Thursday, 3 September 2015

Terpikirkah kita untuk menjadi Negara Besar


Bagaimana perasaan anda jika lahir dan dibesarkan dalam suatu negeri yang penuh konflik dan tidak ada solusi dari konflik itu akan berakhir dalam kurun waktu dekat ini, apa yang bisa anda lakukan untuk diri anda, keluarga anda dan sanak saudara anda? Bertahan hidup di negeri tersebut, atau mencari suaka mencari negara lain untuk bertahan hidup dalam kehidupan yang aman, setidaknya anda di cap imigran gelap, tapi anda selamat dari konflik yang tidak berkesudahan.

Pertanyaanya, apakah kita sebagai Bangsa Indonesia sudah siap menerima gelombang warga konflik tersebut? seperti kasus Rohingya dan kasus-kasus lainnya yang akan segera muncul dikemudian hari, bagaimana kita bisa siap dengan persoalan ini, kalau masyarakat kita sendiri masih belum begitu paham mengenai peranan ekonomi bertahan hidup dan ekonomi berkembang dan mensupport negara-negara lain, pernahkah terpikirkan kalau negeri kita kaya akan sumber daya alam, kaya akan lahan terbengkalai karna faktor tidak ada modal usaha untuk menggarap lahan pertanian, ini adalah salah satu kesalahan terbesar masyarakat indonesia yang masih malas mengolah lahan produktif dan tidak berkerja sungguh-sungguh mengolahan bahan baku tersebut menjadi produk bernilai tinggi dan bisa menyerap begitu banyak lapangan pekerjaan baru dan ketika ini sudah terwujud dengan sendirinya kita sudah siap menjadi bagian dari solusi permasalahan dunia lain yang tidak seberuntung kita.

Terpikirkah kita untuk menjadi Negara Besar
Creative common image by ibtimes

Melihat kasus di Negri German yang terus didatangi imigrasi dari negara timur tengah, balkan dan negara-negara lainya yang jumlahnya mencapai puluhan ribu, itu sama saja seperti datang pasukan perang yang butuh makanan, tempat tinggal, gaji dan kebutuhan lainnya, seharusnya ini menjadi momentum bagi kebangkitan ekonomi, tapi sebaliknya ini menjadi kutukan ekonomi, karna tidak ada yang bisa dibantu dibidang pertanian disana, berbeda dengan kita di Indonesia. kita masih mempunyai banyak kesempatan untuk berbuat banyak, kalau kita mau belajar mengelola kehidupan kita sendiri lebih tertib, berpikir besar bahwa kesempatan menjadi negara penolong bagi negara lainnya bisa kita lakukan, memperbesar jumlah etnis dalam satu wilayah dengan mengadopsi konsep toleransi gotong royong hidup rukun bertetangga, mengambil kesempatan yang sama bahwa mereka juga adalah bagian dari manusia bumi yang perlu dijaga dan di lindungi sisi kemanusiaanya.

Hidup yang susah memang jangan ditambah susah lagi, tapi membiarkan seseorang yang sudah terlanjur susah tanpa ada solusi bagaimana menyelamatkannya secara berkelompok adalah sebuah kesalahan dalam bernegara.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)