Facebook

Monday, 8 May 2017

Pabrik Minuman Ginger Beer oleh Erizeli Jely Bandaro


Creative Common Image by EJB


Kaya jadi petani....

Saya dapat email dari teman di Korea. Dia menawarkan kerjasama bangun pabrik minuman Ginger beer. Jangan buru buru bilang ini minuman beralkohol. Ginger beer bukan minuman beralkohol tapi minuman ringan lainnya seperti soda.

Karena gaya hidup sehat sekarang sedang trend, permintaan ginger beer juga meningkat. Bahkan, menurut dia, disamping jahe diolah jadi minuman beer non alkohol juga dapat di produksi powder ginger ekstrak untuk berbagai kebutuhan industry pharmasi dan minuman.

Peluang pasarnya sekarang sangat bagus, khususnya ke Eropa, Jepang dan China. Tekhnologi pengolahannya juga sederhana dan bahan baku jahe juga tersedia banyak di Indonesia. Saya berjanji akan mempelajari penawaran kerjasama ini. Kalau memang bagus kenapa engga.

Lantas jahe apa yang cocok sebagai bahan baku untuk industri minuman itu ? 

Yang diminati adalah jahe organik atau ginger Organic. Umumnya jenis jahe merah. Berdasarkan data yang saya ketahui dari teman di Bogor, untuk menanam jahe organik tidak ditanam di tanah terbuka tapi melalui media polybag. 1 polybag itu bisa menghasilkan jahe organik sebanyak 5 Kg. Masa tanam 12 bulan.

Biaya produksi per polybag berkisar Rp. 10.000. Hasil per polybag adalah kalau harga dasar jahe organik sekarang Rp. 20.000 per kg maka total penghasilan sebulan Rp. 100.000 . Bila di kurangi biaya produksi maka hasil kotor sebesar Rp. 90.000. Ini margin yang luar biasa.

Bayangkan kalau anda menanam per 50 polybag setiap bulan selama 12 bulan maka setahun kemudian anda akan menerima penghasilan tetap sebulan sebesar Rp. 4.500.000. Dahsyat kan. Kenapa harus jadi buruh di jakarta dengan UMR dibawah Rp 4 juta.

Apabila ginger organic itu diolah jadi powder ginger maka per kg sekarang harganya bekisar USD 5-USD11 atau Rp. 100.000. Kalau di olah lagi jadi Natural and Organic Ginger Extract Powder (Water soluble ) sebagai bahan baku minuman dan pharmasi harganya bisa mencapai USD 10 - 50 atau Rp. 140.000 s/d 700.000 per kilogram.

Hebat kan. Kalau kapasitas pabrik sebulan 20 ton saja maka nilai ekspor powder ginger sebesar Rp. 2 miliar. Dan kalau diolah lagi jadi ekstrak maka nilai ekspor 20 ton sebesar berkisar Rp. 14 miiar. Margin laba yang didapat mengalahkan business tekhnologi tinggi yang harus investasi riset dan SDM mahal.

Bahkan lebih tinggi dari business pertambangan. Siapa bilang jadi petani itu miskin?. Begitu besar peluang untuk makmur dan Indonesai di beri berkah tanah pertanian yang dapat di tanam sepanjang tahun.

Masalahnya mau kerja engga ?

Di Korea, China, Jepang , Malaysia, petani makmur karena produk upstream pertanian di dukung oleh agro industry yang menciptakan downstream luas. Dan Indusri pengolahan ini di kelola oleh Koperasi. Sehingga petani menciptakan pasar sendiri melalui agro industri dan pada waktu bersamaan mendapatkan pasar yang luas dengan nilai tambah tinggi.

Semoga program Jokowi melalui reformasi agraria dapat menggabungkan agro industri dalam program pembagian lahan 17 juta hektar kepada rakyat dan koperasi. Sehingga program reformasi agraria bukan hanya menjadikan petani sebagai petani dalam komunitas muram tapi petani yang bergairah karena mencari nafkah mudah... semoga



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)