengan harga 108% ( mata uang dollar).

Jadi dia dapat fixed income sebesar 8%. Itu diatas bunga bank dan diatas IRR normal dalam mata uang. 

Tapi bagaimana kalau pembangunan itu ada resiko gagal sedangkan dia sudah bayar.

Saya katakan bahwa setiap uang keluar di counter dengan bank guarantee oleh EPC. Jadi aman. Dia tertarik.

Dari mana pemilik jalan toll membeli kembali jalan Toll itu?

Kan dia engga ada modal ?

Lah kan setelah jadi itu proyek, maka proyek itu digadaikan ke bank untuk refinancing.

Bank tentu mau kasih pinjaman karena proyek sebagai collateral sudah berupa proyek jadi ( bukan hanya kertas ). 

Kalau bank engga mau kasih pinjaman gimana ? 

Ya, dia bisa terbitkan Mutual fund limited offers. 

Pasti di beli oleh investor karena sudah di back up dengan collateral berupa proyek yang telah beroperasi.

“ Wah sederhana ya. Katanya. “ Dengan skema itu , pemilik konsesi jalan toll tidak harus berhutang dengan menggadaikan neraca perusahaannya. Dan selanjutnya hutang dibayar dari cash flow proyek. “

" Ada lagi engga analogi yang enak dan mudah dipahami orang." Lanjutnya. Nah saya terdiam. Akhirnya saya sampaikan analogi sederhana.

Bagi orang awam perkawinan itu soal sex.

Makanya banyak orang tidak mau menikah karena faktor resiko.

Tapi mereka terjebak dalam prostitusi. Karena bagi mereka sex itu sebagai object bukan subject. 

Dalam mindset beragama, sex itu bukan hanya bersetubuh menyalurkan libido tapi juga sentuhan, kebersamaan, interaksi, dan nilai nilai trenseden ( Intangible ).

Dengan memahami sex sebagai subject maka segala kendala dan resiko bisa diatasi dengan menjadikan anggota keluarga seperti istri/suami, orang tua/mertua, paman, saudara sebagai stakeholders.

Maka solusi pembiayaan rumah tangga bisa diatasi. Makanya banyak orang yang tadinya ketika jomblo serba kekurangan tapi setelah menikah hidupnya berkecukupan.

Jadi kuncinya adalah kemampuan mengikat stakeholder, baik itu proyek bisnis maupun keluarga.

Tentu tidak mudahkan.

Contoh seperti jalan toll itu, kalau kamu tidak punya financial network sebagai stakeholder mana mungkin bisa jalan itu skema financial engineering, begitu juga menikah. Katanya. Ya tentu.

Karena kita tidak akan mendapatkan dukungan stakeholder kalau akhlak kita buruk.

Investasi yang pasti menguntungkan dan memudahkan jalan rezeki adalah business network. 

Dan itu adalah seni menaklukan hati orang agar mau ambil resiko atas obsesi kita.

Kata kuncinya AKHLAK.

Karena akhlak juga maka orang berbisnis yang menerapkan financial engineering tidak membuat dia hedonisme. 

Karena motive business bukan uang tapi peningkatan value bisnis agar terus tumbuh memberikan manfaat maksimal kepada stakeholder.

Siapa itu stakeholder ?

ya karyawan, supplier, rekanan, banker, investor, dan pemerintah.

Dalam ruman tangga juga sama, kebahagian itu bukan diukur dari rumah mewah , perhiasan dan mobil mewah tapi meningkatkan nilai perkawinan dengan membahagiankan semua stakeholders.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)