Facebook

Wednesday, 17 May 2017

Merebut Hati oleh Erizeli Jely Bandaro


Creative common image by EJB

Merebut hati...

Pernah suatu ketika saya mengundang salah satu CEO BUMN China untuk makan malam.

Kebetulan telah lebih setahun berkenalan dengannya, hubungan saya dengan dia jadi dekat.

Hubungan bisnis antara saya dengan dia tidak ada.

Namun saya suka bertemu dengan dia untuk mendapatkan wejangan darinya tentang filosofi hidup. Dalam acara makan malam itu hadir , rekannya, putranya dan tiga orang stafnya. Sebagaimana biasa, saya dengan telaten melayaninya.

Maklum usianya sudah diatas 70 tahun. Orang tua saya mendidik saya agar menghormati orang tua dan itu saya praktekan dengan siapapun. Jadi saya tidak merasa rendah bila melayaninya dengan baik. Dan juga menjadi pendengar yang baik.



Setelah usia makan malam, rekannya meminta business card saya.

Dan saya menyerahkan dengan sambil membungkuk. Diapun menyerahkan kartu nama, tapi itu hanya personal card, bukan business card.

Saya tidak menaruh perhatian terlalu banyak dengan rekannya ini.

Namun seminggu kemudian, saya dapat telpon dari seseorang untuk mengundang saya makan malam. Dia memperkenalkan diri sebagai orang yang minggu lalu bertemu dengan saya waktu makan malam. Saya menyanggupi untuk bertemu.

Usai makan malam, dia memerkenalkan bisnisnya. Saya terkejut karena dihadapan saya adalah konglomerat yang punya jaringan hotel dan cassino, juga beragam business termasuk bank. Mungkin di Hongkong dia masuk 100 orang terkaya. Dia menawarkan porfollio asset nya untuk saya kelola.





"Mengapa anda begitu saja percaya dengan saya ?" Tanya saya.

Dengan tersenyum dia berkata :

" Keramah tamahan dan ketulusan anda kepada orang tua yang juga orang yang sangat saya hormati minggu lalu, telah membuat saya jatuh hati kepada anda. Dan yang lebih membuat saya terpikat adalah keramah tamahan itu tidak ada kaitannya dengan bisnis. Benar benar tulus. Saya yakin bahwa saya menemukan mitra yang tepat untuk jangka panjang." Saya menghormati sikapnya.

Dan berjanji akan mengajukan proposal bila ada peluang bisnis yang bagus untuk mengelola dananya.

Memang dari orang tua sang CEO BUMN saya tidak mendapatkan bisnis tapi dari network nya saya dapat peluang. Kebaikan dan ketulusan selalu berbuah, entah darimana datangnya, itu akan terjadi dengan sendirinya.

Menjadi pengusaha itu adalah seni merebut hati orang lain.

Anda tidak akan bisa berkembang tanpa kemitraan dengan pihak yang tepat.

Namun mendapatkan mitra yang tepat tidak bisa hanya mengandalkan proposal dan kehebatan retorika presentasi bisnis tapi dengan kerendahan hati.

Kerendahan hati itu tidak didapat dengan hanya bermanis muka tapi sabar melewati proses sampai orang bisa mengerti anda dan percaya. Anda tidak bisa memaksa orang jatuh hati tanpa ada kemauan anda untuk berkorban dengan tulus. 

Kalau anda memudahkan diri tersinggung, merasa paling benar , merasa patut di hormati, dan hanya mau ketemu kalau ada maunya, yakinlah sampai kapanpun anda tidak akan bisa merebut hati orang dan rezeki pun akan sempit.

Pahamkan sayang..

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)