Facebook

Monday, 27 March 2017

GAYA BROKER TOLL Indonesia Oleh Erizeli Jely Bandaro


Creative common image by erizeli JB
GAYA BROKER...

Suatu saat saya diajak Direksi BUMN untuk mendampinginya meeting dengan pengusaha besar yang punya konsesi jalan Toll. 

Sebetulnya keikutan saya dalam meeting hanya kebetulan.

Karena konsultan bisnisnya tidak datang maka jadilah saya konsultan dadakan.

Pengusaha besar itu tidak begitu saya kenal dekat. Hanya tahu dari media massa bahwa dia baru muncul kepermukaan setelah krismon 1998.

Dalam rapat itu dia didampingi oleh konsultan bisnis orang asing.

Setelah ramah tamah, kemudian konsultan bisnisnya mulai di persilahkan bicara menawarkan proposal bisnis.

Saya tidak punya data apapun untuk ladenin si bule ini dalam negosiasi.

Namun dengan tenang saya mendengar secara seksama presentasinya.

Menurutnya bahwa konsesi yang dimilikinya merupakan jalan toll dengan tarif per km yang paling tinggi di bandingkan jalan toll yang lain. IRR diatas 23 %. Itu exciting. Traffic proven diatas 20.000 per hari.

Demikian paparan singkatnya. Yang ditawarkan adalah

1). Good will sebesar Rp 500 miliar.

2). Modal disetor 30% dari nilai proyek.

3). Dia minta 60% saham atas proyek

4). 70% pembiayaan proyek di dapat dari bank.

Kesimpulannya yang bisa saya ambil dari tawarannya itu adalah bahwa dia hanya punya konsesi atau selembar kertas dari pemerintah. Atas dasar itu dia berhak Rp. 500 miliar bonus karena mengundang kerjasama. 

Kemudian saya bertanya " 60% saham yang anda inginkan itu dalam bentuk tunai.?"

" Benar" Katanya.

" Sama sama setor tunai"

" Benar tapi kami harapkan investor beri kami pinjaman untuk setor saham 60% itu. "

" jadi anda harapkan dapat pinjaman dari investor untuk setoran modal. Apa jaminannya ?

" Saham kami itu sebagai jaminannya."

" Pelunasannya?

" Ya dari deviden atas 60% saham itu"

" Bagaimana dengan pinjaman 70% dari bank ?

" Kami akan atur pinjaman dari bank tapi collateral dari investor"

" Jaminannya apa ?

" Proyek itu sebagai jaminan setelah selesai di bangun."

Saya hanya tersenyum tanpa mau bertanya lagi.

Setelah selesai meeting saya katakan kepada direksi BUMN bahwa proposal itu proposal Serigala.

Jaman sebelum Jokowi memang biasa tapi di era Jokowi engga bisa lagi. 

Karena konsesi bukan hal yang bisa dijual. Direksi BUMN kawatir tidak mendapatkan pinjaman ke bank.

Karena kelebihan pengusaha besar itu punya akses ke bank. 

Saya katakan engga sulit dapatkan pinjaman bank.

Saya akan atur skema Non recourse loan melalui bank di luar negeri. China development bank atau Korean export credit bersedia memberikan pinjaman. Setelah pertemuan dengan china development bank dan Credit export Korea, direksi BUMN itu semakin yakin.

Dia melaporkan masalah tawaran jalan toll itu kepada pemerintah.

Apa yang terjadi kemudian? 

Pemerintah membatalkan konsesi jalan Toll itu. Pengusaha besar itu gigit bakiak.

Harapan dapat bonus Rp. 500 miiar hilang. Upaya gugatan di pengadilan kandas. 

Proyek jalan toll itu sekarang sudah di bangun oleh BUMN setelah mangkrak selama 15 tahun ditangan pengusaha besar itu.

Dulu sebelum era Jokowi, begitu banyak proyek infrastruktur yang mangkrak karena konsesi diberikan kepada pengusaha yang hanya punya koneksi politik tanpa punya modal, engga punya trust business network.

Mereka hanya menjual konsesi proyek kepada investor dengan mengharapkan goodwill fee sebagai bonus dan saham tanpa setor modal tunai...

Ada yang berhasil mereka perbuat tapi lebih banyak yang gagal menjadi proyek mangkrak.

Dan di era Jokowi modus business seperti itu tidak mudah lagi bisa dapat uang. Konsesi di berikan , namun pada batas waktu tertentu tidak direalisasikan maka konsesi akan di cabut. Tanpa financial closing tidak akan ada konsesi agreement.

Artinya tanpa bukti dukungan pendanaan, konsesi tidak akan di berikan. Apabila tidak ada investor swasta yang masuk maka pemerintah akan menugaskan BUMN untuk membangun proyek melalui leverage PMN sebesar 10% dari nilai proyek..

Jadi pembangunan insfrastruktur umum terus jalan tanpa hambatan..

Gaya broker ? Kelaut aja..

==


Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar pembangunan Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) sepanjang 54 kilometer bisa diselesaikan pada tahun 2018 mendatang.

Permintaan ini disampaikan Jokowi saat meninjau pembangunan jalan tol tersebut di Kelurahan Gadog, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/6/2016).

Menurut Jokowi, jalan Tol Bocimi itu sudah pernah dimulai pembangunannys sebanyak 4 kali tapi berhenti. Sudah dimulai  tahun 1997, namun sampai sekarang 1 meter pun belum jadi.

“Ini akan kita kerjakan. Sudah dimulai seksi I-nya dan pembebasan lahannya sudah 94,7 persen yang seksi I, nanti dilanjutkan ke seksi II, III, dan IV,” tutur Jokowi.

Meskipun Waskita Karya selaku kontraktor pembangunan jalan Tol Bocimi berjanji akan menyelesaikan tahun 2019, Jokowi meminta agar semuanya bisa diselesaikan tahun 2018 mendatang. “Tapi kalau seksi I-nya nanti 2017 selesai,” ujarnya.

Creative common image by kompas

Konsesi Tol Bocomi dulu diberikan kepada swasta, tapi tidak dikerjakan, karena itu pemerintah mengambil alih kembali.

“Investornya enggak mulai-mulai. Groundbreaking ini sudah pindah swasta enggak sekali dua kali. Ini model-model seperti ini saya kira seperti di Ngawi, di Solo, Solo-Ngawi, Ngawi-Mojokerto sama saja, seperti itu. Yang Batang juga kita ambil alih,” terang Jokowi.

Dia menegaskan, pemerintah memberikan kesempatan kepada swasta untuk menyelesaikan pembangunan jalan tol. Tapi kalau tidak cepat dikerjakan, pemerintah akan mengambil alih.

Tol Bocimi melintasi jalur yang padat kendaraan, setiap hari diwarnai kemacetan. Karena itu Tol Bocimi sangat dibutuhkan oleh warga yang melintasi Bogor, Ciawi, dan Sukabumi.

==

Gustiono Kustianto :
Proposal spt itu mungkin cuman laku dijual ke BUMN (ga ada pengusaha swasta yg mau dg tawaran spt itu). Nah pertanyaannya, contoh yg diberikan pak Erizeli kan BUMN yg menolak sementara mungkin aja ada BUMN yg jadi kerjasama dg mekanisme spt itu, apakah Meneg BUMN memang melakukan review atau hanya fokus agar proyek2 mangkrak jalan lagi tanpa perduli detil transaksi?

Erizeli Jely Bandaro :
Beberapa BUMN sudah merekrut direktur mantan banker dan investment banker, mereka inilah yang memberikan masukan agar terhindar dari cara cara seperti itu. Mereka juga membayar konsultan world class untuk mendampingi mereka dalam melakukan negosiasi.

Contoh konsultan dari BUMN yang seharusnya mendampingi itu adalah credit suisse tapi karena engga datang saya diminta sebagai pengganti sementara. Itu SOP dari meneg BUMN yang harus diterapkan oleh BUMN dalam menentukan kerjasama dengan pihak lain...

Erizeli Jely Bandaro :
Proyek mangkrak di teruskan setelah proses legal pembatalan di lakukan pemerintah dan ini melalui tender terbatas. jadi tetap harus bersaing dari segi financial capablity mapun tekhnical aspect.

==

Creative common image by Merdeka

Pimpinan CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo mengatakan sejak 2012, MNC Group secara resmi mengambil alih proyek pembangunan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi. Tol ini, memang sangat dinantikan oleh masyarakat Jawa Barat.

"Dengan modal memberanikan diri sekitar Rp 600 miliar. MNC Group memberanikan diri melakukan pembebasan tanah masyarakat," katanya.

HT menambahkan saat ini baru 90 persen lahan untuk jalur Tol Bocimi sudah dibebaskan. Targetnya 10 persen lagi selesai tepat waktu.

"Kami berharap seksi I akan selesai sebelum 2 tahun. Kalau sudah selesai pembangunan seksi I, Kami akan mempercepat pembangunan seksi selanjutnya agar Tol Bocimi cepat bisa digunakan dan dinikmati masyarakat," katanya.

Selain pembangunan ruas tol, MNC Group juga akan membuat lahan terbuka hijau sebagai lokasi pariwisata keluarga sekitar 2.000 hektar di jalur Tol Bocimi.

==

Creative common image by Tempo
TEMPO.CO, Bogor - Meski proses pembebasan lahan belum selesai, pengerjaan clearing atau perataan tanah proyek pembangunan Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) tahap I sepanjang 15 Kilometer sudah mulai dilakukan, Selasa, 15 September 2015. 

Pengerjaan jalan tol yang membentang dari Ciawi hingga Cigombong itu dilakukan oleh PT MNC Tol. Percepatan pembanguan tol selain bertujuan mengurai kemacetan di jalur Bogor-Sukabumi juga untuk menunjang percepatan pembangunan lokasi wisata Disneyland Indonesia dan resort/hotel mewah, Proyek bersama Donald Trump dan CEO PT MNC Group Hary Tanoesoedibjo. 

"MNC sudah melakukan perataan tanah karena memang dalam anturan sudah bisa dikerjakan karena hingga saat ini proses pembebasan lahannya sudah mencapai sekitar 91 persen," kata Kepala Seksi Penetapan Hak Atas Tanah, Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bogor AW Ganjar.

Camat Cigombong Basrowi mengatakan, proses pembebasan lahan dan pengerjaan pembangunan Tol Bocimi oleh PT MNC mulai dikebut, "Pengerjaan fisik tol Bocimi mulai dilakukan dan dikebut, perataan tanah dan pembangunan fisik dimulai di dua lokasi, Cigombong dan Ciawi," kata dia. "Sekarang aja pengerjaan perataan untuk tol Bocimi mulai di Cigombong, yang nantinya menjadi akses langsung menghubungkan ke kawasan Lido yang akan dibangun lokasi wisata Disneyland," kata dia.

Hary dan Trump berencana membangun resor dengan fasilitas bintang enam di Bogor.

Kesepakatan itu ditandatangani pada 19 Agustus 2015. Ini adalah kerjasama kedua, setelah sebelumnya Trump dan MNC Group sepakat membangun resor terpadu berkelas dunia di Tanah Lot, Bali. Nilai proyek itu mencapai trilliunan rupiah.


Pertemuan antara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto berserta sejumlah anggota DPR dengan Donald Trump diduga difasilitasi oleh Hary Tanoe. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon, yang ikut dalam rombongan Setya Novanto, membenarkan Hary Tanoe ikut menghubungkan staf Trump dengan Fadli Zon, sehingga dijadwalkanlah sebuah pertemuan pada 3 September lalu pukul 13.30 waktu setempat di Trump Tower, New York, Amerika Serikat. "Bila memfasilitasi dalam arti ikut mengontak dan me-arrange, maka ada benarnya," ujar Fadli dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen Senayan, Senin, 14 September 2015.

Namun, kata dia, bukan berarti pertemuan itu dijadwalkan jauh-jauh hari. "Tidak direncanakan," kata dia. "Kebetulan kami lowong selesai agenda konferensi parlemen. Jadi dalam rangka networking, kami bertemu dengan Trump."

Creative common image by Merdeka

Setya Novanto justru membantah bahwa pertemuan itu difasilitasi Hary Tanoe. 

Menurutnya, pertemuan itu karena undangan pribadi Trump kepada DPR setelah sidang konferensi parlemen. "Itu urusan Hary Tanoe sendiri. Saya lakukan dengan proses yang biasa," katanya. Ia juga membantah pertemuan tersebut terkait kepentingan bisnis dan politik. "Sebagai pribadi, saya semata-mata memandang yang bersangkutan sebagai teman."


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)