Facebook

Tuesday, 28 March 2017

Memangkas biaya Listrik oleh Erizeli Jely Bandaro


Creative common image by Erizeli JB

Memangkas biaya Listrik...

Sejak dulu Pemerintah membuka peluang bagi dunia usaha untuk menyediakan pembangkit listri dan PLN sebagai penjamin pasar ( Market offtaker melalui PPA).

Sekali anda bangun pembangkit listrik maka anda bisa tidur nyenyak. Karena jumlah power yang di hasilkan pembangkit itu di beli semua oleh PLN.

Anda bisa menghitung laba dengan pasti dan dalam waktu tertentu investasi akan kembali. Selanjutnya anda tinggal menikmati keuntungan.

Mengapa begitu menariknya? 

Harga beli PLN kepada pembangkit listrik termasuk termahal di dunia. Semua pengusaha ingin mendapatkan peluang itu. Makanya jangan kaget kalau konsesi bisnis Pembangkit listrik lebih banyak dinikmati oleh pengusaha yang dekat dengan politisi.

Mengapa banyak yang mangkrak? 

Karena real investor umumnya engga mau beli izin konsesi. Kalaupun ada , pasti meminta kepada yang jual konsesi agar menekan pemerintah menaikan harga setinggi tingginya. Dan biasanya jual beli konsesi hanya berputar di kalangan broker.

Dalam satu rapat bisnis, saya mendengar teman bilang bahwa mimpi buruk itu bukannya Ahok tapi Jonan. Sama sama mata sipit. Tapi Jonan lebi gila.

Mengapa ? 

Dia pangkas biaya pembelian Listrik PLN. Tadinya harga pembelian PLN di tetapkan berdasarkan program nasional pengembangan energi terbarukan dan memperhatikan ongkos logistik atau istilah kerennya cost plus margin. Tapi sekarang situasi di balik oleh Jonan, PLN hanya beli berdasarkan biaya pokok produksi (BPP) listrik.

Apa yang terjadi ? 

Tadinya walau ada patokan harga tertinggi US$11,82 sen per kWh dan terendah USDD 6,9 sen namun faktanya di lapangan PLN membeli di atas USD 6,9 sen sampai dengan harga USD 11,82 sen Namun kini di pangkas USD 7,5 sen atau turun 30%.

Dampaknya banyak yang sudah pegang konsesi engga bisa lagi jualan konsesi. Karena peluang harga tinggi dan kebijakan cost plus margin tidak ada lagi. Mau engga mau terpaksa konsesi di lepas. Dan setelah itu yang akan masuk hanya real investor yang punya uang dan tekhnologi.

Tentu mereka bisa menjual kepada PLN dengan harga yang ditetapkan PLN. Pembangkit listrik yang mangkrak karena di tinggal pergi oleh investor, pemerintah ambil alih melalui penugaskan kepada BUMN.

Karena memang sebetulnya BUMN bidang Jasa kontruksi punya kemampuan membangun termasuk pendanaannya. Bahkan PLN sendiri bisa bangun tanpa harus semua diserahkan ke swasta. Selama ini mereka dikalahkan oleh pengusaha swasta yang punya koneksi dengan kekuasaan.

Jonan dan juga Ahok walau mereka berdua adalah pejabat negara namun cara berpikir mereka pure bisnis. Prinsipnnya buy low and pay later. Dan negara di untungkan, karena mereka berkerja untuk negara sebagai shareholder.

Cara berpikir seperti ini bisa tumbuh dan berkembang tentu karena Jokowi sebagai komandan memang berlatar belakang pengusaha. Jadi kalau anda masih punya mental petualang bisnis yang mau ngakalin pemerintah engga akan berhasil.

Cara berpikir anda mudah ditebak oleh mereka yang kini berkuasa. Mereka jago matematika bisnisnya dan punya network luas untuk mengetahui anda itu sebagai calo atau real investor.

Apa yang terjadi di era Jokowi? 

PLN termasuk yang pertama di reformasi oleh Jokowi diawal kekuasaanya. Di bawah komandan Sofyan Basir mantan dirut BRI, PLN yang tadinya merugi kini mencatat laba tinggi dengan likuiditas yang sehat untuk mengemban tanggung jawab menyediakan listrik nasional tanpa membebani APBN.

Sebetulnya begitu banyak masalah negara ini namun Jokowi mampu menempatkan skala prioritas untuk diselesaikan dengan cepat dan dia menuntaskan sesuatu yang sebelumnya oleh penguasa tidak pernah terpikirkan.

   

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)