Wednesday, 22 April 2015

H. Kusyono - Pensiunan Polisi Miliarder Barang Bekas


Seragam kebesaran Korps Bhayangkara sudah dia tanggalkan. Topi dan pangkat Aiptu yang menempel di pundak pun sudah tersimpan rapi. Dia tak lagi pergi ngantor dan melayani berbagai pengaduan dari masyarakat.

Dia justru mengenakan kaus oblong dan celana sederhana. Bukan untuk ke kantor, melainkan ke gudang untuk mengorek gunungan barang bekas yang kotor, berkarat, dan berbau busuk. Namun, siapa sangka, pekerjaannya ini membuat dia dikenal sebagai mantan polisi yang sukses menjadi bos barang rongsokan beromzet miliaran rupiah per bulan.

Iya, dialah Haji Kusyono, warga Desa Panguragan Wetan, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dia adalah satu dari ratusan warga sekitar yang kesehariannya hidup dengan tumpukan barang-barang bekas, mengumpulkan dari banyak orang, menyortir, dan kemudian mengirimkan ke berbagai pabrik dan perusahaan besar di Jakarta dan daerah lainnya.

H. Kusyono - Pensiunan Polisi Miliarder Barang Bekas
Creative common image by Kompas

Perpindahan haluan pekerjaan Kusyono ini terjadi pada sekitar 2000 silam. Kusyono sebelumnya dikenal sebagai salah satu anggota Kepolisian Resor Cirebon. Berpangkat Aiptu, Kusyono bertugas menjadi Kepala Unit Pembinaan Masyarakat (Binmas) dan Humas Polsek Panguragan.

Dalam menjalankan tugasnya, Kusyono bersentuhan langsung dengan masyarakat sekitar. Ia pelajari dan perlahan mulai mencoba mengikuti usaha barang rongsokan kecil-kecilan pada 1990. Sambil menjalankan tugasnya sebagai pelayan masyarakat, Kusyono terus meningkatkan modal pembelian barang rongsokan.

"Saya coba membeli dan mengumpulkan barang rongsokan hanya sedikit pada 1990. Tetapi, hampir setiap mendapatkan gaji bulanan (sebagai polisi–red), sekitar tiga juta rupiah, modal pembelian barang rongsokan terus saya tambahkan. Sampai akhirnya, saya beranikan diri pensiun dini pada usia ke-49 pada tahun 2000," kata Kusyono saat ditemui, Jumat, (10/4/2015).

Awalnya, Kusyono hanya memiliki enam karyawan, yang mengambil barang rongsokan dari wilayah Cirebon dan menjualnya ke Jakarta. Karena kegigihannya melihat potensi dan kelihaiannya mengatur modal, akhirnya usaha Kusyono berkembang pesat hingga ia memiliki sekitar 100 karyawan.

Pada masa keemasannya, sekitar tahun 2000, ia mampu mengeluarkan modal sekitar Rp 50 juta hingga Rp 100 juta untuk membeli 20 hingga 50 ton barang rongsokan dalam satu hari. Dari puluhan ton barang bekas jenis besi, kaleng, dan berbagai bahan dari wilayah III Cirebon ini, Kusyono dapat mengantongi omzet sekitar Rp 80 juta hingga Rp 120 juta per hari.

"Kalau lagi ramai dan dibutuhkan pabrik, saya bisa kirim sampai 50 ton lebih dalam satu hari. Untungnya cukup besar, sampai Rp 120 juta. Kalau waktunya pulang, saya langsung bayar gaji karyawan sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000, bergantung pekerjaannya," kata dia.

Keberhasilan Kusyono juga terukur dari jumlah luas gudang yang ia miliki. Kini Kusyono memilki sekitar 7 gudang barang rongsokan, 10 rumah megah, 6 hektar sawah, dan beberapa kendaraan. Dia juga sudah beberapa kali menunaikan ibadah haji sekaligus memberangkatkan keluarganya.

Sumber mata pencaharian

Bagi sebagian orang, barang rongsokan kotor, berkarat, dan berbau busuk mungkin dirasa menjijikkan. Namun, di tangan mereka, ribuan ton barang rongsokan jenis kaleng, besi, plastik, kaca, hingga kardus, justru menjadi sumber kehidupan utama.

Sejak matahari terbit, satu per satu warga sudah mendatangi gudang-gudang barang rongsokan yang berjejer di sepanjang kanan-kiri jalan Desa Panguragan. Meski masih perkampungan, hampir sudah tidak ada lagi udara segar lantaran terkontaminasi aroma barang rongsokan yang berceceran ke jalanan lantaran gudang sudah tak menampung lagi.

Cukup dengan pakaian sederhana, sarung tangan, sepatu, dan helm menjadi alat paling aman bagi para pengorek barang rongsokan ini. Mereka menyortir barang rongsokan berjenis kaleng, besi, kardus, untuk dimasukkan ke dalam bagiannya masing-masing.

Setelah terkumpul, barang rongsokan berjenis kaleng, mereka masukkan ke dalam truk kontainer hingga semua bak kontainer terisi kaleng bekas. Tiap kontainer yang berisi kaleng, besi, dan barang rongsokan lainnya, mereka kirim ke pabrik besar di wilayah Jakarta, Tangerang, Surabaya, dan sejumlah daerah lainya.

Kandeg adalah satu dari ribuan warga desa setempat yang berprofesi sebagai pengorek dan penyortir barang rongsokan. Ia sudah tiga tahun lebih berkerja di tempat yang kotor dan bau. Dia merasa lebih senang dengan pekerjaan yang dia geluti sekarang ketimbang jadi sopir angkot yang sebelumnya ia geluti.
"Lumayan, hasil kerja jadi tukang rongsok dapat mencukupi keluarga kami. Gajinya pun cukup tinggi dari sopir angkot. Dulu saya hanya dapat mengumpukan Rp 500.000 dalam satu bulan dan habis untuk sehari-hari. Tapi, jadi tukang rongsok, saya dapat kumpulkan lebih dari Rp 1 juta dalam sebulan karena makan sehari-hari kadang dibelikan bos," ujarnya.

Namun, satu hal yang tak bolah Kandeg lupakan, yakni berbobat dan check up setiap satu minggu sekali untuk menjaga kondisi kesehatan dirinya.

Banyaknya pengusaha barang rongsokan kelas kecil, menengah, hingga skala besar menjadikan Desa Panguragan dijuluki "Kampung Rongsokan". Dari barang-barang yang dianggap tak bernilai inilah, ratusan jiwa manusia di desa ini terus bertahan hidup.


Bahkan, bisa jadi, barang elektronik atau semua perabot rumah yang Anda miliki berasal dari barang bekas ini yang sudah berhasil didaur ulang dan menjadi barang-barang tertentu.




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)