Friday, 5 May 2017

Akuisisi Perusahaan Logistik Migas Oleh Erizeli Jely Bandaro


Creative Common Image by EJB

Jurnalku sehari...

Teman saya orang asing dari Singapore minta bertemu dengan saya di Grand Hyatt. Dia seorang wanita usia 40an. Cerdas dan pekerja keras. Saya berjanji akan datang setelah sholat lohor. Namun ditengah jalan saya harus telphone dia karena demo jalan kearah Thamrin Sudirman dari arah Harmoni ditutup.

Saya terpaksa memutar lewat cideng. Jadi mungkin datang agak terlambat. Dia dapat maklum. Ketika bertemu, dia tawarkan untuk melepas saham perusahaannya sebesar 80%.

Saya sanggupi asalkan dia setuju itu saya lakukan dengan skema LBO. Funding akan saya dapat dari mitra saya di China. Namun dia menempatkan syarat agar tidak ada PHK. Saya katakan bahwa itu akan jadi prioritas saya selagi culture perusahaan bisa menerima management Indonesia.
Sebetulnya negosiasi dengan teman itu sudah berlangsung setahun. Namun selalu tida ada titik temu. Sekarang dia datang dengan wajah menyerah. Perusahaan teman itu bergerak di bidang logistik MIGAS.

Karena bisnis MIGAS sedang lesu, perusahaannya bleeding akibat spending lebih besar di bandingkan revenue. Solusi selama tiga tahun belakangan ini diambil dari bank berupa pinjaman jangka pendek. Akibatnya DER melewati pagu yang ditetapkan oleh Bank.

Sehingga solusi pembiayaan tidak ada lagi. Namun dari segi pengalaman , dan tekhnologi tidak perlu diragukan. Yang lebih penting perusahaan itu punya business network untuk trading migas. Saya melihat peluang lebih baik karena pangsa pasar untuk bisnis Gas di Indonesia sangat besar. Apalagi Indonesia negara kepulauan yang sangat membutuhkan fasilitas logistik.

Bulan lalu ada perusahaan manufaktur di China yang setuju sebagai provider pembangunan fasilitas logistik. Rencana saya akan membangun beberapa lokasi di Indonesia. Pengalaman perusahaan itu tidak perlu diragukan.

Business plan saya untuk akuisisi perusahaan logistik di Singapore dimakannya begitu saja. Karena melhat ada peluang kemitraan jangkan panjang. Dia bersedia memberikan sumber pembiayaan melalui bank Exim China asalkan mereka mendapatkan kontrak provider jangka panjang.

Hanya saja mereka butuh jaminan secure market dari saya. Caranya, adanya blocking payment berupa NCL secara revolving selama 5 tahun. Berdasarkan IRR yang ada pada business plan, lima tahun cukup untuk melunasi hutang.

Seusai meeting dengan teman di Grand Hyatt, saya telp Investment banker di Hong kong. Setelah mendengar penjelasan saya, mereka setuju untuk memberikan fasilitas NCL melalui skema bond backed SBLC. 

Maka selesailah proses negosiasi akuisisi selama setahun. Selanjutnya akan melewati proses finacial closing dan legal aspek. Itu akan ada team ahli yang kerja. Saya mengucapkan syukur kepada Tuhan. Karena kebijakan Jokowi dibidang MIGAS membuat asing harus tunduk dengan lokal. Andaikan tidak ada reformasi migas mungkin saya tidak akan pernah deal seperti ini. Karena singapore tetap akan jaya di bidang jasa dan trading migas.

Tugas saya selanjutnya pulang kerumah temui istri, yang minta agar saya harus sudah dirumah sebelum jam 9 malam. Sampai dirumah jam 11 malam ya kena omelan..



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)