Facebook

Friday, 5 June 2015

Erizeli Jely Bandaro ; ICF Project Failed in Indonesia


2004

Peter , menghubungi saya dari Bankok dan meminta saya untuk mendampingi team ICF rapat dengan LSM di Jakarta. Ada sedikit tanda tannya, bagaimana mungkin ICF masuk ke Indonesia. Bukankah Indonesia wilayah yang dihindari. Pengalaman sebelumnya, tidak ada satupun program ICF terealisir di Indonesia karena masalah birokrasi dan system yang korup. Keesokan harinya, saya sudah berada di Bandara ,terminal kedatangan untuk menjemput tamu yang tidak saya kenal nama dan wajahnya. Hanya berbekal poster kecil bertuliskan “ WELCOME ICF “ saya berharap penumpang yang keluar dari kuridor bandara akan menghampiri saya. Pandangan saya tertuju kepada seorang pria bule agak gemuk berusia diatas lima puluh yang nampak tersenyum kearah saya. Namun , dia hanya melewati saya. Saya terkejut ketika bahu saya ditepuk dari samping
“ are you from ICF “

Didepan saya berdiri seorang wanita cantik. Tinggi kira kira 170 dengan ransel warna merah dan jilbab warna hitam serta kaos lengan panjang warna putih dengan setelan celana denim. Anggun, perkasa dan mandiri. Itulah kesan pertama saya tentang wanita ini.
’ Yes , I am ” Saya langsung menyalaminya ” Welcome to Indonesia ” sambung saya sambil melirik wajah anggunnya

” Kenalkan , nama saya Kana ” Katanya sambil memperkenalkan namanya,.

Nampak sekali wanita ini terlatih sebagai volantir lapangan yang biasa bekerja untuk proyek kemanusiaan. Usianya tidak lebih 35 tahun.

Didalam perjalanan menuju hotel , dia berkata ” Walau baru pertama kali bertemu dengan anda namun semua tentang anda saya ikuti. Ternyata wajah dan cerita tentang ada tidak sama ”

” cerita kadang terlalu membesar besarkan. Tidak ada yang istimewa dan tidak ada pula yang patut dibanggakan. Kita semua bekerja untuk misi yang sama dan berjuang untuk itu. Kata saya dan nampak dia tersenyum.

’ Saya pikir anda orang yang serius tapi ternyata wajah dan sikap anda sangat ramah. Tidak ada kesan seorang petarung yang membuat empat lembaga keuangan kelas dunia ketar ketir. Kami semua di ICF sangat bangga dengan keberadaan anda. Nah, kali ini saya mendapatkan kehormatan untuk bertemu dengan anda dan bekerja satu team ” Katanya.
Kana bercerita banyak hal tentang program yang sedang digelutinya. Dia juga bercerita tentang proposalnya kepada ICF untuk melibatkan saya dalam teamnya. Dia harus menunggu empat bulan untuk mendapatkan keputusan. Itupun keberadaan saya dibatasi hanya berkaitan dengan upaya menarik empat offshore fund terlibat dalam program ini.Dia juga menyerahkan beberapa dokumen yang sengaja dipersiapkannya untuk saya pelajari. 

Sekilas dokumen itu hanya berisi bagan dan skema program dengan penjelasan ringkas. Inilah ciri khas ICF yang sangat efisien melatih teamnya. Semua orang bekerja dengan sistematis dan professional walau untuk kegiatan sosial. Ada slogan mereka ” Niat baik akan sia sia bila diorganisir dengan buruk. Niat buruk akan berhasil bila diorganisir dengan baik. Makanya niat baik haruslah diorganisir dengan baik agar tidak menimbulkan frustrasi ”

Ketika sampai dihotel. Sebelum rapat dilaksanakan dia sengaja menyampaikan materi presentasinya. Selama presentasi tersebut , kekaguman saya terhadap Kana semakin tinggi. Wanita ini sangat menguasai detil operasional, juga tak ketinggalan, pemahannya tentang visi pemberdayaan masyarakat. Seperti yang dikatakannya ” Manusia sudah didesign oleh Allah sebagai makluk yang sangat sempurna. Karenanya tidak diperlukan charitiy untuk mereka berdiri. Sudah sunatulah bahwa manusia harus berbuat untuk bertahan hidup. Allah menyediakan perangkat untuk itu tanpa kecuali ras, golongan. Itulah dasar strategi kita untuk menciptakan kemadirian petani dan nelayan di indonesia.

Kemudian dia masuk kepada program implementasi ” Tugas kita hanyalah menyediakan infrastruktur untuk terbentuknya kekuatan petani menghadapi pasar bebas dan mandiri berproduksi. Infrastruktur tersebut terdiri dari tiga hal yaitu 

Pertama , pusat penyimpanan produksi petani ( gudang) dan pengolahan , 

kedua, menyediakan lembaga cutting house untuk menjamin liquidatas petani. 

Ketiga, menyediakan tekhnolgy tepat guna untuk mendukung peningkatan produksi. Ketiga program ini berbeda sekali dengan program yang selama ini dijalankan oleh pemerintah maupun NGO. " Katanya penuh keyakinan.

" Apa bedanya ? "

" Lembaga kita sebagai pendamping dan bukan pengatur ,apalagi ikut mengendalikan mereka. Kita hadir untuk mengamankan posisi mereka dari permainan harga pasar. Keberadaan gudang dan pusat pengolahan bukanlah untuk undertaker harga ketika panen tapi penjaga stabilitas harga ketika musim panen. Artinya petani dapat menyimpan produknya digudang tanpa menjualnya bila harga pasar jatuh. . Mereka akan menerima resi gudang sampai harga stabil. Selama menunggu harga stabil dan menguntungkan maka mereka dapat menempatkan resi gudang sebagai collateral untuk mendapatkan liquiditas dari lembaga cutting house.”

" Jelaskan pada saya tentang Cutting House yang kamu maksud "

" Ini lembaga keuangan non bank yang didirikan oleh masyarakat petani dan untuk petani. Semacam lembaga venture capital yang didukung oleh insurance company dan lembaga perdagangan berjangka komoditi. Juga didukung oleh kekuatan informasi harga diseluruh dunia. Lembaga ini sebagai penjamin liquiditas petani ketika harga jatuh tanpa mereka harus menjual produknya. Saya yakin kekuatan resource financial kita, lembaga ini dapat tampil untuk menyadarkan semua pihak untuk tidak ragu terlibat bersinegeri dengan petani tanpa aneksasi.

creative common image by Erizeli

Program ini sederhana namun langsung kepada masalah mendasar yang selama ini membuat petani tak berdaya menghadapi pasar ; Ketika panen harga jatuh atau pemerintah bermain dengan Harga dasar patokan dan petani tidak berdaya kecuali harus menjual untuk menutupi ongkos produksinya. Dengan system stokis dan dukungan pengolahan yang dimiliki dan dukungan lembaga cutting house maka petani mempunyai bargain position terhadap fluktuasi harga yang merugikannya

Kana mengatakan ” Bila program ini berhasil maka kita akan merambah ke produksi petani diluar beras, seperti jagung, singkong, dan tanaman muda ( jahe, tomat dll ).

Seusai presentasi dihadapan saya , dia tersenyum dan berkata ” What do you think ? Saya menjawab “ Excellent! “

Kemudian setelah itu, sesuai jadwal kamipun menghadiri rapat disuatu gedung bertingkat. Ketika kami datang , ternyata sudah ditunggu oleh team besar yang antusias menerima kedatangan kami. Sehabis rapat, Kana nampak murung. Dia tak bersuara. Saya memilih tidak mengganggunya dengan kata kata. Saya sadar dia sangat terpukul dengan resistance mitra kerjanya di Indonesia yang lebih memilih dana charitiy untuk menolong produksi petani.

“ Tuhan tidak pernah melahirkan manusia untuk menjadi pengemis. Manusia hanya butuh keadilan dan kasih sayang untuk mandiri. Mengapa ini tidak pernah disadari oleh banyak orang yang begitu mengagungkan retorika kasih sayang. “ katanya ketika sampai di hotel. 

Dihempaskannya tubuhnya dikorsi lounge executive dengan wajah tetap murung
“ Sebetulnya mereka tidak menyayangi orang miskin, mereka hanya memanfaatkan komunitas miskin untuk keuntungan diri mereka sendiri. “ Kata saya mencoba menghiburnya agar dia tidak perlu kecewa dengan penolakan programnya oleh mitra kerjanya.

“ Bang, Satu tahun saya menghabiskan waktu berkeliling seluruh kepulauan Indonesia. Saya mendatangi kampung kampung terpencil, bertemu dengan petani miskin, buruh tani, nelayan miskin. Hasil riset saya menyimpulkan satu hal bahwa walau ketidak adilan terus menyengsarakan mereka namun mereka tetap kuat untuk bertahan.inilah negeri dengan kekuatan komunitas tak tertandingi oleh komunitas manapun didunia. Bila situasi ini terjadi di negara lain maka sudah lama negara itu hancur. tapi rakyat disini sangat kuat walau pemerintahnya lemah. Ketahuilah bahwa mereka tidak butuh charity untuk makmur. Mereka hanya butuh keadilan dan keberpihakan. Itu saja. Selanjutnya mereka akan tampil menjadi komunitas yang tangguh menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi anehnya, inilah yang terlalu sulit mereka dapatkan dinegeri ini setelah mereka mendapatkan status sebagai bangsa yang merdeka. “

Hanya dua hari Kana di Jakarta. ICF sudah memerintahkannya untuk melupakan programnya di Indoensia. Closed file. Dia menangis dihadapan saya. ” saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan saudara muslim di sini. Mereka butuh kita yang peduli ,Bang. Tolonglah yakinkan ICF agar bersabar sedikit. Saya akan berjuang meyakinkan semua pihak. Apalagi dengan dukungan kamu, saya yakin kita bisa , please ..”

Saya hanya terdiam karena saya tidak yakin dapat membantunya. Saya kenal betul siapa itu ICF, karena dari awal mereka tidak melihat system di indonesia dapat melahirkan program kemandirian selagi mental korup pengusaha dan penguasa tidak dikikis. Negeri ini , sejarahnya selalu melahirkan cara cara yang sama untuk menempatkan rakyat sebagai korban dari kerakusan dan kemunafikan.

Setelah itu , saya tidak pernah lagi mendengar tentang Kana. Kami disconnect communication. Mungkin Kana sedang sibuk di belahan benua lain dengan program kemanusiaanya. ICF memang punya cara kerja yang unik, yang tidak mengizinkan satu sama lain berkomunikasi bila tidak dalam satu team penugasan.

2007

Bulan oktober saya amprokan dengannya disebuah resepsi di Yangon, Myanmar. Dia tersenyum cerah. Sambil menundukkan kepalanya dihadapan saya. Penampilannya sama seperti dulu. Setelan denim warma hitam dan kaus warna hitam lengan panjang dengan jilbab warna hitam. Wajah kemerahan dari wanita kelahiran Bombai ini, telah membuat saya terpukau. 

Ada apa dia disini ? ” Saya ditugaskan ICF disini. Orang bilang , ini negeri otoriter dari junta militer tapi mereka sangat mencintai rakyatnya, khususnya petani. Program kita berhasil mengangkat kemandirian petani dan bersinergi dengan petani dari Yunan ( china ). Saya tidak tahu , apa sih arti demokrasi ? bila hak hak rakyat terabaikan dan kaun miskin tetap menjadi komunitas muram ditengah jargon demokrasi tentang keadilan, perdamainan, kesetaraan. "

Dia tersenyum kearah seorang pria yang menghampiri saya dalam acara resepsi. Saya terkejut Peter juga hadir bersama dengan team dari Sudan, Mark

” ICF akan kembali menugaskannya ke Indonesia setelah dia berhasil gemilang dengan tugasnya di Myanmar. Tiga tahun dia berjuang keras tanpa lelah sehinga dua kali dia harus masuk rumah sakit di Yunan karena radang usus. Tapi sekarang dia nampak tegar dan penuh cita untuk kembali dengan impiannya yang tiga tahun lalu tenggelam. ” Kata Peter sambil menatap kearah Kana.

” Sekarang, kamu yang pegang komando untuk misi Kana di Indonesia ” kata Mark

” Saya ?
” Perwakilan ICF di Beijing telah membocorkan rencana ini. Makanya telinga dipertajam kedalam dan jangan hanya keluar terus..” Katga Peter.

Seusai acara resepsi , kami sholat berjamaah dibelakang tempat resepsi. Tempatnya cukup bersih. Kana membawa perangkat sholat dengan lengkap dan alat kompas untuk menentukan arah kiblat. Itulah ciri khas pejuang lapangan ICF, dimanapun dan kapanpun sholat tak pernah ditinggal. Dengan menggunakan koran sebagai sajadah, saya menjadi imam sholat dengan dia sebagia makmun. 

Seusai sholat dia berkata ” Setiap sholat kita diingatkan untuk meng update kepribadian kita agar melakukan apa saja demi untuk beribadah kepada Allah. Bukan untuk mengejar harta, pangkat atau jabatan ,apalagi mencari popularitas. Tapi bila setiap hari kita melihat terus bertambahnya kumpulan komunitas miskin maka semakin kita sadar bahwa kita hanyalah kumpulan manusia yang mendustakan agama. Kita mempermainkan aqidah kita. Anehnya, kita tetap yakin dapat menjemput sorga dengan keyakinan kita beragama. Kita sombong dengan ibadah kita dan lupa esensi agama untuk berjuang menegakan keadilan bagi kaum miskin, kaum tertindas oleh system yang tak peduli dengan mereka. ” Airmatanya berlinang.

” Tahukah kamu , Bang ” Seru Kana sambil mengusap airmata. ” bahwa baik dan buruk selalu bersanding dalam kehidupan. Iblis tercipta dan malaikatpun tercipta. Dua mahluk hadir dalam keseharian kita. Inilah kebijakan Allah agar manusia mencapai kesempurnaan melewati diantara jurang maksiat dan kemuliaan. Ini juga adalah fitrah kita untuk bertarung melawan sifat iblis dengan mengendalikan nafsu kita agar kita senantiasa dekat kepada Allah. Kini, system dunia tergiring kepada kemunafikan dan kepongahan modernisasi yang mendewakan materialistis. Egoitis menjadi keseharian, mengabaikan kebersamaan untuk kepentingan bersama. Sehingga , yang lemah dan bodoh terexploitasi untuk kepentingan mereka yang pintar dan berkuasa. Ini fakta sebagai ladang ibadah kita untuk bertarung membela yang tertindas”

” Ya, aku sadari itu. Perang melawan ketidak adilan system adalah jihad. Kita tidak membenci manusia dibalik system itu. Kita hanya bertugas untuk menghancurkan system itu dengan mendidik masyarakat untuk melawan ketidak adilan itu melalui pemberdayaan mereka , mengurus diirinya sendiri sesuai dengan budaya dan agama yang mereka yakini. ” Kataku

” Betul. Kita tidak membenci mereka kaun kafir , yahudi. Kita membenci system yang menimbulkan kemaksiatan dan ketidak adilan terus terjadi.dimuka bumi ini. Itulah yang harus kita perangi, dengan segenap apa yang kita miliki. Yakinlah, tidak banyak yang diperlukan untuk itu kecuali hanyalah semangat untuk struggle in patience. Power of patience adalah modal kita dalam berjuang, tanpa lelah , tanpa berputus asa mengharap pertolongan Allah. Inilah yang harus menjadi keyakinan kita.”

Baru saya sadari bahwa Kana berhati mulia. Dia yang terlahir dari keluarga kaya raya di Bombai ,mengorbankan karirnya sebagai Phd dibidang Ekonomi , hanya dan hanya untuk mewakafkan dirinya membela kaum tertindas akibat dari system yang korup.

” Kadang diantara kita berjalan lebih cepat dibading orang lain, begitupula pikiran kita. Tapi tolong aku dimaafkan bila aku berjalan lebih cepat dari mu..” Saya menoleh kearahnya yang nampak menunduk dalam posisi duduk, tidak berubah ketika mengucapkan salam.
” Kita akan terus bersama sama untuk tujuan yang sama. Cinta Allah lah yang akan kita jemput. Mungkin kita akan kembali gagal tapi setidaknya niat baik kita sudah dicatat oleh Allah sebagai amal sholeh. ” Kata saya. Dia terdiam namun nampak air mata mengambang dipelupuk matanya...

Tahun 2008

Januari , ICF belum juga memberikan penugasan kepada saya. Sebelum Lunar new year atau tiga bulan setelah pertemuan di Yangon, saya mendapat kabar dari perwakilan ICF di Yunan , Kana telah tiada. Dia meninggal pada usia 38 tahun. Kana tidak meninggalkan suami, anak, harta kecuali impiannya untuk memperjuangkan nasip petani di Indonesia. Kanker usus telah menghentikan ambisinya kembali ke Indonesia untuk membuat dream come true. Saya teringat kata kata terakirnya ketika kami bertemu ” Kadang diantara kita berjalan lebih cepat dibanding orang lain, begitupula pikiran kita. Tapi tolong aku dimaafkan bila aku berjalan lebih cepat dari mu..”


Kana telah tiada. Saya tidak tahu siapa lagi yang akan menggantikannya. Yang pasti , saya tidak pernah berhenti berharap ada keputusan dari ICF untuk mengeluarkan programnya ke Indonesia. Kana, meninggalkan impiannya untuk negeri yang sangat dicintainya. " Kamu tidak pernah gagal , Kana. Tidak !. Allah tidak pernah menilai seseorang dari keberhasilannya tapi dari niatnya.Allah tidak pernah melihat karya besar orang tapi menghargai cinta besar dibalik karya itu. Negeri ini kaya dengan sumber daya alammnya. Negeri ini mempunyai semua sumber. Tapi negeri ni miskin kasih sayang dari orang orang yang kaya dan berkuasa..." Airmataku berlinang dalam bisikan halus diatas sajadahku.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)