Facebook

Tuesday, 20 June 2017

Analogi Lion Air Bang Bonar COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)



Babo analogikan saja saya. Ada Bang Bonar, dia dapat izin trayek taksi Jakarta Bandung. Dia engga ada uang untuk beli banyak taksi. Mau beli cara leasing jumlahnya terbatas dia dapat dan lagi bunganya selangit.

Lantas gimana caranya bang Bonar dapatkan kendaraan. Dia akan tawarkan kepada siapa saja yang punya uang untuk invest di perusahaan taksinya. Dia tidak suruh orang beli sahamnya. Tapi orang hanya berhak atas kendaraan yang diinvest.

Contoh kalau orang invest satu kendaraan maka dia berhak atas asset dari kendaraan itu.

Lantas mengapa orang tertariik invest ? 

Karena bang Bonar tawarkan harga diskon atas kendaraan.

Kok bisa diskon? 

Kan bang bonar belinya banyak dan langsung di pabrik. Contoh kalau harga kendaraan di show room Rp. 200 juta, tapi dengan bang Bonar , harga invest hanya Rp. 150 juta.

Status hukum atas kendaraan tetap atas nama investor namun izin trayek atas nama perusahaan Bang Bonar.

Para investor tidak perlu pusing gimana manage taksi itu. Semua kendaraan itu di kelola oleh bang Bonar. Bang Bonar juga orang baik dan transfarance. Dia punya iT sistem yang memungkinkan investor dapat memonitor pendapatan dari taksinya.

Jadi setiap hari dan setiap minggu, setiap bulan investor tahu pasti berapa pendapatan taksinya dan berapa dia dapat bagi hasil dari pendapatan itu. Keren kan. Makanya ketika dia pesan 200 taksi di pabrik, sudah ada 200 investor retail yang siap beli itu kendaraan setelah dikirim oleh pabrik.

Nah sekarang pertanyaan berikutnya adalah bagaimana meyakinkan pabrik? 

Pabrik kan tahunya setelah Purchase Order, ada Down Payment. Dan setelah pengiriman harus bayar lunas.

Darimana uangnya ? 

Bonar kan engga ada uang. Ho ho bang bonar memang engga ada uang tapi dia cerdas. Dia datangi bank.

Dia bilang dia butuh uang untuk bayar DP.

Bank akan tanya mana jaminannya ? 

Bang Bonar kasih data investor retail yang siap bergabung dengan dia apabla kendaraan sudah dikirim.

Pihak bank senyum sambil bilang " Pastikan mereka juga DP tanda serius mau invest setidaknya senilai DP kendaraan. Tapi DP invest dari investor tidak akan di cairkan sebelum ada pengiriman. Jadi semacam deposit. Tentu investor retail tidak keberatan. Kan uangnya di tempatkan di escrow bank yang tak akan dicairkan sebelum kendaraan diserahkan." 

Masalah berikutnya adalah bagaimana melunasi kendaraan itu. Karena pabrik minta COD atau cash on delivery atau LC at sight. Sementara investor hanya akan bayar penuh setelah kendaraan diserahkan.

Nah bang Bonar, minta fasilitas ke bank nya untuk dapatkan Non Cash loan dengan jaminan escrow dari retail investor atas kendaraannya. Atas fasilitas Non Cash loan ( SKBDN) tersebut , bang Bonar serahkan kepada Pabrikan yang segera mengirim kendaraan sebanyak 200 unit.

Setelah pengiriman, investor retail lunasi commitment investasinya dan Bang Bonar lunasi hutang nya ke bank. Selanjutnya secara pribadi bang Bonar engga punya hutang kepada siapapun. Setiap investor yang bergabung dengan dia memberikan margin 15% dari penerimaan jasa atas setiap kendaraan.

Jadi kesimpulannya, apa yang membuat Bang BOnar bisa akalin semua itu? 

Karena dia punya trayek taksi. Engga semua orang mudah dapatkan trayek. Dengan trayek ditangan maka Bang Bonar punya konsesi bisnis yang bisa di bagi kepada banyak orang agar sama sama untung.

NAH BEGITULAH ANALOGI dari Bagaimana Lion berbisnis. Lion beli pesawat Air Bus dan pada waktu bersamaan menjual kembali kepada investor.

Dari skema ini dia dapat pinjaman bank untuk pengadaan pesawat tanpa ada resiko apapun.

Seperti linked business antara pabrikan dan investor. Untuk detailnya nanti babo tulis tersendiri di postingan.




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)