Thursday, 6 July 2017

Martua Sitorus COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)


Ketika harga sawit jatuh , ketika pemerintah Jokowi mengeluarkan issue moratorium Kebun Sawit, semua pengusaha mengeluh. Apalagi dengan penerapan pajak ekspor CPO. Tapi Martua Sitorus sebagai pengusaha dia tidak mengeluh. Kebijakan pemerintah dan situasi pasar global disiasatinya dengan bijak dan berani.

Caranya ?

1. Harga CPO akan turun dipermainkan pasar sudah di prediskinya. Maka dia sudah jauh hari membangun industri dowstream CPO. Dari oleo chemical, oleo food ( ethyl ester, Fatty acid, dan glycerine) sebagai bahan baku ,seperti industri pangan (minyak goreng dan margarin), industry sabun (bahan penghasil busa), industri baja (bahan pelumas), industri tekstil, kosmetik, dan sebagai bahan bakar alternatif (biodisel).

Pabriknya yang berjumlah 250 unit tersebar di 20 negara termasuk China. Ketika semua pengusaha sawit hidup segan mati tak mau karena harga CPO jatuh, justru Martua semakin melenggang sebagai pengusaha sawit tanpa saingan. Karena dia menguasai dari upstream sampai dengan downstream.

2. Karena ekspansi kebun sawit udah dibatasi pemerintah, maka guna mendukung kontinyuitas dan peningkatan kebutuhan akan CPO untuk ratusan pabrik pengolahannya, dia membeli saham mayoritas dari Felda Global Ventures Sdn Bhd ( FGV).

Siapa itu FGV ? 

ia adalah perusahaan sawit yang ada di Malaysia yang merupakan pengelola 335.000 hektare kebun sawit atas konsesi dari Federal Land Development Authority (FELDA). Sebelumnya FIC Properti Sdn Bhd (FICP), anak perusahaan The Federal Land Development Authority (Felda), mengakuisisi 37% saham emiten perkebunan sawit PT Eagle High Plantation Tbk ( Rajawali Group). 

Dengan demikian Martua menguasai resource bahan baku sawit bukan hanya dalam negeri tapi juga luar negeri ( Malaysia).

Dari business upstream dan downstream CPO saja , penjualan Wimar international ltd ( milik Martua sitorus) setahun mencapai kurang lebih Rp. 600 triliun. Itu setara dengan 60% APBN kita.

Dari kedigdayaannya di bidang CPO, dia juga menguasai perusahaan makanan & minuman yang tercatat di bursa saham Australia dan Selandia Baru, Goodman Fielder Limited. Perusahaan ini menguasai business retail di China.

Dengan demikian akses pasar tanpa batas ke pasar China dan Australia ditingkat ratail semakin kokoh. Dia juga memproduksi pupuk jenis NPK untuk menopang usaha perkebunannya. Pabrik yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur, itu berkapasitas 600.000 ton per tahun.

Pabrik seluas 50 hektare itu dilengkapi dermaga pelabuhan sepanjang 400 meter yang mampu disinggahi kapal angkut berkapasitas 60.000 ton.

Dari cara bisnisnya dia tahu bagaimana bersaing dan unggul dalam putaran waktu tanpa terjebak dengan fasilitas pemerintah melalui bisnis rente dan korup proyek APBN.

Tapi apakah Martua sepi dari fitnah pesaingnya? tidak.

Tak sediit fitnah datang baik dari LSM sampai dengan politisi tapi dia tetang tenang karena dia berbuat sesuai aturan pemerintah. Dan dia aman aman saja sampai sekarang.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)