Sunday, 7 May 2017

Free Port oleh Luhut Binsar Pandjaitan


Creative Common Image by LBP
“Mr. Secretary, presiden Anda selalu menyerukan ‘American first’, masa Rakyat Indonesia tidak boleh bilang ‘Indonesian first’ ?” sambil tersenyum saya mengatakannya langsung kepada Secretary of Commerce Amerika Serikat Mr. Wilbur Louis Ross Jr. “Ok, I understand,” tanggapan menteri perdagangan tersebut menutup pembicaraan kami tentang Freeport di Washington minggu lalu.

Pembicaraan ini dimulai ketika menteri yang berusia 80 tahun tersebut terkesan mengkritik ketegasan pemerintah Indonesia mengenai ijin usaha pertambangan Freeport. Beliau mengatakan bahwa sebagai dampaknya, pengusaha Amerika tidak mau lagi datang berinvestasi ke Indonesia.

Saya tetap menghormati menteri terkaya di pemerintahan Trump ini. Menurut Forbes kekayaannya mencapai 2,5 milyar dollar AS. Memang kaya sekali, saya lihat dari jas dan dasinya yang paten.

Tapi Beliau sangat dihormati karena kekayaan tersebut diperoleh dari kerja kerasnya yang dimulai dari bawah.

Akhirnya saya menjelaskan dengan sebuah analogi sederhana, bahwa Freeport adalah seperti penyewa rumah di bumi Indonesia.

Setelah 50 tahun kalian selesai menyewa rumah kami, lalu kami bilang rumah itu mau kami pakai lagi untuk anak cucu, masa kalian ngotot untuk tetap tinggal di rumah tersebut?

Apakah kami sebagai pemilik rumah tidak punya hak untuk bilang bahwa kami mau pakai sendiri rumah kami?

Selanjutnya, saya sampaikan bahwa jika mereka mau terus menyewa, ya sudah sebagai teman lama kami akan mempersilakan. Tapi eloknya, kami yang mengatur. Aturan kami sederhana kok.

Pertama, kalian harus memberikan 51% mayoritas saham kepada Rakyat Indonesia.

Masa kami tidak boleh mendapatkan 51% saham setelah 50 tahun?

Kedua, kami tidak mau lagi Freeport mengekspor bahan mentah. Kami mau nilai tambah. Masak tidak boleh kami minta supaya Freeport membangun smelter, yang selama ini memang tidak pernah dilaksanakan?

Cerita di atas menggambarkan bagaimana diplomasi seharusnya dilaksanakan yakni dengan santun, jelas, tapi tegas dalam mengatakan, “ini kedaulatan negaraku, jangan main-main.”











Pertemuan di atas hanyalah salah satu dari serangkaian kegiatan saya di Amerika Serikat. Selain bertemu dengan menteri perdagangan, saya juga bertemu dengan World Bank President Jim Yong Kim, UNGA President Peter Thomson, IMF Secretary, S&P President John Berisford, Senator John Mc Cain, NCS’s Matt Pottinger, US Business, dan CSIS.

Selama kunjungan di Amerika saya juga mendengar sendiri betapa Indonesia sekarang sangat diapresiasi. Misalnya IMF Managing Direktur Christine Lagarde yang memuji pencapaian Indonesia dalam ekonomi. Di dalam G-20, basis data keekonomian kita jauh lebih baik dibandingkan India dan China.

Mendengar ini tentu kita harus bangga. Tetapi jangan pernah membuat diri kita tidak dihargai orang lain. Boleh saja kita berteman dengan banyak orang, tapi jangan pernah ragu menegakkan prinsip yang benar.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)