Sunday, 16 August 2015

Harta di Zaman Modern dalam kacamata Erizeli Jely Bandaro


Ada tulisan menarik yang ditulis oleh Erizeli Jely Bandaro di Group Prontheus Business Solutions
Dari tulisannya ini saya mulai mengenali Hernando De Soto Economist Peru. Menarik juga menyimak gagasannya mengenai The Mystery of Capital - ada 3 Bagian Video upload di tahun 2009 yang lalu, menarik untuk disimak :

Pernahkah terpikirkan oleh Anda, jika BPN (Badan Pertanahan Nasional) Menjemput Bola kedaerah Pedalaman di Indonesia untuk mengurusi sertifikat tanah milik rakyat di Pedalaman, sehingga Hak kepemilikan Tanah bisa secar legal disahkan kepemilikannya oleh Negara. Kita sudah punya Program LARISTA (Layanan Rakyat untuk Sertifikat Tanah)  kemudian Sertifikat PRONA (Proyek Operasi Nasional Agraria).


Kembali lagi pada tulisannya Erzeli Jely Bandaro, Bagaimana Negara bisa melindungi rakyat miskin dalam memiliki hak atas kekayaannya di zaman modern ini, bagi mereka yang kurang akses terhadap informasi, relasi, dan uang. Simak tulisannya dibawah ini :

Harta...?

Dahulu kala harta adalah sebidang tanah dan kumpulan ternak. Dari harta itu orang hidup dan menghidupi dirinya untuk berkembang dari generasi kegenerasi. Namun belakangan karena manusia semakin bertambah dan kebutuhan semakin meningkat maka kompetisi terbentuk. Harta tidak lagi diartikan ujud phisiknya. 

Tapi harta telah berubah menjadi selembar document sebagai bukti legitimasi dari penguasa. 

Selembar dokumen itu berkembang menjadi derivative asset bila dilampirkan dengan seperangkat izin ini dan itu. Kemudian digabungkan dengan yang namanya project feasibility maka jadilah sebuah akses meraih uang. Bukan dijual tapi digadaikan. 

Uang itu berputar untuk kegiatan ekonomi dan menghasilkan laba untuk kemudian digunakan membeli harta lagi.Ini disebut dengan nilai reproduksi capital atau project derivative value

Bila laba semakin banyak , tentu harta semakin meningkat. Kumpulan dokumen harta ini dan itu , menjadi saham ( stock ) dalam lembaran dokumen bernama “perseroan”. Akses terbuka lebar untuk meningkatkan nilai harta itu. 

Penguasa semakin memberikan akses kepada harta itu untuk berkembang tak ternilai melalui pasar modal , bila harta itu memperoleh akses legitimasi dari agent pemerintah seperti underwriting, notaris, akuntan , lembaga pemeringkat efek

Dari legitimasi ini maka harta menjadi lembaran kertas yang bertebaran dilantai bursa dan menjadi alat spekulasi. Hartapun semakin tidak jelas nilainya. Kadang naik , kadang jatuh. Tapi tanah dan bangunan tetap tidak pindah dari tempatnya.

Akses harta untuk terus berkembang tidak hanya dilantai bursa. Tapi juga dipasar obligasi, 

Dokument Saham dijual sebagian dan sebagian lagi digadaikan dalam bentuk REPO maupun obligasi. Disamping itu akses permodalan conventional lewat bank terus digali agar harta terus berlipat lewat penguasaan kegiatan ekonomi dari hulu sampai kehilir. 

Dari pengertian ini, maka capital seperti yang disampaikan oleh Hernado de soto dalam bukunya “The Mystery of Capital” mendapatkan pembenaran. Kapital dapat mereproduksi dirinya sendiri. Bahwa harta bukanlah wujudnya tapi apa yang tertulis. Dan lebih dalam lagi adalah harta merupakan gabungan phisiknya dan manfaat nilai tambahnya. Nilai tambah itu hanya mungkin dapat dicapai apabila dalam bentuk dokumen.

Ketidak adilan dibidang ekonomi dinegara berkembang dewasa ini , lebih disebabkan oleh akses “ legitimasi harta “itu. Hingga soal legitimasi ini membuat kegiatan ekonomi terbelah menjadi dua. Yaitu sector formal dan informal

Pemerintah dengan entengnya menggunakan istilah formal dan non formal. Anehnya, ini untuk membedakan rakyat miskin dan rakyat kaya. Atau orang pintar dengan orang bodoh. Perbedaan kelas ! padahal negara ini sudah merdeka. Idealnya semua orang harus sama dihadapan negara dan berhak mendapatkan status “formal “. Kenapa kepada asing kita bisa sebut “formal” sementara kepada rakyat sendiri disebut “informal” ?

Inilah akar masalah kenapa terjadi perbedaan antara negara kaya dan miskin. Di negara kaya, capital dapat mereproduki dirinya karena kemudahan akses birokrasi. Negara miskin, birokrasi menciptakan kelas secara otomatis. 

Karena budaya korup , maka orang miskin yang tak bisa menyuap akan kehilang akses legitimasi harta. Sementara yang bisa menyuap akan mendapatkan akses tak terbatas dibidang perekonomian. 

Itulah sebabnya dalam bukunya The Other Path, de Soto menyimpulkan bahwa kaum miskin dalam keadaan ’terkunci’ sehingga tetap berada di luar hukum. Segala jenis aset ekonomi mereka dalam berbagai bentuknya tidak dapat diubah menjadi kapital yang diperlukan untuk kegiatan ekonomi. Sangat menyedihkan sebagai bentuk penjajahan cara baru yang systematis.

==
Sebagai Penutup, Bisakah kita kaya dengan Tanah? Tentu bisa, apakah ada cara? Simak video selanjutnya dibawah ini :



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)