Saturday, 12 March 2016

Pandangan Erizeli Jely Bandaro terhadap Yusril Ihza Mahendra


Creative common image by Erizeli

Paradox

Yusril punya rencana untuk me-likuidasi Pemprov DKI, yang tidak lagi dibawah Gubernur tapi oleh Kementrian khusus. Artinya DKi di gusur. Kekuasaan pembangunan Ibu Kota di kelola secara sentralistik. Mengingat Idea ini seperti yang di lakukan oleh Cina untuk Daerah Khusus seperti Shenzhen, Zuhai, Tianjin dan Beijing, Shanghai dan lain lain.

Namun China tetap menempatkan wakil pemerintah Pusat di wilayah itu, setingkat walikota. Kebijakan semua ada di pusat. Itu ada sistem demokrasi tertutup dimana kekuasaan ada pada satu partai.

Philipina dan Malaysia juga menerapkan hal yang sama untuk Manila dan KL. Dua negara itu menerapkan demokrasi terbuka. Namun demokrasi telah terbentuk dalam posisi dewasa dan solid. Sehingga proses pembangunan yang khusus untuk ibukota dapat di maklumi oleh wilayah lain.Tidak sampai menimpulkan iri bagi wilayah lain.

Menurut saya ini idea bagus saja. Ahok juga pernah menyampaikan ide seperti itu. Namun ini jalan yang tidak mudah karena proses me likuidasi provinsi itu akan melewati wacana yang panjang sebelum masuk dalam RUU. Sedikitnya lima tahun belum tentu rampung.

Selama 5 tahun itu Politik di Pemrov DKI akan gaduh dan ini akan mengganggu kelangsungan pembangunan yang membutuhkan situasi konduksif. Ongkos politik yang tidak murah dan belum lagi momentum yang hilang.

Makanya betul kata teman saya ahli tata ruang dan social engineering di China, bahwa suksesnya pembangunan di kota Khusus di china bukan karena kontrol kuat dari Pusat tapi lebih kepada kehebatan Dewan Kota ( DPRD) yang ada di Daerah Khusus dalam menterjemahkan pembangunan sesuai kemauan dari Pusat. Mereka orang hebat dan berdedikasi menjadikan kota tumbuh dan berkembang berkelas international tanpa kehilangan indentitas lokalnya.

Dan yang tidak kalah penting adalah pemimpin yang ditempatkan di kota itu memang orang hebat dan elite terbaik cina yang dikenal bersih dan professional. Tract record nya teruji berkelas nasional maupun international.

Jadi apapun sistem yang didukung oleh UU dan aturan,pada akhirnya kembai kepada person dibalik sistem itu. Rakyat sudah bosan dengan wacana perubahan sistem bila pada akhirnya selalu yang disalahkan adalah UU dan aturan. Tak pernah ada sikap jujur bahwa sistem itu bukan segalanya tapi yang menentukan adalah orang dibalik sistem itu (the man behind the gun). Apapun sistem akan efektif dan baik bila orang yang menjalankannya ber akhlak.

Rakyat kini berdamai dengan UU era reformasi berkaitan dengan otonomi daerah dan PEMILU yang sudah ditetapkan elite politik dimana dulu Yustri juga terlibat menyusunnya. Rakyat sadar bahwa pilih orang yang tepat maka hasilnya akan lebih baik daripada sibuk bicara merubah sistem dan aturan yang akan menelan anggaran lagi.dan kelak akan dirubah lagi bila hasilnya paradox dengan syahwat politik kekuasaan. Jadi kapan ngebangunnya?




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)