Facebook

Friday, 13 March 2015

Potensi Perusahaan Pabrik Pengolahan Ikan Laut di Indonesia


Pabrik pengolahan ikan menjadi salah satu lahan yang menggiurkan untuk menjaring keuntungan. Potensi sumber daya ikan melimpah, sejalan dengan permintaan pasar dan tingginya konsumsi makanan olahan ikan.

Industri perikanan dan kelautan di tanah air nampaknya akan menjadi salah satu sektor primadona di tahun ini hingga tahun-tahun mendatang. Pasalnya, pemerintahan Joko Widodo sudah mencanangkan sektor maritim sebagai salah satu fokus pengembangan negara ini.

Potensi Perusahaan Pabrik Pengolahan Ikan Laut di Indonesia
Creative common image by Kontan
Sektor perikanan memang memiliki potensi yang besar bagi perekonomian Indonesia. Dengan luas perairan sekitar 70% dari total wilayah Indonesia, sektor perikanan menyimpan kekayaan terpendam yang patut terus dikembangkan.

Sejumlah kebijakan perbaikan di sektor perikanan dan kelautan pun sudah dilakukan pemerintah untuk mengoptimalkan kembali sektor perikanan dan kelautan. Di antaranya, pengetatan ekspor ikan laut, penertiban izin kapal, dan penenggelaman kapal asing ilegal sebagai salah satu bentuk penegakan hukum di laut. "Dengan kondisi kebijakan pemerintah yang semakin ditegakkan seperti sekarang ini, prospek di sektor perikanan pun saya yakin semakin cerah di tahun 2015," ujar Suharjito, Penasihat Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengusaha Pindang Ikan Indonesia (Apikando).

Menurut Suharjito, selain dari sisi potensi produksi Indonesia, konsumsi makanan laut sangat besar. Di pasar domestik saja, pada tahun 2013 lalu, konsumsi ikan Indonesia mencapai 35,62 kilogram per kapita. Tahun 2014, konsumsi ini diperkirakan meningkat hingga 38 kilogram per kapita. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pun menargetkan, konsumsi bisa mencapai 40 kilogram per kapita pada tahun ini.

Jumlah tersebut terbilang sangat besar mengingat jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta orang. Artinya, total konsumsi ikan orang Indonesia tahun ini berpotensi menyentuh angka 10 juta ton. Ini tentunya akan mendorong pula sektor pengolahan makanan berbahan baku ikan laut.

"Kementerian juga semakin tegas dalam kebijakan ekspor bahan baku ikan. Saya lihat sekarang yang memang benar-benar layak, baru boleh diekspor. Sementara mayoritas diarahkan untuk konsumsi domestik," kata Suharjito yang juga pemilik dari PT Dua Putra Perkasa, perusahaan pabrik pengolahan ikan laut.

Dengan begitu, mau tak mau, industri pengolahan hasil ikan laut lokal juga akan semakin bergairah. Hal ini dibenarkan oleh pengusaha lainnya, Saefudin, pemilik CV Sakana Indo Prima, yang juga bergerak di bidang yang sama. Ia optimistis, tahun ini masih akan menjadi tahun yang baik untuk sektor perikanan, termasuk pengolahan ikan laut. "Sampai saat ini, permintaan pasar terhadap produk olahan ikan kami saja 30% di atas produksi kami. Apalagi, kita bicara permintaannya secara luas. Pasar produk ini memang sangat luas," kata Saefudin.

Untuk itu, ladang pengolahan hasil ikan laut ini masih bisa menjadi lahan yang menggiurkan untuk menjaring keuntungan. Potensi sumber dayanya melimpah. Pun, permintaan pasar masih besar dengan tingginya konsumsi masyarakat terhadap makanan olahan ikan.

Nah, bagi Anda yang tertarik, tak ada salahnya melirik untuk memulai bisnis di bidang ini. Jangan lupa pula melengkapi diri Anda dengan berbagai pengetahuan seputar bisnis pengolahan ikan laut.

Menurut para pelaku bisnis di bidang ini, ada sejumlah poin utama yang perlu diperhatikan ketika memulai dan menjalankan usaha pabrik pengolahan ikan laut. Di antaranya adalah modal, pabrik, bahan baku dan produk serta pemasaran. Berikut ini ulasan lengkapnya.

• Permodalan

Salah satu hal utama yang kerap ditanyakan pengusaha dalam memulai bisnisnya adalah modal. Berapa dan apa saja kira-kira modal yang harus disiapkan? Tentu, modal dana menjadi faktor yang cukup penting dalam merintis suatu bisnis.

Dalam hal pengadaan modal dana, ada berbagai pilihan. Mulai dari dana tabungan sendiri, kerjasama dengan rekan ataupun penyedia bahan baku dan distributor, hingga pinjaman pribadi maupun pinjaman bank. Anda tinggal memilih sumber pendanaan yang dianggap paling sesuai. "Kalau kami belum pernah memakai pinjaman. Selama ini investasinya dari keuntungan yang didapatkan. Jadi memutar saja duitnya. Kalau kerja tanpa beban, pinjaman bank akan lebih tenang rileks dan nyaman," ujar Saefudin.

Sementara itu, Suharjito menjelaskan, modal dana untuk membangun pabrik tergantung dari standardisasi pabrik yang diinginkan si pengusaha. Modalnya bisa mulai dari Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar untuk usaha kecil.

Sedangkan untuk usaha menengah butuh modal Rp 2 miliar hingga 20 miliar. Dana di atas Rp 20 miliar dibutuhkan untuk membangun pabrik yang modern dan standardisasi lebih tinggi. "Kalau mau modern dengan mesin dari Eropa, tentu lebih mahal pabriknya," ujar Suharjito. Satu mesin pengaduk daging dan tepung, misalnya, membutuhkan dana Rp 1 miliar. 

Belum lagi kebutuhan dana untuk pengadaan mesin pembuat sosis atau nuget ikan.
Semakin banyak produk yang ingin dihasilkan, otomatis modalnya akan semakin besar. Untuk satu set mesin penghasil nugget, sosis, bakso dan aneka produk olahan yang ada saat ini, biayanya Rp 7 miliar.

Menurut Suharjito, untuk pabrik skala sedang atau menengah, kapasitas produksinya sekitar 10 ton per hari. Ia sendiri memiliki usaha pengolahan ikan laut, PT Dua Putra Perkasa. Saat ini, skala produksi perusahaan itu 15 ton per hari.

Jangan langsung ciut nyalinya kalau melihat kebutuhan modal yang besar untuk membangun satu pabrik. Saefudin memberikan tips bagi Anda yang memiliki modal terbatas. Maklum, dia sendiri merintis usahanya dengan modal pas-pasan.

Tahun 2006, Saefudin merintis usahanya bekerja sama dengan rekannya, Redy Ardiansyah. Awalnya, CV Sakana Indo Prima hanya membeli dan menjual ikan segar dengan modal awal sebesar Rp 30 juta. Makanya, ia menyarankan, jika tak ingin atau tak bisa meminjam modal besar, Anda dapat memulai usaha makanan olahan ikan ini dengan merintis secara kecil-kecilan sambil menabung untuk investasi.

Pada pertengahan 2009, bisnis Sakana Indo berkembang menjadi usaha pabrik pengolahan ikan laut. Saat ini, Sakana Indo memproduksi 6 ton hingga 7 ton olahan ikan per hari.

Namun, jika ingin langsung membangun pabrik pengolahan ikan, tak cukup dengan modal awal Rp 30 juta. Saefudin menuturkan, saat ini perusahaannya tengah membangun pabrik baru di Semarang. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp 500 juta. "Itu pun dengan bangunan yang terbilang sederhana dan mesin yang sederhana," imbuhnya.

Jika ingin membangun pabrik dengan dana mini, Anda bisa memulai dengan membeli mesin buatan lokal, atau bahkan merakit mesinnya sendiri. Dengan begitu, dana yang disiapkan bisa lebih sedikit.

Selain modal dana, jangan lupakan modal pengetahuan dan jaringan di dunia bisnis perikanan. Rajin-rajinlah menggali informasi seputar ikan dan cara pengolahan. Hal ini penting agar dapat melakukan inovasi secara berkala dalam membuat produk. Jaringan pun dibutuhkan, baik untuk memperoleh bahan baku berkualitas bagus serta pendistribusian produk.

• Pabrik

Dalam membangun pabrik, ada empat faktor utama yang perlu disiapkan, yakni lahan, bangunan atau gedung pabrik, mesin dan tenaga kerja. Untuk lahan, lebih baik jika menggunakan lahan kosong yang sudah ada. Dengan begitu, menghemat biaya tambahan untuk membeli lahan.

Luas lahan yang dibutuhkan bervariasi. Suharjito, misalnya, dengan kemampuan menghasilkan 15 ton per hari, ia memiliki lahan pabrik seluas 2.500 meter persegi (m2). Ini belum termasuk luas bangunan perusahaan untuk operasional sekitar 500 m2. Kalau sudah punya tanah sendiri lebih enak, karena bisa lebih hemat. "Coba kalau 3.000 m2 dikali Rp 1 juta di kawasan Jabodetabek, untuk beli tanah menjadi lahan pabrik saja nantinya sudah membutuhkan dana miliaran rupiah," katanya.

Saat ini, Saefudin memiliki luas lahan 1.650 m2 untuk total produksi 6 ton hingga 7 ton per hari. Namun, untuk usaha kecil, lahan seluas 500 m2 sudah cukup. Pabrik dibangun di atas lahan seluas 300 m2 dan selebihnya untuk pabrik dan operasional. Namun, perlu diingat, kuncinya jika ingin membuat pabrik seperti ini, perputaran penjualan pun harus cepat. Jika tidak, maka harus menyediakan lagi gudang cold storage untuk menampung hasil produk olahan ikan.

Anggap saja, satu pabrik dalam sehari bisa menghasilkan produk olahan ikan sebanyak 4 ton. Nah, dalam 20 hari saja, hasil produksinya 200 ton. Jika penjualannya tidak cepat maka harus menyediakan gudang penyimpanan dingin yang dapat menampung produk sebanyak 200 ton. Pasalnya, produk olahan ikan ini tak tahan lama.

Harga cold storage buatan Jepang ini sekitar Rp 500 juta untuk kapasitas 10 ton hingga 15 ton. Bayangkan, jika harus menyimpan 200 ton, maka perlu 15 unit hingga 20 unit cold storage dalam pabrik yang bakal menghabiskan dana besar.

Untuk menyiasatinya, Saefudin merakit sendiri panel-panel pendingin seken dengan kompresor. "Biayanya jadi hanya Rp 120 juta," ujar pria lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan Jakarta ini.

Saefudin juga membagi tips untuk penyediaan mesin di pabrik. Mesin yang digunakan bervariasi tergantung produk yang dihasilkan. Namun, ada mesin yang umumnya ada dalam pabrik pengolahan ikan laut. Di antaranya, mesin penggiling, mesin pengaduk bahan dan mesin pencetak. Untuk menghemat biaya mesin, dapat memodifikasi sendiri mesin yang ada di pabrik. "Semua mesin kami berasal dari dalam negeri dengan modifikasi sendiri. Kami merancang sendiri tinggal bawa ke bengkel," kata Saefudin. Cara tersebut memangkas pengeluaran dana sebesar 50% hingga 70%, ketimbang mengimpor.

Syaratnya, pengusaha harus lebih rajin membeli dan mengumpulkan suku cadang mesin sendiri. Misalnya, membeli motor penggerak di Glodok, Jakarta barat, membeli besi stainless steel sendiri, atau membeli dandang di kawasan Cawang. Asal mau repot, pasti bisa menekan biaya. Kalau peralatan sudah lengkap, butuh waktu antara 1 minggu–2 minggu untuk merancang mesin itu.

Setelah mesin, jangan lupa menyediakan tenaga kerja yang dibutuhkan. Saefudin saat ini membawahi 130 orang karyawan. Sementara karyawan Suharjito berjumlah 140 orang.

Pelatihan karyawan juga sangat penting. "Kami sering mengikutkan karyawan dalam pelatihan dari pemerintah, seperti pelatihan bina mutu makanan. Saya sendiri bersama pendiri yang lain juga sering mengajarkan ke karyawan langsung," imbuh Saefudin.

• Bahan baku dan produk

Salah satu hal penting yang harus dipersiapkan pemula dalam berbisnis olahan ikan ini adalah bahan baku. Suharjito bilang, bahan baku ini memakan biaya 60% hingga 70% dari harga jual produk.

Untuk bahan baku, para pengusaha ini memiliki tempat favorit masing-masing. Suharjito biasa mengambil bahan baku dari kawasan Maluku, Makassar dan Jawa Tengah. Terkadang, ia mengambil pasokan dari Surabaya. Bahan baku dari tempat-tempat tersebut kualitasnya bagus dengan harga yang pas.

Adapun, Saefudin biasa membeli bahan baku ikan tuna yang berasal dari Makassar, Bali, Bitung dan Ambon. Namun, ia membelinya melalui pengepul di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara.

Untuk menjaga kualitas ikan yang dibeli, pengusaha bisa membeli dari pemasok besar yang sudah memiliki kontrol kualitas atas produknya.

Selain bahan baku, penting pula bagi para pengusaha membuat produk olahan yang menarik. Kreasi dan inovasi dalam menghasilkan olahan yang kreatif menentukan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.

Saat ini, produk olahan ikan yang umum di pasaran antara lain nugget, bakso dan otak-otak ikan. Selain itu, bisa pula membuat abon, rolade, sosis dan kornet. Ikan yang digunakan bervariasi, mulai dari tongkol cakalang, tengiri, tuna, pari maupun ikan mata goyang.

• Pemasaran

Setelah produk jadi, jangan lupakan aspek yang tak kalah pentingnya di tahap akhir, yakni pemasaran. Dalam hal ini ada strategi penetapan harga untuk memenangkan persaingan dan juga strategi distribusi.

Untuk penetapan harga, bisa dilakukan dari hitungan bahan baku yang digunakan. Menurut Suharjito, bahan baku biasanya memakan porsi 60-70%. Lalu, 15% sampai 20% biaya operasional dan listrik. Sedangkan, sekitar 10%-15% untuk laba bersih di luar potongan pajak.

Hal ini diamini pula oleh Saefudin. "Sudah ada hitungan standarnya, kalau kita ambil untung lebih tinggi, pasti akan kalah dengan pesaing lain," katanya. Demi meraup untung atau memangkas harga, Anda jangan pula membuat bahan baku campuran atau mengurangi komposisi ikan. Ini bisa membuat pelanggan kabur.

Dari sisi penjualan, Anda bisa memilih menyasar kelas menengah bawah atau kelas menengah atas. Suharjito memilih menyasar kedua segmen itu sekaligus. Jika menyasar kelas menengah bawah, maka bisa dilakukan strategi distributor atau keagenan di setiap tempat. Untuk segmen ini, Suharjito menjual produk dengan harga Rp 12.000 hingga Rp 17.000 per kilogram. Sementara itu, untuk kualitas kelas menengah atas, ia menjual di kisaran Rp 40.000 per kilogram.

Cara yang pemasaran yang dilakukan adalah menjual produk makanan olahan ikan itu ke restoran dan rumah makan dengan nama besar. Otomatis, butuh kualitas produk yang lebih baik dan terjaga. Menurutnya, kedua segmen pasar itu harus sama-sama dijaga. Dari total produksi PT Dua Putra Perkasa, misalnya, 60% untuk produk kelas menengah bawah dan 40% untuk produk menengah atas.

Saefudin memiliki strategi lain. Ia membagi dua sisi pemasaran. Pertama, dengan merek sendiri, yakni Sakana. Selain itu, ia juga membangun kemitraan. Mitra ini akan mengambil barang lalu memberikan mereknya masing-masing. Saat ini, mereka memiliki tiga mitra.

Tujuannya agar dapat fokus di proses produksi. Sedangkan pihak ketiga sebagai mitra fokus menggarap sisi pemasaran. "Jadi strategi kami people network karena pusing kalau memikirkan dari ujung ke ujung, dari produksi hingga pemasaran," imbuhnya.

Dia hanya mengambil marjin produksi dan tidak mencomot margin dari pemasaran produk. Ini merupakan strategi diambil agar usahanya dapat bertahan dan mampu bersaing melawan pemain-pemain besar. "Kalau pemain besar kan mengambil marjin produksi sekaligus marjin marketing," imbuh Saefudin, yang mengaku 50% porsi penjualan merek Sakana dan 50% sisanya untuk tiga mitra lain.


Untuk memenangkan persaingan, pengusaha pemula harus bisa bersaing dari sisi harga, kualitas produk dan pelayanan penjualan. Dus, usaha ini balik modal dalam tiga tahun.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)