Monday, 8 February 2016

Municipal Bond Berbasis Revenue oleh Erizeli Jely Bandaro


Creative common image by Erizeli

Municipal Bond Berbasis Revenue

Sosialisasi Municipal Bond telah dilaksanakan tahun 2007. Namun belum banyak PEMDA yang memahami Municipal Bond ini atau juga mungkin mereka terjerat oleh kondisi yang menyulitkan dari aturan yang ditetapkan Pemerintah Pusat. Walau berdasarkan aturannya tetap saja Pemerintah Pusat tidak bertanggung jawab penuh dari segala resiko default atas Municipal Bond ini. Satu bukti lagi bahwa rezim ini sangat tak adil menerapkan otonomi daerah.

Tapi , biarlah ini berjalan dengan sendirinya. Proses selanjutnya adalah PEMDA dihadapkan oleh keterbatasan dana pembangunan infrastructure ekonomi daerah. Karena sebagian besar dana APBD habis untuk belanja rutin. Hanya menyisakan tidak lebih 10% untuk pembangunan.

Lantas bagaimana mengatasi keterbatas budget ini. ? 

Itulah yang harus disikapi secara creative oleh PEMDA.

Dari ketentuan mengenail Municipal Bond ini , maka yang mungkin layak dan flexible untuk dilakukan pemda adalah menerbitkan Revenue Bond yang dikeluarkan oleh BUMD (khusus dibidang investmen and development).

Secara kelembagaan BUMD adalah perseroan yang bebas berbuat sebagaimana UU perseroan. Artinya dia tidak harus mengikuti ketentuan dari Pemerintah Pusat tentang Municipal Bond.

Namun dia tetap bagian dari PEMDA , yang tentu juga tak terpisahkan dari asset negara.

Revenue Bond ini diterbitkan tentu berdasarkan revenue, sesuai dengan namannya. Artinya jaminan pembayaran dari bond tersebut bersumber dari revenue project itu sendiri ( semacam SUKUK).

Nah proyek apakah itu ? 

Tentu proyek yang berhubungan dengan captive market , yang sesuai dengan peran pemda sebagai public service provider. Diantaranya adalah project air bersih, pembangkit listrik dibawah 20 MW, Pasar Rakyat, Kawasan Industri kecil Pelabuhan khusus, Pusat Gudang stockis hasil pertanian, jalan toll khusus kepusat penambangan /perkebunan, pusat rekreasi, mendanai program divestasi atas perusahaan yang menguasai SDA, seperti Freeport dll, dan bahkan bisa ikut konsorsium bangun jalan toll yang melewati daerahnya.

Hanya masalahnya adalah bagaiman project dapat menerbitkan Revenue Bond sementara projectnya sendiri belum beroperasi? 

Apakah ada investor yang bersedia membeli revenue bond tersebut.

Ini bukan masalah apabila PEMDA bersedia membuka diri dan mengorganisir penggalangan dana ini secara professional.

Caranya adalah Revenue Bond ini harus didukung Info Memo ( Investment exposure ) oleh Asset Management / Securities Company.

Berdasarkan Info Memo tersebut maka scheme financing di-create melalui in kind loan (penyerahan barang)

Artinya BUMD tidak menerima dana dari hasil penjualan bond tapi menerima project jadi.

Dana dari revenue bond masuk ke trustee account untuk di salurkan kepada EFC ( Engineering , Procurement, Contracting ) sesuai akad.

EPC inilah yang bertanggung jawab untuk menyerahkan project kepada BUMD.

Sekarang bagaimanakah caranya untuk mendapatkan pembeli Bond tersebut. Bukankah tidak mudah mendapatkan investor, apalagi sekarang banyak sekali product investasi yang ada dipasar. Apakah mungkin Revenue bond ini menarik.

Saya dapat menjawab secara sederhana, yaitu semakin luas produk investasi maka semakin luas dan beragam pula jenis investor didunia ini. Artinya selalu ada pasar untuk setiap produk investasi selagi kita mampu melakukan financial engineering secara professional.

Caranya dapat dilakukan dengan dua cara,yaitu

1. Penawaran umum

Penjualan revenue bond secara terbuka untuk umum. Ini harus ada izin dari OJK. struktur organisasi penerbitan revenue bond harus di dukung oleh kelembagaan dibawah OJK. Agar luas pembeli revenue bond ini maka sebaiknya harga nominal dibuat rendah, katakanlah Rp. 100.000.Sehingga siapapun bisa membelinya.

2. Penawaran terbatas.

Penjualan revenue bond secara tertutup atau penawaran terbatas kepada kalangan tertentu yang jumlah maksimumnya sesuai ketentuan OJK. Siapa investor yang akan membeli revenue bond ini ? tentu banyak sekali investor yang mau, asalkan yield nya menarik dan di dukung exit strategi dari BUMD/Pemda untuk menawarkan project kepada umum setelah proyek selesai di bangun.

Apa exit strateginya : 

Bisa dalam bentuk penyertaan koperasi, atau pelepasan saham kepada umum melalui bursa paralel atau di privatisasi,yang pasti banyak peminatnya.

Alasannya adalah karena project sudah jadi ( settle down ) dan investor tidak dipusingkan lagi dengan market dan perizinan,lahan. Tinggal BUMD tersebut menentukan selective buyer yang sesuai dengan misi pemda.

3. Revenue bond tersebut tidak langsung dijual tapi di swap terlebih dahulu dengan High rating bond yang diterbitkan oleh lembaga Keuangan AAA rated. Kemudian , investor ( dana pensiun /lembaga keuangan ) membeli bond tersebut dan membayarnya dalam bentuk mata uang local.

Bank local( trustee agent ) terlibat mengatur pengamanan penyaluran dana langsung kepada pihak kotraktor dan setelah selesai dibangun , bond tersebut dijual kepada umum dan hasilnya untuk membeli kembali (Repo) BOND yang di SWAP tersebut.

4. Masih banyak cara untuk menarik pasar untuk terlibat dalam pembiayaan bond ini. Apapun skemanya , pada akhirnya bila proyek selesai di bangun, pemda akan mendapatkan PAD berupa bagi hasil, retribusi atau laba atas privatisasi proyek

Dengan skema tersebut diatas maka Pemda berperan aktif mendorong pertumbuhan investasi didaerah dan sekaligus penjamin iklim investasi secara kelembagaan.

Peran Pemda tidak lagi hanya sebagai pemungut pajak tapi lebih daripada itu fasilitator dan regulator yang menjamin adanya “kepastian” dalam bentuk product yang sudah final.. Inilah sebetulnya yang dibutuhkan peran pemerintah dalam suatu negara untuk memberikan dan melindungi rakyat untuk mencapai kemakmuran.

Saya tidak percaya istilah ada daerah miskin dan kaya.

Semua daerah adalah pemberian Tuhan dan semua kaya , masing masing mempunyai potensi yang berbeda ragam yang akan menjadi potensi maksimal bila kita mau merubah sikap ( attitude ) untuk gemar bekerja keras, tepat janji, menghargai hak public dan menghormati hukum , tepat waktu, suka menabung dan hemat , ikhlas berbagi.

Namun…Bagaimanapun semua kembali kepada pemda untuk mau melakukan transformasi dari ingin dilayani menjadi pelayan yang mau menerapkan keterbukaan, kejujuran dan professionalitas serta tekad untuk memegang amanah. Hanya perubahan attitude inilah yang akan membuat pemda mempunyai unlimited financial resource.

1 comment:

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)