Monday, 3 April 2017

Pengalaman Garibaldi Boy Thohir Menguasai Adaro


Dalam pemikiran dan cita-cita para pendiri bangsa, sumber daya alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Mengacu pada hal tersebut, tambang-tambang mineral dan batu bara idealnya dimiliki oleh orang Indonesia, dikelola oleh orang Indonesia, teknologinya juga dikuasai oleh orang Indonesia, dan hasilnya untuk orang-orang Indonesia.

Creative common image by detik

Meski demikian, dalam realitanya, kekayaan mineral dan batu bara Indonesia masih banyak dinikmati oleh perusahaan-perusahaan asing. Kekurangan perusahaan Indonesia dalam hal permodalan, teknologi, manajemen sering disebut-sebut untuk membenarkan dominasi asing di sektor pertambangan.

Tapi beberapa pengusaha nasional telah berhasil membuktikan bahwa anggapan itu tidak benar. Salah satu orang yang sukses mematahkan mitos superioritas asing itu adalah Garibaldi 'Boy' Thohir. 

Bersama 3 orang pengusaha Indonesia lain, 12 tahun lalu Boy mengakuisisi PT Adaro Energy Tbk (ADRO), perusahaan tambang penghasil batu bara terbesar kedua di Indonesia yang awalnya dimiliki investor Australia.

Pria kelahiran 1 Mei 1965 ini bahkan berhasil membuat Adaro lebih besar dibanding saat masih dipegang orang-orang asing. Produksi batu bara Adaro yang pada 2005 masih 24 juta ton sekarang sudah melompat hingga 52 juta ton alias lebih dari 2 kali lipat.

Kinerja perusahaan pun makin kinclong. Kini Adaro juga bukan hanya berbisnis di pertambangan, tapi juga di logistik batu bara dan pembangkit listrik. Ini membuktikan bahwa orang-orang Indonesia mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri.

Bagaimana kisah sukses Boy Thohir mengakuisisi dan membesarkan Adaro? 

Berikut petikan wawancara khusus detikFinance dengan Boy di Menara Karya pada Kamis (29/3/2017):

Bisa diceritakan bagaimana Anda mengakuisisi Adaro dari pihak asing bersama beberapa orang kawan?

Tahun 2003-2004 ada opportunity di Kalsel. Waktu itu saya ajak Pak Teddy Rachmat (Theodore Permadi Rachmat), ada konsesi, Alhamdulillah sampai sekarang masih jalan. Itu punya Almarhum Haji Sulaiman, Hasnur Grup, di Kalsel. Singkat cerita, saya sama Pak Teddy Rachmat join 50:50, kita join lagi sama Pak Haji Sulaiman, ada tambang beliau yang tadinya sudah kolaps di 2003-2004 kita kerjain dan mulai naik.

Kemudian Pak Teddy Rachmat bilang ke saya, "Kalau mau jadi pemain, jangan tanggung. Kalau mau jadi pemain, jadi pemain sekalian." Istilah Pak Teddy begitu lah, kita harus eksis, jangan cuma jadi penonton. Waktu itu Adaro masih dikuasai sama perusahaan Australia, namanya New Hope.

Ada opportunity, tahun 2005 harga batu bara mulai meningkat, mulai booming comodity.

Kenapa? 

Awal 2001-2002 ekonomi China meningkat, China bangun infrastruktur gila-gilaan. Jalan, pelabuhan, PLTU, semua dia bangun karena ekonominya meningkat 10%, 11%, 12%, mereka perlu iron ore, bauksit, nikel, batu bara. 


Mereka produsen batu bara terbesar dunia, tapi cadangannya di inner Mongolia, untuk transportasi batu baranya ke kota-kota pesisir mereka seperti Guangzhou, Delta River, Shanghai, mahal. Jadi mereka enggak bisa mengandalkan batu bara dari inland mereka, harus impor juga. Yang paling efisien secara geografis dari Indonesia, Australia agak jauh.

New Hope pada 1992 sudah masuk ke Indonesia, jatuh bangun, pada 2005 mereka berpikir harga sudah bagus, time to exit. Di situ lah saya sama Pak Teddy Rachmat lihat kesempatan, Pak Teddy kasih motivasi. Waktu itu Pak Edwin (Edwin Soeryadjaya) sama Pak Benny (Benny Subianto) sudah ada di Adaro, 60% dikuasai New Hope dan 40% oleh Pak Edwin dan Pak Benny.

Singkat cerita, Pak Teddy bilang kita gabung saja sama mereka, why not? Makanya di 2005 kita take over dari New Hope. Kita bikin konsorsium baru yang terdiri dari Saratoga, Triputra, TNT, dan Persada Capital untuk take over Adaro Indonesia dari perusahaan asing.

Kita mempunyai satu cita-cita dan kesamaan pendapat bahwa ini ada kesempatan di batu bara, kita mau membuktikan bahwa aset-aset terbaik bangsa ini sebetulnya bisa dikelola oleh bangsa Indonesia. Pada 1992 masih asing semua, kita belajar pelan-pelan, di 2005 kita yakin pasti bisa. Saya di-support juga oleh partner-partner yang berpengalaman dan punya nama baik luar biasa, saya confident.

Tadinya Adaro di-manage dan di-operate oleh asing, akhirnya di 2005 kita yang take over. Menurut saya ini merupakan tonggak sejarah, milestone baru. Di 2005, dengan segala risiko yang ada, kemampuan yang terbatas, uang kita pinjam, tapi kita punya satu keyakinan bahwa bangsa Indonesia bisa mengelola aset-aset natural resources yang ada. Kita sebagai pengusaha nasional, pengusaha Indonesia ingin memberikan kontribusi lebih. Ini tantangan, tapi Alhamdulillah kita bisa.

Bagaimana situasi setelah Adaro diambil alih?

Enggak gampang. Kalau diingat waktu itu 2004 harga batu bara naik, eh 2006 turun. Kita sempat ketar-ketir juga. Tapi dengan kerja keras, efisiensi, fokus, value yang kita miliki, visi yang jelas semua bisa dilalui.

Waktu itu 2005 kita hanya fokus di tambang batu bara saja, belum ke yang lain. Kita melakukan efisiensi, konsolidasi ke dalam. Saya bilang ke manajemen, tolong support saya, tolong berikan dukungan penuh. Saya enggak mau teman-teman kita yang dari Australia mengatakan kalau di-take over orang Indonesia pasti kolaps.

Hampir 95% pekerja orang Indonesia, ekspatriat di Adaro dari dulu sedikit. Bahkan waktu masih dikuasai New Hope paling cuma 20 orang, sekarang paling hanya 7 orang. Tapi yang besar orang Indonesia. Saya tanya, siap enggak? Mereka (pekerja Indonesia) jawab, "Siap Pak, orang kita yang kerja kok." Saya bilang jangan ngomong aja, kalau nanti kolaps si orang-orang Australia menertawakan kita.

Dengan motivasi itu, Alhamdulillah 2005 waktu kita take over produksi batu bara Adaro masih sekitar 24 juta ton, sekarang sudah 52,6 juta ton.

Setelah itu bagaimana langkah-langkah untuk membesarkan Adaro?

2008 kita putuskan Adaro untuk menjadi perusahaan yang lebih besar dan lebih baik lagi, kita putuskan Adaro jadi perusahaan publik supaya lebih transparan lagi, dan sebagainya. Jujur juga, waktu itu kita pinjam, leveraged buyout, LBO. Kita perlu reduce ini supaya dapat dana dari publik untuk mengurangi itu.



Dan di 2008 itu juga kita memutuskan mengubah visi kita yang tadinya hanya bertumpu pada batu bara saja, waktu itu kita sepakat ke depan kita mau lebih integrated. Jadi tidak mau tambang batu bara saja, tapi logistik dirapikan, kita juga mau masuk ke bisnis pembangkit. Dari 2008 sampai sekarang, kita fokus ke 3 pilar,yaitu mining, logistic and sercvices, sama power. Kalau dulu tambang saja, sekarang pit to port to power. 

Bagaimana Anda menghadapi berbagai tantangan di industri pertambangan seperti perizinan, lahan, CnC, fluktuasi harga komoditas?

Yang penting kita fokus, permasalahan begitu banyak tapi saya punya satu rumusan. Kita kan tiap hari bangun tidur pasti ada problem. Di kantor, di rumah, urusan keluarga, every day life, apalagi di perusahaan. Tapi kita fokus satu-satu, one at the time. 

Masalah tanah, kita fokus ke tanah dulu. Masalah perizinan, kita fokus perizinan dulu. Dengan cara itu kita bisa solve satu-satu. Problem come and go. Tapi kalau kita punya tim yang bagus, fokus menyelesaikan satu per satu masalah ya lama-lama kelar.

Kita semua juga sepakat bahwa yang namanya harga jual itu enggak ada yang bisa kontrol. Siapa yang bisa kontrol nanti naik atau turun? Tergantung supply dan demand, feeling saja. Misalnya kemarin terjadi badai cyclone di Australia, mestinya harga batu bara naik karena suplai terganggu. Tapi kembali, harga jual enggak ada yang bisa prediksi.

Yang bisa kita prediksi adalah cost. Makanya kita mesti bisa kontrol cost. Cost, cost, cost. Harus efisien, harus efisien, harus efisien. Sehingga kalau kita menjadi one of the lowest cost producer, kalau harga lagi turun kita bisa survive. Kalau misalnya kita enggak efisien, sama seperti gempa bumi, yang rapuh-rapuh begitu kena gempa sedikit langsung rubuh. Kita mesti menjadi one of the lowest producer mining company. Namanya komoditi selalu up and down. 

Kemudian enggak bisa bergantung pada satu bisnis saja. Kalau bergantung sama mining saja ya kolaps. Mesti ada tambang, logistic services, dan power plant (pembangkit listrik).

Kenapa power plant? 

Kita ingin memberikan kontribusi lebih pada negara dan bangsa. Value added batu bara adalah listrik. Batu bara itu mau di-upgrading, ujungnya ke listrik. Jadi nilai tambahnya kita bikin batu bara ini jadi listrik. Kebetulan di Indonesia sumber batu baranya ada. Kenapa kita enggak pakai untuk pembangunan bangsa?


Apa saja tantangan yang dihadapi Adaro di bisnis pembangkit listrik?

Menurut saya, pertama ini kan suka atau tidak, harus tender. Jadi kita harus siapkan proposal terbaik pada PLN. Tapi setelah itu juga enggak gampang, menang tender doang bukan segalanya. Setelah kita menang tender, bisa enggak kita menyiapkan segala sesuatunya, terutama pendanaan. Bisa enggak meyakinkan bank-bank bahwa investasi kita bisa berjalan dengan baik. Untuk menuju financial close enggak gampang, tantangannya banyak sekali. Tanahnya siap enggak.

Dalam kasus PLTU Batang, hampir 5 tahun tertunda. Kita beruntung punya seorang Presiden, Pak Jokowi, yang punya visi jelas mau bangun infrastruktur dari mulai tol, pembangkit listrik. Dari zaman kita merdeka sampai hampir 70 tahun, kita punya pembangkit listrik hanya 50.000 MW, beliau bercita-cita menambah 35.000 MW.

Menurut saya visi itu betul sekali. Pengalaman saya di Adaro sendiri, listrik kita itu kurang. Bagaimana di daerah mau ada hotel, pabrik, toko kalau enggak ada listriknya? Makanya kita mau support berperan aktif.

Kita mampu memberikan proposal terbaik, kita juga sudah membuktikan 6 bulan terakhir kita berhasil mencapai 2 financial close, PLTU Batang dan PLTU Tabalong. Enggak mudah, masalah tanah, masalah EPC, masalah dengan JBIC, tapi Alhamdulillah kita mampu. Kita punya balance sheet yang kuat, kita berharap diberikan kesempatan-kesempatan berikutnya. Adaro bukan saja pure ingin mencari keuntungan, tapi juga bagaimana memberikan kontribusi yang lebih besar lagi untuk Indonesia.

Kalau Indonesia makin bagus, makin hebat, makin besar, perusahaan-perusahaannya juga makin besar. Enggak ada perusahaan yang masuk Fortune 500 Biggest in The World yang berasal dari negara miskin, enggak ada. Jadi filosofi kita adalah negara harus maju, harus sejahtera, sehingga perusahaan juga jadi lebih besar, pegawai-pegawainya oke, rakyatnya oke, mereka butuh listrik lagi, butuh batu bara lagi, balik lagi ke kita.

Kalau kita bisa bersinergi antara pemerintah, BUMN, swasta, Insya Allah opportunity yang ada, program 35.000 MW yang dicanangkan Pak Presiden bisa dicapai. Tidak mudah memang, ini target yang cukup ambisius, tapi sudah enggak usah berargumentasi lagi, ini kebutuhan. Enggak usah berdebat mana yang duluan ayam atau telur, sudah ayam saja yang duluan, kita pelihara ayamnya dulu baik-baik nanti bisa bertelur, telurnya untuk kesejahteraan kita bersama.

Tak banyak IPP lokal yang mendapat kepercayaan membangun pembangkit berskala besar seperti Adaro. Tak banyak juga yang bisa mencapai financial close untuk proyek-proyek besar. Apa kuncinya Adaro sudah bisa financial close, salah satunya untuk PLTU Batang yang 2.000 MW?

Menurut saya, memang yang namanya tambang, yang namanya PLTU itu economy of scale. Pembangkit listrik 200 MW sudah bicara US$ 250 juta, not small. Jadi memang kasarnya ini proyek-proyek yang hanya bisa dikerjakan BUMN, pemerintah dengan APBN-nya, dan perusahaan-perusahaan besar. Perusahaan besar jumlahnya tidak banyak.

Bukan mau sombong, ini memang bidangnya Adaro, kita punya batu baranya, kita punya resources-nya, punya pengalamannya, punya uangnya, Alhamdulillah dipercaya menjadi partner sama Itochu dan J-Power di Batang, sama EWP di Kalsel. Kemarin tender PLTGU Jawa 1, kita sama Semcorp, rencananya sama Shenhua di Kaltim. Kita dipercaya karena kredibilitas Adaro selama ini. Untuk itu, ke depan saya berharap bisa diberikan kesempatan lagi. Saya enggak mau cuma jualan batu bara, kita juga terlibat aktif dalam pembangunan PLTU-PLTU di tanah air.

Setelah PLTU Batang dan PLTU Tabalong, kira-kira ada peluang di tender pembangkit mana lagi untuk Adaro?

Saya kira masih banyak, masih terbuka. Saya dengar pemerintah akan mencanangkan PLTU mulut tambang di Sumsel, di Kaltim. Kemudian yang pembangkit gas juga menurut saya opportunity masih ada. Kita siap, tentunya karena ini tender ya tidak mudah, tapi kita bisa.

Dengan adanya Permen ESDM Nomor 19 Tahun 2017 yang membatasi harga jual listrik dari PLTU dan PLTU mulut tambang, apakah bisnis ini masih cukup menarik?

Menurut saya masih cukup menarik. Kita memahami pemerintah tentu membuat peraturan sudah dengan berbagai pertimbangan. Tapi harapan dari saya, jangan dijadikan patokan. Bukan Indonesia saja yang giat membangun pembangkit. Vietnam, Bangladesh, Thailand, Filipina, Malaysia juga. Saya harap pemerintah bisa memberikan sesuatu yang atraktif sehingga partner-partner asing saya tertaring untuk investasi di Indonesia.

Partner asing saya dari Jepang, China, Korea kan melihat yang lebih atraktif investasi di Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam, atau Indonesia. Pemerintah harapan saya memberikan 'sweetener'. Saya harapkan bisa balance, mesti dibuat seatraktif mungkin. Pembangunan power plant kalau enggak diberi insentif yang atraktif, dikhawatirkan tidak menarik.

Tapi kita serahkan kepada pemerintah lah, kira-kira apa yang bisa menarik investor-investor asing ke Indonesia. Proyeknya kan gede-gede. Misalnya PLTU Batang ini US$ 4,2 miliar, kita harus bentuk konsorsium. Kalau untuk infrastruktur, kasih saja insentif yang menarik, kan enggak bisa diambil balik. Misalnya PLTU Batang sudah jadi, memang mau dibawa ke mana? Kan enggak bisa.

Soal PKP2B Adaro, kan pada 2014 sudah ada MoU. Bagaimana sekarang perkembangan renegosiasi PKP2B dengan pemerintah?

Perundingannya masih berlangsung. Tapi kalau menurut saya sih Adaro sudah quite close lah. Sepanjang mengikuti apa yang sudah kita tanda tangan, kita siap. Sebenarnya sudah enggak banyak, tinggal masalah kepastian hukum mengenai pajak sama masalah extention. Insya Allah dalam waktu tak lama lagi selesai. Kita siap lah.

Kita kan perusahaan nasional, kita memahami keinginan pemerintah. Tapi harus dipahami juga oleh pemerintah, harus dibuat kompetitif juga, jangan sampai kita mati. Ini kan aset nasional, milik pengusaha nasional. Alangkah sedihnya kalau kita sudah capek-capek mengembalikan ke pangkuan ibu pertiwi, kita berharap dapat dukungan juga dari pemerintah. Kontribusi yang kita berikan tahun lalu mungkin sekitar US$ 600 juta dalam bentuk pajak dan royalti kepada pemerintah, jadi not bad, cukup besar kontribusi kita. 

Harapan saya, kita diberikan iklim usaha yang kondusif, yang menarik, sehingga kita bisa maju. Benefit-nya ke rakyat Indonesia juga karena dapat ekses dari infrastruktur yang bagus, pembangkit listrik yang mumpuni dan environtment friendly.

Iklim usaha yang bagus dan kepastian yang diinginkan Adaro itu seperti apa?

IPP (Independent Power Producer) ini kan bisnis yang enggak gampang, berikanlah yang atraktif. Kalau IRR-nya sama seperti di Australia, Hong Kong, ya orang ke Australia atau Hongkong, kan country risk-nya lebih rendah di sana. Berikan yang lebih menarik sehingga banyak orang yang mau investasi.

Peraturan-peraturan yang soal negosiasi kontrak. Pak Jonan dan Pak Dirjen sudah bagus sekali, mereka menghormati kontrak, contract is contract. Saya bilang terima kasih. Saya juga mengerti bahwa Kementerian ESDM harus mengikuti Undang Undang, mereka juga tidak mau melanggar UU Minerba sehingga harus ada renegosiasi. Oke, saya setuju. Jadi win-win lah.

Apa tips dari Anda untuk pengusaha nasional lain yang ingin mengambil alih kepemilikan perusahaan tambang dari tangan asing? Bagaimana agar setelah diambil alih perusahaan bisa makin besar?

Ada 2 poin. Pertama, enggak ada yang namanya asing lebih baik. Kita bisa, kalau kita mau kita bisa. Medco membuktikan, Adaro membuktikan, Pak Supramu (Supramu Santosa) membuktikan. Bukan kita anti asing, tapi kita juga bisa. Kita bisa rekrut ekspatriat-ekspatriat yang bagus. Kita enggak boleh kalah dari asing.




Harus ada keinginan dan niat dari kita, bahkan kita lebih bisa. Bahasa di sini, bahasa kita. Kondisi alam di sini, alam kita. Negara, negara kita. Udara, udara kita. Tanah, tanah kita. Masak enggak bisa.

Kedua, dukungan dari pemerintah, harus ada keberpihakan. Kenapa? Kalau kita kan uangnya di sini, hidupnya di sini, matinya di sini.

Source : Finance-Detik


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)