Facebook

Thursday, 15 June 2017

Akuisi tanpa modal COPAS dari DDB (Diskusi Dengan Babo)


Dulu tahun 2008 ada perusahaan yang bergerak di bidang industri downstream yang berlokasi di Sumatera Utara menawarkan diri untuk dijual. Padahal Perusahan baru setahun berproduksi. Namun setelah melalui negosiasi panjang, mereka mundur dari negosiasi karena lebih suka deal dengan salah satu konglomerat yang lagi naik daun.

Saya sempat kecewa karana mereka melakukan dispute atas pre purchase agreement. Saya kehilangan uang untuk membayar lawyer, fund Manager dan consultant. Tapi saya tidak mau membawa ke pengadilan. Ini sudah resiko.

Tadi relasi banker saya di Singapore telp saya. Mereka tawarkan take over pabrik dalam kondisi sita jaminan akibat default. Ternyata targetnya adalah industry downstream yang dulu gagal deal dengan saya. Saya tersenyum. Rezeki anak Sholeh engga kemana.

" Mengapa Anda offers ke saya ?

" Kami tahu dulu Anda pernah ikut dalam proses TO tapi digagalkan oleh kompetitor Anda. Sekarang mereka default atas utangnya. Makanya kami tawarkan ke Anda. "

" Ok. Berapa offers nya ?

" Senilai loan dan bunga"

" Jadi berapa totalnya ?

" 200% dari Nominal loan.

" masih ada liabilites lain?

" Engga ada. Sudah Clean lewat restruktur"

" Berapa kapasitas terpakai sekarang?

" 40%?

" Mengapa ?

" Karena sejak 3 tahun lalu vendor yang jamin off take produksi mundur. Di gantikan dengan yang lain dari AS, tapi off taker nya seperti MBO aja. Makanya hanya produksi sesuai kebutuhan off taker aja untuk menjamin supply chain."

" Ok."

" apa Anda berminat?

" Tentu. Tapi saya ingin keputusan cepat. Apakah bisa ?

" Ya bisa."

" Ok. Ini proposal dari saya: Harga 150 dari LTV bank."

" mengapa ?

" Karena saya tidak membeli semua resiko yang ditimbulkan oleh management sebelumnya dan juga kesalahan bank dalam memberikan keputusan kredit. Penyusutan tidak saya perhitungkan. Jadi harga yang saya usulkan cukup bijak. Anda tanggung sebagian resiko, dan sebagian dari saya"

" Tapi pabrik ini punya off take "

" itu hanya 40% yang dibawah BEP. Untuk ekspansi udah engga mungkin karana sudah insolven."

" Ok. Paham.

" Deal ?

" Deal"

" pembayaran gimana?

" Melalui LBO. Anda kasih saya pinjaman untuk ambil alih itu tanpa ada angsuran selama 5 tahun."

" Jaminannya apa?

" Disamping pabrik , juga blocking payment dari off taker yang nilainya sama dengan 100% kapasitas pabrik. Saya akan lunasi pada tahun ke 5. Kalau market value pabrik diatas loan, saya akan bayar sesuai value. Kalau value pabrik dibawah harga market, saya bayar sesuai loan. "

Banker itu terdiam. Cukup lama.

" Baik. Kami setuju"

" Bagaimana dengan modal kerja"

" Maksud Anda ?

" Loh blocking payment itu dalam bentuk revolving L/C. Tidak akan jadi payment kalau engga ada modal kerja. Dan saya tidak mungkin bisa lunasi hutang"

" Tapi engga mungkin kami beri Modal kerja "

" Baik, kalau begitu saya masuk plan B. Harga pabrik dengan haircut bunga dan setelah di potong depreciation asset sesuai standar international. "

" Hmm itu artinya kami kehilang uang hampir 30% dari loan yang kami berikan. Belum lagi hilang pendapatan bunga "

" Ya itu wajar. Dari pada total lost. Karana Anda bicara pabrik yang nilainya bukan ditentukan oleh asset tapi oleh secure market dan management. Dan saya punya itu. "

" Boleh saya berpikir."

" Dari awal saya udah bilang, keputusan harus cepat. Now Or never"

Dia terdiam lama. Saya tahu dia mikir. Saya asyik dengarin nazwa nyanyi sambil joget ditempat tidur. "

" Ok Bandaro. Deal. "

" Deal apa?

" Kami tidak mau kehilangan 30% dan lebih memilih kemitraan dengan Anda. Karena kami akan menikmati cash flow atas blocking Payment dan juga nilai LTV kami tidak dikorbankan terlalu besar. Dan lagi kami punya future apabila Business plan berjalan sesuai rencana. Juga kami akan mendaparkan bunga dari kredit modal kerja, dan karena itu kami punya akses mengontrol revenue"

" Terimakasih. "

" Senang deal dengan Anda "

" Ok. Minggu depan Business process kita mulai. "

Dapat pabrik tanpa keluar modal karena Business network dan kekuatan marketing dan management.

Business adalah proses membangun TRUST dan memastikan tidak ada pihak yang dirugikan. Dah gitu aja.

Catatan :

TO : Take Over
LTV : Loan to Value Ratio
MBO : Management Buy Out
BEP : Break Even Point
LBO: Leveraged Buy Out
LC : Letter of Credit

Q&A

Rach Man Wah, business plannya hrs bener2 jalan selama 5 thn tuh Pak, kalau nggak bisa hilang kepercayaan dr dia. 9 Tahun berlalu, bukannya udah byk yg berubah pak?

Erizeli Jely Bandaro Dengan adanya off taker sebesar 100% dari kapasitas itu sudah jaminan Business plan engga mungkin gagal. Apalagi saya tahu IRR nya diatas bunga bank. Lima tahun dengan peningkatan kapasitas 100% , dalam empat tahun sudah bisa bayar utang dan IPO di bursa dengan PER 4 kali

Eka Ebe Bernard Hmm kok cepet banget ambil keputusannya ya babo berapa lama study pasar sebelumnya ?

Erizeli Jely Bandaro 9 tahun lalu sudah riset dan setelah itu babo buat yang sama di China bersama mitra dari jepang dan Hong kong..Jadi bukan bisnis baru. Kita kuasai market dan management.

Ricky Saragih Wah.. pasti Uda punya reputasi yang sangat bagus terhadap bank tsb.. krn menurut analisa saya:

1. Debitur awal sudah default -- mereka sudah loss, seharusnya utk menutupi kerugian, mereka jual aset perusahaan itu (cut loss)

2. Bank tsb menawarkan ke Uda, dimana Uda meminta melalui skema Leverage Buy Out (LBO), dimana Uda mengakuisisi Perusahaan ini dengan pinjaman dari Bank yg sama.

Menurut hemat saya, ini sama aja dgn Bank membuka hutang baru senilai harga cutloss nya Bank, sehingga risiko Bank (dgn mengesampingkan reputasi Uda) akan menjadi dobel, yaitu piutang lama yg telah default plus piutang baru ke Uda.

3. Yang sangat menarik adalah Uda meminta deferred installment, which is, Uda tidak membayar apa-apa utk 5 thn kedepan, sehingga Bank tidak mendapatkan aktual interest dr LBO yg diberikan ke Uda. Sehingga perhitungan interest hanya hitungan diatas kertas saja, bukan aktual cash inflow. Keputusan yang sangat berani, krn di neraca account bank tersebut, sepanjang pengetahuan saya, mereka juga hrs prepare contigency spare utk menjaga balance sheet nya dlm keadaan sehat. Ini benar2 risiko. Bagaimana mereka mengaturnya atas 2 loan, dimana yg satu sudah default, sementara loan kedua, tidak ada pembayaran selama 5 tahun.

4. Meskipun Bank mendapatkan blocking payment dari off taker, namun Uda meminta working capital loan (kredit modal kerja), sehingga Uda ga perduli bank ngeblock revenue pabrik, karena pabrik ttp bs produksi dengan kredit modal kerja dari Bank.

Ini loan yang ketiga. Meskipun pada akhirnya kredit modal kerja tidak jadi diberikan, namun tetap saja dikompensasikan ke reduction 30% lagi dari harga 150 dari LTV bank (penawaran pertama) - karena memasukkan depreciation, dimana sewajarnya utk pabrik itu 15-20 tahun. Jika mengambil depresiasi 20 thn, sebenarnya Uda sudah hampir setengah jalan (9 thn). Sehingga harga pabrik itu sebenarnya tinggal setengah. Apalagi untuk 5 thn kedepan.. tentu tidak bisa menutup loan awal yg telah default plus LBO ke Uda plus lagi kompensasi kredit modal kerja ke reduction harga pabrik (setelah depresiasi).

Djoko Prijono Pembayaran ambil alih melalui LBO dengan pinjaman tanpa angsuran selama 5 tahun, .... Maksudnya apa grass periods 5 tahun tanpa bunga atau tetap dikenakan bunga Babo??

Erizeli Jely Bandaro Bunga tetap bayar tapi tidak ada angsuran. Artinya bunga di kapitalisasi

Moh Wisnu Ibadi Industry downstream itu contohnya industry seperti apa sj?

Erizeli Jely Bandaro Seperti petrokimia itu menghasilkan downstream plastik atau PPC dll


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)