Facebook

Monday, 19 June 2017

MENJAHIT MASALAH JADI PELUANG COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Tiga bulan lalu, Hari jumat jam 4 sore saya ketemu dengan relasi bisnis di Grand Hyatt. Dia tawarkan royek bagus di kawasan segitiga emas. Proposalnya adalah kerjasama membangun proyek. Dia setor tanah , sementara investor setor uang untuk pembiayaan proyek. Rencana setelah proyek selesai akan di jual space nya secara strata title.

Karena penentuan harga jual tanahnya ditentukan sangat tinggi, maka agar IRR terpenuhi diatas layak , luas space harus lebih besar. Untuk itu diperlukan ketinggian bangunan yang cukup. Apakah mungkin dapat izin ketinggian tersebut ? tanya saya. Menurut teman itu bahwa tidak ada masalah dengan izin ketinggian yang di rencanakan.

Itu sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 119 Tahun 2016 yang mengatur pola kompensasi atau kontribusi terkait pengaturan insentif ketinggian bangunan. Itu memungkinkan asalkan kita membayar kontribusi membangun infrastruktur, jalan, rumah susun, membeli bus, fasilitas taman, dan lainnya.

Kita bisa pilih mana yang kita mau sebagai kotribusi. Pemda tidak minta uang tapi proyek jadi yang nilainya ditentukan oleh konsultan independent. Business meeting itu berakhir jam 5 sore setelah dia sepakat bahwa saya hanya bertindak sebagai shadow banking.





Nah sekarang gimana dapatkan mitra investor ?

Jam 5.30 Sore jadwal business meeting dengan mitra saya dari Hong Kong. Dia nginap di Pulman. Setelah sholat ashar, saya jalan kaki nyeberang dari Grand Hyatt ke Pulman. Saya menawarkan peluang bisnis untuk proyek tersebut.

Mitra saya tanya mengapa investor harus di bebani biaya kontribusi untuk dapatkan izin tersebut?

Bukankah dari keuntungan nanti proyek akan membayar pajak penghasilan ?

Saya katakan bahwa PEMDA DKI engga punya anggaran cukup melakukan ekspansi infrastruktur dan sosial. Hampir 65 % APBD habis begitu saja untuk belanja tidak langsung yang di dalamnya terdapat belanja pegawai, barang, jasa , bunga, subsidi, hibah dan bantuan sosial. Hanya menyisakan sedikit untuk melakukan ekspansi infrastruktur dan sosial.

Mitra saya dapat memakluminya.

Dia bilang gubernur saya smart. Beberapa kota besar di China juga menerapkan pola yang sama. Cepat tumbuh sebagai kota modern dan kesejahteraan cepat di eskalasi. Memang untuk itu di butuhkan gubernur yang jujur karena cara itu mudah di salah gunakan.

Namun dia keberatan karena semua biaya kontribusi itu harus di bayar didepan sebelum izin di keluarkan. Saya katakan engga usah kawatir. “ Anda tidak perlu keluar uang didepan. Saya akan usahakan dananya. Yang penting setelah izin keluar, anda komit keluar dana investasi, termasuk biaya izin “ Mitra saya setuju untuk memberikan Limited Partnership Fund ( LPF). Artinya saya jadi mitra terbatas dia dan mendapakan fee berupa share sebesar 10% dari saham yang dia dapat dalam proyek.

Nah sekarang gimana dapatkan dana bridging untuk biaya kontribusi agar izin keluar.

Jam 7.55 setelah sholat maghrib saya ketemu dengan direksi BUMN bidang Asuransi. Saya tawarkan bisnis untuk bridging proyek, yang nilainya di perkirakan 10% dari nilai proyek. Saya janjikan yield sebesar 6% atas uang yang dia keluarkan.

Skema yang saya ajukan adalah repurchase agreement. Artinya dia setor modal melalui penyertaan saham proyek, yang dalam enam bulan akan saya beli balik dengan harga yang ditentukan didepan. Skema ini dia terima karena sesuai dengan aturan investasi bagi perusahaan Asuransi. Selesai hari ini.

Selanjutnya ada team yang akan urus bisnis proses ini sampai selesai. Saya pulang jam 11 malam. Sampai dirumah istri saya tanyain “ Kenapa telat pulang . Udah sholat ? “ Saya hanya bilang, “ Ini mau sholat isya “

Sebelum sholat terdengar istri ngomel. " Kenapa engga di buat cepat meeting nya.

Papa kan engga muda lagi. Jangan terlalu capek kerjanya " Saya hanya tersenyum.

Saya kan hanya makan dan minum ketemu orang.

Capek nya dimana ? tapi itu tidak saya katakan.

Karena saya selalu salah dihadapannya...



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)