Friday, 9 June 2017

Moneter China COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)


Menurut Bank for International Settlements, utang china tahun 2016 mencapai USD 25 triliun atau setara dengan 254 persen dari GDP. Namun angka real hutang hanya 43,9 dari GDP.

Mengapa ? 

Karena sebagian besar itu bukan hutang konvensional tapi hutang bagi hasil atau revenue bond ( SUKUK). Semua hutang itu tidak di pakai untuk konsumsi seperti subsidi atau BLT, tapi di pakai untuk produksi seperti membangun insfrastruktur ekonomi nasional yang berbasis revenue.

Dimana rakyat membayar setiap penggunaan sarana umum yang di bangun pemerintah. Seperti jalan toll, pelabuhan, kerata api, pasar, dan lain lain. Artinya rakyat membayar hutang itu sendiri melalui fee yang dibayar setiap menggunakan proyek yang di bangun dari hutang itu.

Sementara hutang real yang ada sebesar 43,9 % dari GDP, adalah hutang corporate kepada bank dalam negeri maupun luar negeri. Untuk hutang luar negeri ini tidak di tanggung resikonya oleh pemerintah. Tapi hutang dalam negeri pemerintah bailout.

Apakah pemerintah China sendiri melakukan hutang luar negeri ? Tidak.

Pemerintah hanya berhutang kepada rakyatnya. Jadi benar benar republik rakyat dimana pembiayaan pembangunan dari rakyat secara gotong royong dengan mekanisme yang modern melalui surat utang yang teroganisir dengan baik Jadi kalau mau lihat bagaimana idiologi komunis maka lihatlah bagaimana struktur hutang negara China.

China menarik pajak dari rakyat kaya dan juga menerbitkan SUKUK untuk menutupi anggaran yang defisit. Uang itu di gunakan untuk membangun Insfrastruktur ekonomi wilayah yang miskin agar ekonomi bangkit.

Pembangunan ini hanya sebagai pemicu terjadinya geliat ekonomi. Agar mengundang pemodal datang ke wilayah tersebut. Pemerintah china sadar bahwa tidak semua investasi semuanya di lakukan negara, tentu pihak swasta juga di libatkan. Tapi kemampuan swasta juga terbatas. Umumnya hanya maksimum 10% dari total investasi. Sisanya mereka dapatkan dari bank melalui program percepatan pembangunan.

Bagaimana bank dapatkan uang bila wilayah belum tumbuh ? Gampang!.

Pemerintah menarik dana dari wilayah yang telah maju lebih dulu. Seperti Sanghai, Hong Kong, Shenzhen dan lain lain.

Caranya ? 

Pemerintah menerbitkan Revenue bond atau dalam bahasa islami adalah SUKUK atau hutang tanpa bunga tapi bagi hasil. 

Mengapa orang kaya mau membeli revenue bond ini ? 

Karena pemerintah memberikan insentip pajak rendah, Sehingga revenue bond ini menjadi bunker aman dari penetapan pajak penghasilan yang tinggi. Disamping itu bisa menjadi pasif income bagi orang kaya.

Kemana uang hasil penjualan revenue bond ini pergi ? 

Uang itu di salurkan oleh bank sentral ke bank bank lokal. Ingat bahwa semua bank besar di China di miliki oleh Pemerintah. Mereka di larang IPO kecuali anak perusahaan yang tak terikat asset dengan induk perusahaan. Jadi bank itu hanya bertindak sebagai cashier pemerintah untuk melaksanakan fungsi mereka sebagai agent pembangunan dari negara.

Dana itulah yang di pakai bank untuk di salurkan dengan LTV 90 % kepada pengusaha yang ingin memanfaatkan peluang investasi di daerah. Dengan struktur permodalan yang efisien , membuat pengusaha bisa efisien dalam berproduksi dan tentu mampu berkompetisi atas produk atau jasanya di pasar.

Apabila pengusaha untung maka tentu mereka bayar pajak. Bank juga bayar pajak. Uang pajak itulah yang di pakai pemerintah untuk membayar revenue bond dan termasuk bagi hasil yang dicapai oleh bank dalam menyalurkan dana kepada pengusaha.

Bagaimana apabila pengusahaan gagal bayar utang karena rugi ? Tentu NPL bank akan meningkat ?

Pemerintah akan mem bail out hutang itu. Apakah negara rugi ? Tidak juga. Karena walau perusahaan rugi, uang itu tetap berputar dalam negeri.

Mengapa ? 

Ingat bahwa China melarang rakyatnya melakukan free transfer dana keluar negeri. Jadi walau perusahaan rugi, dana pinjaman itu tetap menimbulkan multiflier effect ekonomi ditengah masyarakat. Sementara Asset dari debitur akan di sita negara.

Perusahaan debitur itu akan di kelola oleh BUMN melalui anak perusahaannya untuk di sehatkan. Kelak bila perusahaan yang disita itu sudah sehat maka akan di jual di bursa, untuk mendapatkan capital gain dan akhirnya perusahaan itu dimiliki publik. Kemudian, pertanyaannya dari mana pemerintah dapatkan dana untuk bailout itu ?

Pemerintah akan menerbitkan surat utang konvensional. Surat utang ini di serap oleh rakyatnya sendiri. Tentu dengan iming iming yang menarik yaitu bunga diatas bunga bank dan insentip pajak. Kalau ekonomi terus memburuk bagaimana pemerintah membayar hutang ? ya hutang lagi kepada rakyat dengan menerbitkan surat hutang baru.

Namun leverage pemerintah itu ada parameter yang bisa dipertanggung jawabkan. Ketika sudah diatas ambang batas maka pemerintah akan menaikan inflasi.

Caranya? 

Gaji dan upah di naikan. Suku bunga di turunkan agar uang membanjiri pasar. Biaya jasa di naikan. Artinya tanpa di sadari oleh rakyat, pemerintah china menyuruh rakyat membayar hutangnya sendiri melalui inflasi.

Apakah inflasi ini buruk ? Tidak juga.

Karena mata uang china semakin lemah terhadap mata uang asing. Dampaknya harga barang china bersaing dengan produk impor. Barang cina membanjiri pasar luar negeri karena murah. Pasar domestik bergairan karena hutang konsumsi meningkat akibat suku bunga rendah. Dan dunia usaha bangkit lagi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan mendatangkan pajak bagi negara untuk bayar hutang kepada rakyatnya. Begitulah seterusnya.

Yang jadi masalah setelah krisis 2008, sebetulnya mata uang china sudah sangat rendah karena di makan inflasi. Namun negara maju sebagai pasar utama china seperti AS dan Eropa juga lebih parah ekonominya.

Dampaknya mata uang china yang sudah terlanjur lemah akibat inflasi justru semakin menguat terhadap mata uang asing lainnya. Nah ini benar benar konyol bagi pemerintah china. Karena dengan RMB yang menguat akibat krisis global berdampak harga barang china menjadi mahal. China sulit bersaing. Di tambah lagi, daya beli pasar international juga menyusut akibat skema berhutang untuk konsumsi di daerah maju semakin sulit di dapat.

Lantas bagaimana caranya mengatasi situasi ini ? 

Kembali China berhutang kepada rakyat lewat swap USD yang ada pada rakyat dengan RMB. USD ini di berikan kepada AS dalam skema hutang. Tujuannya agar ekonomi AS menguat. Dengan begitu USD akan menguat terhadap RMB.

Tapi AS lebih cerdas atau tepatnya culas. Uang hutangan dari China sebesar USD 2 trilion , tidak di salurkan kepada rakyatnya tapi kepada perbankannya. Uang yang mengumpul di bank ini di salurkan kepada negara emerging market dengan bunga diatas bunga pinjaman kepada China. Perbankan AS untung. Dan keuntungan ini menyehatkan perbankan AS akibat kerugian krisis wallstreet yang di picu oleh jatuhnya lehman brother.

AS lebih dulu mengamankan perbankannya daripada dunia usahanya.

Mengapa ? 

Hukum kapitalis murni selalu membela bank agar bank bisa berfungsi sebagai pencipta keseimbangan ekonomi. ya bank sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi. Dan China kena apes karena menarik hutang dari rakyat dan uangnya di serahkan ke AS tanpa memberikan dampak positif bagi melemahnya RMB.

Tapi China masih punya jurus jitu, yaitu membatasi likuiditas pasar modal melalui serangkaian kebijakan.

China tahu bahwa sebagian besar yang listing di bursa adalah perusahaan yang berafliasi dengan perusahaan asing. Kejatuhan bursa akan mendorong induk perusahaan untuk menarik pinjaman dari negara asalnya dan ini akan mendorong perbankan AS melakukan ekspansi. Apabila tidak dapat dukungan dari negara asalnya maka perusahaan itu akan di ambil alih oleh BUMN China sampai harga terendah. Artinya china menasionalisasi perusahaan asing melalui mekanis pasar yang dia design sendiri untuk jatuh.

Dari mana uang pengambil alihan perusahaan itu?

Ya dengan menjual kembali Surat utang AS yang mereka pegang. Mungkin dengan bunga surat utang dari AS yang diterima china sudah lebih dari cukup untuk aksi pengambil alihan itu. Disamping itu Cina juga mendevaluasi mata uangnya agar barang impor makin mahal sehingga sulit bersaing dengan produksi dalam negeri. 

Tentu dengan devaluasi RMB berdampak buruk bagi pemegang surat utang pemerintah yang pasti nilainya menyusut. Rakyat bisa menerima karena sebelumnya mereka mendapatkan kelebihan uang berkat kebijakan pemerintah.

Tapi apakah ini berhasil ? tidak juga. Mata uang AS terhadap RMB tidak berubah secara significant.

Atas dasar itulah tahun 2010 Pemerintah focus menempatkan rakyat dalam bungker agar terhindar dari serangan kapitalisasi pasar. Anggaran nasional di arahkan kepada penguatan ekonomi di daerah. Ekonomi Cina harus secara bertahap mengurangi ketergantungan dengan pasar eksport.

Caranya?

Kebijakan stimulus ekonomi diarahkan menciptakan pasar domestik yang luas dan insentif pajak bagi perusahaan besar untuk mengalihkan pasarnya ke dalam negeri khususnya di daerah. Pemerintah pun merestruktur perekonomian pedesaan melalui estate food, reviltalisasi kota kota yang miskin menjadi modern melalui restruktur perekonomian berdasarkan kearifan lokal dan kenaikan harga penyanggah produk pertanian.

Tujuannya agar pendapatan petani meningkat dan punya daya beli. Pemerintah juga menaikan upah buruh berlipat agar rakyat punya kemampuan belanja.

Bagaimana dengan perusahaan besar yang sudah berkelas dunia yang tak mungkin di alihkan pasarnya ke dometik dengan mudah?

Pemerintah di garis depan melakukan kebijakan pembiayaan investasi di negara lain. China development bank akan menanggung pembiayaan di negara lain asalkan perusahaan china di libatkan dalam pengadaan barang dan jasa. 

China juga memperkuat Bank Exim China guna membiayai kredit eskpor bagi perusahaanya yang mendapatkan order penjualan barang modal dan tekhnologi ke negara lain. Dengan demikian, di samping china menyalurkan dana yang di kumpulkan dari penjualan bond kepada rakyat, juga china mendapatkan pasar permanen dan return atas uang yang ditanamnya.

Rakyat sebagai pemegang bond akan mendapatkan yield , perusahaan mendapatkan pasar permanen di luar negeri dan ekonomi tetap tumbuh walau tidak setinggi ketika negara maju masih rakus belanja.

Namun pertumbuhan ini adalah pertumbuhan rasional.

Mengapa ? 

Memang ekonomi tidak tumbuh tinggi namun china mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyat lebih baik di bandingkan dengan kebijakan ekonomi berorientasi ekspor. Kini upah buruh sudah empat kali lipat dari upah di Indonesia , harga penjualan produk pertanian semakin tinggi, dan pajak kepada rakyat semakin rendah.

Benarkah ? 

Hasil survei tingkat kepuasan rumah tangga terhadap perekonomian nasional justru meningkat dua kali lipat. Kan lucu ? Mengapa ? Ternyata krisis ekonomi ini mendorong terjadi migrasi besar besaran rakyat ke pedesaan dan ke daerah yang tadinya tidak tumbuh begitu pesat. Ini terjadi karena biaya hidup dikota semakin tinggi dan kesempatan semakin kecil.

Sementara di desa semangat gotong royong berproduksi semakin meningkat sehingga mampu menghasilkan produk murah yang mudah diserap rakyat. Dan mulai tahun 2017 china sudah menerapkan jaminan sosial secara nasional yang sebelumnya tidak pernah ada.

Krisis ekonomi telah dengan jelas mengembalikan prinsip dasar budaya China yang lebih mengutamakan gotong royong dan kebersamaan. Cara kapitalis memang mereka terima tadinya namun tidak membuat mereka manja sehingga meradang ketika uang semakin sulit di dapat.

Mereka tidak menyalahkan Pemerintah dan tidak pula mengutuk sistem yang ada. Mereka berprinsip selalu ada jalan pada setiap masalah selagi mereka bisa menerima kenyataan dan berpikir positif. China mampu bertahan bukan karena pemerintahnya hebat tapi karena memang rakyatnya hebat. Mereka masih tetap percaya memegang revenue bond ( SUKUK) yang tidak menghasilkan apa apa karena tidak ada pendapatan yang bisa dibagi.

Namun mereka percaya akan ada masanya turun tentu ada masanya naik. Siklus kehidupan selalu terjadi berulang. Mengapa harus stress. Yang penting tetap kerja keras, tidak lemah. 

Sangat berbeda dengan negara lain di mana negara berhutang dengan rakyat negara lain lebih besar dari hutang kepada rakyat sendiri. Kalau krisis akan menggoncang kepercayaan asing dan membuat ekonomi lumpuh. Untunglah Indonesia dimana hutang dengan pihak asing hanya 39% dan sisanya hutang kepada rakyat sendiri. Dan itupun totalnya hanya 29% dari GPD ..jadi masih sangat aman.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)