Facebook

Friday, 9 June 2017

Produk Pertanian COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)


Hari kamis saya ada meeting di Singapore. Setelah meeting saya bertemu dengan teman yang juga eksekutif perusahaan Tanker. Dia cerita bahwa ada perusahaan di Sulawesi yang pemegang sahamnya orang Singapore dan Australia.

Perusahaan ini bergerak dalam industri pengolahan Coklat. Produknya sebagai raw material utama untuk di blending di industri pengolahan coklat merek terkenal di Eropa dan AS. Performance keuangannya saya baca dan memang luar bisa.

Saya membayangkan, bagaimana bisnis yang begini bagus sampai orang Singapore dan Australia yang mengelolanya. Teman itu menawarkan kepada saya untuk ambil saham singaporean itu. Dengan analisa sederhana dengan PER 7 kali saja, saya yakin dia akan lepas.

Mengapa ? 

Kalau peningkatan produksi digenjot dua kali lipat maka dua tahun sudah kembali modal. Marginnya tinggi sekali.

Disamping itu bagaimana perusahaan itu bisa mendapatkan jaminan suplai bahan baku ? 

Padahal bahan baku dari petani. Dari info memo yang saya baca, mereka menerapkan sistem kemitraan yang solid. Dari proses tanam, panen dan paska panen di bantu oleh perusahaan. Uang berputar ditangan petani hanya 30% dari nilai volume pembelian dan kalaupun itu gagal di kembalikan petani, mereka masih untung karena pembelian diatas 30% masih layak. 

Namun dengan pendekatan budaya lokal ( mereka menggunakan manager lokal ) dan agama, mereka berhasil menanamkan kebersamaan untuk saling percaya dan berkembang bersama. Tidak ada kredit yang macet.

Jadi secara tidak langsung mereka sudah berlaku sebagai angel investor dari mitranya.

Dulu di era Soeharto petani di bina oleh INKUD namun pada akhirnya kemitraan dengan swasta tidak menguntungkan petani. Dan sekarang petani di biarkan tumbuh secara natural dan pemerintah memberikan berbagai fasilitas kepada petani untuk permodalan selagi pasar terjamin.

Dan keberadaan industri adalah market offtaker bagi petani. Namun tidak semua petani siap sebagai mitra dengan pabrikan.Makanya kalau ingin pabrikan sukses maka mereka juga harus bertindak sebagai angel investor terhadap petani dan itu memang beresiko tapi dalam jangkan panjang akan bernilai luar biasa.

Ada teman yang punya pabrik sauce tomat, yang dicampur dengan singkong. Nilai ekspor nya setahun dalam bentuk kemasan dirigent mencapa lebih dari Rp. 1 triliun padahal perusahaannya tidak terkenal dan produknya tanpa merek.

Karena dia menjual bahan baku untuk industri makan di Korea Jepang dan China...

Begitu besar peluang bisnis di Indonesia karena kita kaya SDA, tapi begitu banyak orang sibuk mengurus dan membahas yang remeh. Bahkan dari kecil anak didik jadi radikal dan menanamkan kebencian.

Bagaimana mau jadi pengusaha berkelas lokal dan dunia kalau tabiat bikin orang lain berkerut kening. Rezeki sempit bukan karena Tuhan tidak kasih rezeki tapi karena anda menutup sendiri rezeki itu dengan tabiat mantiko.

catatan :

Mantiko itu asal dari kata Tiko yang artinya celeng atau babi hutan pejantan. babi itu kalau lari engga lihat kiri kanan ...siapapun apapun di depannya dia tabrak..Makanya orang yang engga bisa mengerti orang lain yang hanya mau orang mendengar dia tanpa peduli orang ngomong apa ya disebut mantiko...kelakuan seperti celeng atau babi.




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)