Saturday, 14 March 2015

Potensi Usaha Perusahaan Produksi Tutup Botol Indonesia


Bagi beberapa produk, kemasan punya peran mempengaruhi tinggi rendahnya penjualan. Kemasan memainkan peran penting antara lain bagi produk makanan dan minuman. Siapa, sih, yang berselera untuk menikmati makanan, atau minuman, yang kemasannya terlihat kotor dan tidak higienis?

Seluruh bagian kemasan harus terlihat sempurna. Ambil contoh kemasan yang berbentuk botol. Bahkan tutup sekalipun tidak bisa diremehkan. Bukan apa-apa, jika botol tidak tertutup dengan rapat, isi produk bisa-bisa rusak. 
Potensi Usaha Perusahaan Produksi Tutup Botol Indonesia
Creative common image by kontan
Bila diperhatikan, ada beberapa jenis tutup botol, antara lain jenis sumbat (cork) seperti pada botol wine dan jenis mahkota seperti pada botol minuman tanpa soda, kecap, sambal, dan produk konsumsi lainnya.

Berkembangnya industri kemasan botol juga mengerek produksi tutup botol. Salah satu pengusaha yang melihat celah bisnis ini ialah Komaruddin Aden. Ia mendirikan PT Nakita Adkom di Bekasi, Jawa Barat, yang memproduksi tutup botol sejak 2010.

Akan tetapi, pria berusia 33 tahun ini mengaku sudah membuat tutup botol sejak masih berusia belasan tahun. “Dulu saya buat secara sederhana menggunakan peralatan di bengkel bubut milik tetangga,” ujarnya. Hasil tutup botol buatannya pun awalnya dipasarkan untuk tetangga di sekitar rumahnya yang memproduksi minuman tradisional dalam skala rumah tangga.

Komaruddin bilang, di luar negeri, tutup botol dipasarkan di swalayan. Sebut saja, negara-negara di Eropa. Karena kesadaran akan kesehatan penduduknya sudah sangat tinggi, mereka kerap membuat minuman seperti sirup, wine, serta minuman kesehatan lainnya secara mandiri. Alhasil, kebutuhan akan tutup botol tak hanya datang dari produsen, tapi juga dari pengguna langsung.

Sementara, lanjut Komaruddin, situasi di Indonesia tidak seperti itu. “Tapi, saya memperkirakan beberapa tahun ke depan bisa begitu,” katanya. Untuk itu, dalam bisnisnya, Komaruddin menyasar para pelaku usaha kecil dan menengah.

Maklum, kini, di berbagai daerah muncul banyak sekali produk minuman dan makanan yang diproduksi secara kecil-kecilan. Logikanya, mereka pasti butuh tutup botol untuk produk yang dikemas menggunakan botol kaca.

Komaruddin memproduksi satu jenis tutup botol yakni jenis mahkota atau crown cap. Tutup botol ini mirip mahkota yang melekat pada bagian mulut botol. Tutup botol jenis ini  sering digunakan untuk produk kecap, sirup, sari buah, dan minuman ringan yang tidak mengandung soda.

Tutup botol produksi Nakita  Adkom ini terbuat dari aluminium lunak. Cara membuatnya yakni dengan menekan tutup pada bagian mulut botol sehingga tercetak sesuai dengan pola mulut  botol. Ada dua pilihan warna tutup botol, yakni kuning mengkilat dan perak.
Komaruddin menerangkan, tutup botol yang berkualitas tidak boleh bocor alias harus benar-benar menutup botol dengan rapat. Pasalnya, kalau botol bisa menahan gas atau bau, tapi produk yang dikemas dalam botol tetap bisa rusak jika penutupan tidak bagus.

Profit 50%

Menurut Komaruddin, tutup botol harus memenuhi beberapa syarat, seperti mencegah penetrasi senyawa dari dalam ke luar kemasan botol, serta tidak menimbulkan reaksi dengan produk yang dikemas dan tidak lengket dengan produk. “Yang tak kalah penting, tutup botol harus dirancang untuk mudah dibuka, tapi tidak mudah dirusak,” ujar dia.

Tutup botol buatan Nakita Adkom dibuat dari tin plate dengan ukuran diameter 22 mm dan  tebal 0,14 mm–0,26 mm. Komaruddin menetapkan pesanan minimal 30 dus tutup botol. “Tiap dus berisi 1.500 pieces tutup botol,” ucap dia.

Untuk satu buah tutup botol. Komaruddin mematok banderol seharga Rp 64. Jadi, dari tiap transaksi, ia mengantongi sekitar Rp 3 juta.

Komaruddin sudah memasarkan produknya ke beberapa pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Jawa dan Bali. Pesanan tutup botol akan ramai pada hari-hari menjelang liburan Lebaran dan Natal. Pesanan di masa itu bisa naik dua kali lipat daripada jumlah di hari-hari biasa. “Di saat-saat seperti itu, muncul usaha pembuatan makanan dan minuman skala UKM dan itu berpengaruh pada penjualan kami,” tutur dia.

Dalam sehari, kapasitas produksinya rata-rata mencapai 20.000 buah tutup botol.

Dihitung-hitung, pemasukannya dari usaha ini mencapai Rp 40 juta saban bulan. Laba bersihnya cukup menggiurkan, karena bisa mencapai 50% dari omzet. “Ongkos produksi keseluruhan Rp 30 per tutup botol,” ungkap Komaruddin.

Pemain lain dalam bisnis pembuatan tutup botol ialah PT Antar Nusa Sakti Jaya (ANSJ) di Tangerang. Perusahaan ini sudah memproduksi tutup botol sejak tahun 2000.

Setidaknya ada dua jenis tutup botol yang diproduksi ANSJ, yakni crown caps (tutup mahkota) dan piller proof caps yang terbuat dari alumunium. Kebanyakan kliennya merupakan produsen di bidang makanan, minuman dan farmasi.

ANSJ mematok harga Rp 60 untuk tiap buah tutup botol tersebut. Dalam sebulan, pabrik ANSJ bisa memproduksi sekitar tujuh juta hingga sepuluh juta buah tutup botol.

Herry Ridwan, Marketing PT ANSJ, menuturkan bahwa permintaan untuk tutup botol dari tahun ke tahun rata-rata stabil. “Kalau pun ada kenaikan tidak terlalu signifikan,” ujarnya. Herry bilang setahun terakhir, terjadi kenaikan permintaan tutup botol hingga 10%.

Cari pasar dulu

Anda tertarik mencoba peruntungan di usaha ini? Komaruddin mengatakan, sama seperti banyak usaha, pasar merupakan hal utama yang harus diperhatikan dalam usaha pembuatan tutup botol.

Ini penting, karena harga jual produk ini terbilang mungil. Oleh sebab itu, produsen harus memastikan produknya akan laku dalam jumlah besar. Jika tidak, maka penjualan tidak  akan cukup untuk menutup ongkos produksi.

Sebelum memulai pembuatan tutup botol, Komaruddin membutuhkan waktu persiapan selama enam bulan. Dalam masa persiapan ini, ia banyak menggali informasi soal kondisi pasar. Dia juga melakukan riset pasar untuk mencari daerah-daerah yang memproduksi minuman kemasan botol.

Dalam bisnis ini, Komaruddin juga menekankan pentingnya edukasi pada klien. Menurut dia, wawasan produsen produk makanan atau minuman mengenai kemasan masih minim. Untuk itu, sebagai pabrik pembuat tutup botol, ia merasa Nakita Adkom bertanggung jawab untuk menambah pengetahuan klien. “Kami arahkan, misalnya untuk jenis minuman tertentu, kemasan seperti apa yang cocok,” kata dia.

Idealnya, produsen tutup botol juga memproduksi minuman atau makanan dalam kemasan botol. Dengan demikian, klien bisa melihat langsung aplikasi dari edukasi yang diberikan oleh pabrik. “Makanya, biaya marketing dan branding untuk produk ini cukup besar,” ujarnya. Hasil pengamatan Komaruddin, pasar yang paling cocok untuk usaha pembuatan tutup botol adalah kota-kota besar.

Bila pasar sudah jelas, langkah berikutnya ialah mempersiapkan tempat usaha dan mesin serta peralatan untuk membuat tutup botol. Komaruddin mengakui proses pembuatan tutup botol di Nakita Adkom berlangsung simpel.

Tempat usaha tidak usah terlalu luas. Pasalnya, mesin yang digunakan juga sederhana. Nakita Adkom menggunakan mesin press dengan ukuran 10 ton. Mesin ini bisa diimpor dari China. Harga belinya sekitar Rp 40 juta per unit.

Kegiatan produksi tutup botol juga membutuhkan cetakan. Tiap model tutup botol butuh cetakan tersendiri. Sehingga semakin banyak jenis tutup botol yang dibuat, semakin tinggi investasi yang harus ditanggung. Untuk cetakan tutup botol jenis mahkota, harga belinya di atas Rp 20 juta.

Menurut perkiraan Komaruddin, modal untuk merintis usaha pembuatan tutup botol sebesar Rp 100 juta. “Modal itu belum mencakup bahan baku untuk produksi tutup botol,” tandas dia.

Bahan baku utama untuk membuat tutup botol ialah tin plate. Komaruddin menjelaskan, satu lembar tin plate berukuran setengah meter persegi bisa digunakan untuk membuat 500 pieces tutup botol.

Supaya penggunaan bahan baku lebih efektif, produsen juga harus pandai untuk mengatur pola. Tujuannya, agar tak banyak bahan baku yang akan terbuang.

Ia membeli tin plate seharga US$ 1 per kilogram atau sekitar Rp 11.000–Rp 12.000 per kilogram. Untuk membuat satu buah tutup botol, waktu yang dibutuhkan hanya 1,12 detik.
Komaruddin bilang, tin plate bisa diimpor dari China. Akan tetapi, prosedurnya cukup menyusahkan. Apalagi untuk pengusaha kecil. Untuk itu, ia membeli tin plate dari pabrik besar seperti Ancol Terang. “Harganya lebih mahal 30% dari tin plate impor tapi lebih cepat dan tidak ribet,” tegasnya.

Kendala yang patut diwaspadai

Walaupun kegiatan produksi tutup botol terbilang sederhana, bukan berarti tidak ada kendala dalam usaha tersebut. Komaruddin Aden, pemilik PT Nakita Adcom, menyebutkan, beberapa kendala yang harus diwaspadai oleh mereka yang ingin memproduksi tutup botol.

Kendala itu, menurut Komaruddin menyebabkan banyak produsen tutup botol yang akhirnya beralih menjadi distributor atau pemasok saja. Kendala pertama yang disebut Komaruddin adalah memasarkan tutup botol hasil produksi. Kegiatan pemasaran tidak mudah karena produsen tutup botol harus berhadapan dengan distributor yang membeli dari pabrik besar.

Menurut pengamatan Komaruddin, teknik pemasaran tutup botol memang bisa dijalankan lewat distributor. Namun, akan lebih baik jika langsung menjalin relasi dengan konsumen produsen makanan dan minuman. Bahkan, lebih baik lagi jika tutup botol dipasarkan di swalayan sehingga bisa langsung sampai pada end user.

Hanya, yang perlu diingat, pemasaran lewat swalayan hanya bisa terjadi jika masyarakat sudah akrab dengan gaya hidup memproduksi makanan atau minuman secara mandiri. 

Dengan kata lain, masyarakat tak lagi mengandalkan produk pabrikan untuk konsumsi. “Modal untuk pemasaran itu yang paling besar dalam modal ini karena kami juga harus mendukung masyarakat dari segi gaya hidup dan jiwa wirausaha,” ujarnya.


Kendala kedua ada pada kebutuhan raw material. Para pengusaha kecil terbatas pada ijin impor bahan baku tin plate. “Harga beli bahan baku ini sebenarnya murah dan sudah termasuk ongkos kirim, tapi kami dibatasi perizinan,” keluhnya. Sebagai opsi, pengusaha bisa membeli dari pabrik besar, seperti Ancol Terang yang juga merupakan produsen tutup botol. 
         


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)