Monday, 16 May 2016

Kisah Putra Lelaki Erizeli Jely Bandaro

Creative common image by Erizeli

Tidak memiliki ...

Waktu putra saya ingin masuk fakultas ekonomi, saya sempat disappointed. 

Karena saya berharap putra saya jadi insinyur. Setidaknya dia bisa menggantikan cita cita saya yang gagal jadi insinyur.Namun saya tenangkan hati dengan mendukungnya. Setelah tamat S1 dan S2, saya berharap dia bisa membantu saya dalam bisnis.

Karenanya saya paksa dia terlibat dalam bisnis yang saya create khusus untuk dia.Agar saya dapat mendidiknya seperti saya mau. Tapi dia memilih mundur sebagai direktur. Alasannya dia tidak ingin bisnis seperti cara saya. Dia ingin dengan caranya. Diapun tak masalah bila tidak saya beri modal.

Dia memulai dangan sulit dan saya harus menjadi penonton atas takdirnya. 

Setiap waktu saya mengkawatirkannya dan karenanya membuat saya semakin khusyuk berdoa agar dia baik baik saja. Saya teringat nasehat ibu saya " Anakmu bukanlah milikmu. Dia milik Allah. Jangan kau paksakan seperti apa dia harus lakukan. Kau harus jaga dia agar tetap di jalan Allah. Soal mau jadi apa dia , itu bukan hak mu. Itu hak Allah. Setiap anak punya takdir masing masing". Berjalannya waktu dia bisa berkembang tanpa bayang bayang saya orang tuanya. Dia menjadi dirinya sendiri.

Creative common image by erizeli

Kemarin malam saya berdiskusi dengan putra saya. Baru saya sadar bahwa ini kalinya saya menjadi pendengar yang baik. Hampir semua pembicaraan dikuasainya. Dia bisa berdebat dengan saya tentang konsep bisnis dan kehidupan.

Kadang dia mengingatkan kata kata yang pernah saya ajarkan kedia. Saya terhenyak. Saya sadar bahwa saya semakin menua dan saya melihat putra saya jauh lebih baik dari saya ketika seusia dia dulu. Apa jadinya bila dia mengekor kepada saya? tentu dia tidak akan lebih baik dari saya...

Benar anakku...Apapun di dunia itu tidak ada hak kita untuk memaksa seperti apa yang kita mau. Anak, istri, harta adalah milik Tuhan. Bahkan kehidupan kita juga milik Tuhan. Kapanpun Tuhan berhak mengambilnya. Menyadari ini semakin membuat kita rendah hati. Bahwa hidup kita, kebaikan kita, mati kita memang bukan untuk siapa siapa tapi untuk Tuhan semata. Karena Tuhanlah pemilik segalanya...



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)