Facebook

Thursday, 15 June 2017

Proyek Bandara Kertajati COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)




Bandar udara Kertajati berlokasi di Kabupaten Majalengka, sekitar 100 kilometer di timur Bandung. Bandar udara ini dibangun untuk menggantikan Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara di Bandung, tetapi juga melayani daerah di sekitar Cirebon.

Proyek ini diperkirakan menghabiskan biaya Rp 25,4 triliun. Sesuai rencana, Bandar Udara Kertajati pada tahap awal direncanakan akan memiliki satu landas pacu (runway) dengan kapasitas 5,6 juta penumpang per tahun.

Diharapkan bandar udara ini dapat menjadi bandar udara alternatif bagi masyarakat Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Sesuai dengan rencana induk, bandar udara ini nanti akan dilengkapi dengan dua buah runway berukuran 3.500 x 60 meter dan 3.000 x 60 meter yang mampu menampung pesawat sekelas Boeing 747 atau Boeing 777.

Dari sisi udara bandara ini akan dilengkapi dengan apron seluas 228.944 meter persegi yang mampu menampung 2 pesawat sekelas Boeing 777, 10 pesawat sekelas Boeing 737-900 ER, dan 12 pesawat sekelas Boeing 737-400, taxiway, runway strip 3.120 x 300 meter, fasilitas alat bantu pendaratan pesawat, serta fasilitas penunjang lain.

Pada sisi darat, pemerintah Provinsi Jawa Barat akan melakukan pembebasan lahan seluas 1.000 hektare dari kebutuhan lahan total sampai dengan tahap ultimate yang perlu dibebaskan seluas 1.800 hektare.

Rencana pembangunan fasilitas sisi darat terbagi menjadi tiga paket, yaitu paket infrastruktur, paket terminal utama penumpang dan paket bangunan penunjang operasional. Ditargetkan pembangunan Bandar Udara Kertajati ini selesai pada akhir 2017. Itu rencana.

Proyek ini sudah di canangkan sejak tahun 2011 era SBY. Dan Jokowi sudah berharap agar proyek ini bisa beroperasi tahun 2018. Yang sebetulnya sudah mundur dua kali yaitu tahun 2016 dan 2017.

Teman saya yang juga anggota team pembangunan proyek Bandara international Kertajati ,mengatakan bahwa proyek tersebut kemungkinan mangkrak karena dalam APBN 2017 tidak tersedia mata anggaran untuk menyelesaikan proyek tersebut.

Lantas mengapa sampai begitu sulitnya merealisasikan proyek ini? 

Padahal anggaran APBN sudah keluar untuk FS , pembebasan lahan dan infrastruktur sisi udara.

Mengapa ? 

Menurut saya , karena Pemprof Jabar ngotot agar proyek ini dibangun dibawah BUMD, bukan dibawah BUMN. Sementara kemampuan financial engineering dari direksi BUMD sangat terbatas. Dan Gubernur Jawa barat berharap semua dana sebesar Rp. 25 triliun itu berasal dari APBN. Ini jelas tidak mungkin.

Karena keijakan indonesia centris, pemerintah lebih mengutamakan dana fiskal untuk daerah yang nilai komersialnya rendah. Sementara jawabarat nilainya komersialnya tinggi. Sementara pinjaman dari bank syariah tak lebih Rp. 1 trilun atau tepatnya Rp. 906 miliar. Itu tidak cukup.

Kelemahan dalam financial scheme dari proyek itu adalah lack financial performance dari sponsor ( BUMD). Walau secara bisnis itu sangat feasible karena didukung oleh captive market sebagai operator bandara, namun financial resource tidak cukup hanya melihat bisnisnya tapi juga kemampuan dan pengalaman sponsor juga menentukan.

Untunglah salah satu team dari proyek itu teman saya, yang juga sering berdiskusi dengan saya mengenai financial scheme. Untuk menutupi kekurangan dari financing scheme proyek tersebut sebaiknya BUMD menunjuk trustee company yang bertugas meng enhancement BUMD agar qualified masuk ke financial resource. 

Ada banyak instrument yang lazim di pakai yaitu security back asset yang di swap dengan Financial guarantee. Artinya tanah berserta asset bandara yang telah dibangun nanti akan otomatis di gadaikan. Namun sebelum proye jadi, asset itu tersebut dinilai didepan oleh trustee agent dan kemudian di terbitkan financial guarantee.

Financial guarantee ini dijadikan collateral untuk menunjuk EPC yang reputable melalui tender bidding international. Selama proyek dibangun , hak supervisi berada di tangan project mangement dibawah arahan dari project committe, yang terdiri dari sponsor, lender dan EPC. 

Jadi tidak ada uang tunai ke sponsor tapi uang mengalir atas arahan dari project committee sampai proyek selesai dibangun.

Setelah selesai di bangun maka BUMD dapat melakukan refinancing melalui penerbitan SUKUK.

Saya bilang pasar SUKUK di bursa International sekarang sangat diminati oleh investor.

Apalagi proyek di kawasan emerging market yang sedang tumbuh pesat. Dan lagi pasar SUKUK dalam negeri juga hebat. Dana haji ada nganggur lebih dari 90 Triliun. Atau mau gampang saya sendiri bisa bantu jualin.

Teman saya mangguk mangguk karena mungkin dia hanya ngerti sebagian. Saya janji akan memberikan gambaran utuh skemanya.




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)