Friday, 13 March 2015

Karl Wlaschek, taipan properti Austria


Menjadi tua memang hukum alam. Namun, menjadi kaya raya di usia yang semakin senja patut diacungi jempol. Adalah Karl Wlaschek, taipan properti masih menjadi langganan daftar orang terkaya di dunia. Dengan nilai kekayaan US$ 4,1 miliar, Wlaschek menduduki peringkat ke 393 miliarder dunia versi Forbes. Pria yang telah menikah sebanyak lima kali ini memiliki 250 properti termasuk istana megah, hotel ataupun bangunan bersejarah di Austria.

Fisik boleh jadi sudah renta, tetapi semangat, pemikiran dan cita-cita tak pernah menjadi tua. Berusia tua tak menghalangi seseorang mengembangkan bisnis. Itu pula yang dilakoni Karl Wlaschek, pria berusia 97 tahun, pendiri jaringan supermarket terbesar di Austria, Billa.

Majalah Forbes mendaulat Wlaschek sebagai orang terkaya dunia nomor 393 pada tahun 2015. Tahun lalu, Walschek berada di peringkat 305 sebagai pengusaha kaya dunia. Di Austria, ayah dua orang anak ini menjadi orang terkaya ketiga. Namun, pada 2009, Wlaschek sempat berjaya sebagai orang terkaya nomor satu di negara yang terkenal dengan musik klasiknya itu.

Jumlah kekayaan Karl Wlaschek ditaksir mencapai US$ 4,1 miliar dari hasil bisnis ritel dan realestat. Di usianya yang tak lagi muda, Wlaschek mendapat julukan sebagai taipan realestat di Austria. Negara kelahirannya itu menjadi basis bisnis utama Wlaschek.

Bermula dari bisnis ritel kemudian merambah bisnis properti realestat, Wlaschek terus membangun kerajaan bisnisnya. Di sektor properti, Wlaschek memarkir dana investasinya di sejumlah aset seperti gedung-gedung perkantoran, hotel, dan properti sejarah seperti museum. Bahkan, Wlaschek juga berinvestasi di bangunan istana peninggalan kekaisaran Austria-Hongaria.


Karl Wlaschek, taipan properti Austria
Creative common image by kontan
Sebelum sukses menjadi taipan properti, Wlaschek berkecimpung di bisnis ritel. Namun, pada 1996 lalu, Wlaschek melego bisnis ritel yang dirintisnya bernama Billa kepada Jerman REWE Group. Dari hasil penjualan itu, Wlaschek mengantongi duit sebesar US$ 1,4 miliar. Lalu, Wlaschek mulai mendirikan perusahaan bernama KWPS Immobilien GmbH.

Saat ini, KWPS Immobilien GmbH memiliki sekitar 250 properti termasuk delapan istana, 10 hotel dan sejumlah bangunan bersejarah di Wina. Beberapa istana yang dimiliki oleh Wlaschek adalah Palais Kinsky, Ferstel, Esterházy dan Harrach di pusat kota Wina.

Wlaschek mendulang duit dari sewa properti. Pendapatan beberapa aset properti miliknya seperti gedung-gedung perkantoran, hotel dan istana mencapai
€ 200.000 saban hari. Sementara, dari aset properti lain seperti Amisola, Estrella dan Novoreal, Wlaschek meraup pendapatan € 74 juta setiap tahunnya.

Pengusaha yang dikenal cerdik dalam mengambil keputusan akuisisi bangunan ini bahkan juga telah menyiapkan pusaranya. Wlaschek memugar dan merenovasi salah satu istana yakni Palais Kinsky sebagai tempat makamnya kelak. Malah, Wlaschek juga telah menerbitkan memoar yang berjudul "Karl Wlaschek: Sebuah Kisah Sukses".



Tidak hanya aktif menumpuk pundi-pundi kekayaan, Wlaschek juga tak kenal lelah menemukan cinta. Di usia 94 tahun, Wlaschek menikah untuk kelima kalinya. Dari perkawinan sebelumnya, Wlaschek membesarkan empat orang anak.

Wlaschek sendiri hanya memiliki dua anak kandung, yakni Maria-Luise Bittner dan Karl Philip Wlaschek. Suami dari Rikki Schenk ini mengaku ingin memiliki anak lebih banyak lagi.  "Saya akan mengatakan lima atau enam anak setidaknya," tutur Wlaschek kepada Times Wina.

Sementara Schenk yang saat ini berusia 65 tahun masih berpikir ulang apakah akan memiliki momongan lagi atau tidak. "Saya tidak muda lagi," katanya.

Wlaschek bertemu dengan istrinya pada tahun 2011 di sebuah acara di Wina. Keduanya kehilangan pasangan terakhir di hari yang sama. Setelah setahun berbagi kesedihan dan kebahagiaan bersama, pasangan tersebut akhirnya memutuskan untuk menikah. 

Perjalanan Karl Wlaschek menjadi miliarder kakap dunia tidak mudah. Ia mengawali kariernya sebagai pianis dan menggelar pertunjukan di kafe-kafe. Dari hasil manggung, Wlaschek mengumpulkan modal membuka toko kelontong, Billa. Menggunakan konsep diskon dan self service, Billa kian populer. Pada tahun 1996, Wlaschek menjual Billa dan Merker senilai US$ 1,4 miliar dan beralih ke bisnis perbankan sebelum akhirnya menjadi taipan properti.

Sepak terjang Karl Wlaschek di dunia bisnis berawal dari pasca meletusnya perang dunia kedua. Kala itu, negara tempat kelahiran Wlaschek, Austria, menjadi bagian dari reich Jerman pada tahun 1938. Pria yang lahir pada 4 Agustus 1917 itu bekerja sebagai pianis dan pemimpin kelompok band. Dengan nama panggung "Charlie Walker,", Wlaschek menggelar pertunjukan di beberapa kafe Austria, seperti di Kitzbühel dan Schlosshotel Velden.

Impian Wlaschek muda mengelola sebuah kafe lengkap dengan pertunjukan musik dan tari pupus lantaran kurang modal. Akhirnya, Wlaschek yang mulai meniti karier sebagai pianis membuka bisnis toko kelontong pada 1953. Namun, bisnis kecil ini lama-lama menggurita dan mengantarkan Wlaschek sebagai miliarder dunia.

Di usianya yang ke-36 tahun pada 1955, Wlaschek membuka toko parfum kecil yang bernama Margaret. Dengan mengusung konsep diskon, parfum dagangan Wlaschek, Margaret laris di pasaran. Bahkan, Margaret masuk dalam jajaran 45 toko paling terkenal di Wina pada tahun 1960.

Kemudian, di tahun 1961, Wlaschek menggunakan konsep diskon dan sistem self-service pada toko ritel yang menjual bahan pangan yang diberi nama Billa. Di sinilah cikal bakal Billa, perusahaan ritel terbesar di Austria dimulai.

Nama Billa berasal dari kontraksi Billiger Laden, Jerman yang memiliki arti "toko murah" atawa cheaper load. Billa menjadi peletak dasar dari jaringan bisnis perdagangan ritel yang luas di benua Eropa.

Tak puas dengan pencapaiannya, Wlaschek kembali mendirikan sebuah rantai superstore baru bermerek Merkur di 1969. Dibandingkan dengan Billa, koleksi produk Merkur lebih lengkap. Delapan tahun kemudian, jaringan usaha yang dibentuk oleh Wlaschek resmi melantai dan menjadi perusahaan terbatas untuk mengkoordinasikan daerah berbeda dan memperoleh manfaat dari sinergi potensial.

Strategi Wlaschek cukup berhasil. Di tahun 1987, sinergi antara Billa dan Merkur menghasilkan pendapatan tahunan hingga US$ 700 juta dari 330 outlet. Lalu, di tahun 1990, Wlaschek mulai melebarkan jaringan toko kelontong Billa ke luar Austria seperti Republik Ceko, Slovakia, Bulgaria, Rumania, Rusia, Kroasia, Italia dan Ukraina. Alhasil Billa dan Merkur memiliki 1.400 outlet yang tersebar di wilayah Eropa.

Namun, tanpa diduga, pria yang jeli melihat peluang bisnis ini menjual bisnis ritelnya, Billa dan Merkur, ke perusahaan asal Jerman, Rewe Group senilai US$ 1,4 miliar. Transaksi jual beli ini menjadikan Wlaschek menjadi warga negara Austria terkaya pada usia 80 tahun.

Komisi Eropa menyetujui merger antara BML Asset Management Inc, induk usaha Billa Merkur Libro dengan Rewe Group pada Juli 1996. Rewe Group yang sedang terjepit dengan perang harga di Jerman mencari keuntungan di pasar luar negeri. Makanya, kelompok usaha pengecer makanan dengan 11.000 gerai di Eropa ini mengincar pasar Austria.

Sebelum mencicipi kejayaan di bisnis properti, Wlaschek terlebih dahulu menjajal bisnis perbankan di Austria. Tetapi, menjadi bankir tidak membuat bintang kesuksesan Wlaschek bersinar cemerlang. Ia gagal dalam privatisasi Creditanstalt, sebuah bank yang kemudian menjadi bank terbesar kedua di Austria.

Kegagalan tersebut tak membuat Wlaschek melempar handuk. Ia mulai bangkit kembali dan memulai peruntungannya di bisnis real estate. Dengan sisa uang yang dimiliki, Wlaschek berinvestasi di properti.  Kali ini, Wlaschek bernasib mujur. Dari bisnis properti, pundi kekayaannya kembali menumpuk.                   

Sejak berbisnis properti, Karl Wlaschek gemar melakukan akuisisi. Tak heran, setiap tahun aset properti Wlaschek selalu bertambah. Karl Wlaschek memiliki beberapa gedung perkantoran dengan tingkat sewa premium, hotel bintang lima dan bangunan bersejarah seperti istana. Di tahun 2011, Wlaschek dikabarkan membayar € 50 juta untuk Schlosshotel Velden di Wina. Bahkan, Wlaschek juga memiliki kompleks perumahan yang penghuninya adalah miliarder.

Harga sewa yang terus melambung membuat bisnis properti semakin gurih. Setiap tahun, nilai aset properti selalu naik. Makanya, Karl Wlaschek memberanikan diri menggarap peluang bisnis properti. Perhitungan yang cermat ini menjadikan Wlaschek, anak seorang pegawai negeri di Wina, Austria, menjelma menjadi taipan real estate Austria. Seluruh properti Wlaschek dikelola oleh yayasan swasta dengan nama-nama Amisola, Estrella, Novoreal dan Ermione

Aset-aset properti yang dimiliki Wlaschek tak hanya sebatas gedung perkantoran melainkan juga hotel megah bintang lima yaitu Hotel Radisson di Salzburg. Bahkan, Wlaschek juga memiliki bangunan bersejarah yang menjadi lokasi Bursa Efek Vienna dan beberapa istana di Wina. Mantan pianis jazz ini juga menjadi pemilik menara Andromeda Tower dan Ares Tower. Keduanya merupakan bagian dari Danube City.
Pada tahun 2011, Wlaschek menggebrak bisnis real estate. 

Situs kaernten.ORF.at menuliskan, Hypo Alpe Adria Grup dengan Amisola Immobilien AG milik miliarder Karl Wlaschek, telah menandatangani kesepakatan untuk membeli Schlosshotel Velden di Wina. Namun, belum jelas berapa besar Wlaschek membayar untuk seluruh properti, termasuk 21 apartemen dan restoran tersebut.

Dikabarkan, Hypo mengantongi duit sebesar € 50 juta dari hasil penjualan hotel Kastil ini. Namun, transaksi jual beli Schlosshotel Velden tak mudah. Pasalnya investor asal Italia, Ugo Barchiesi menggugat Hypo. Menurut laporan surat kabar harian "Die Presse",
Barchiesi mengklaim telah memiliki perjanjian jual beli Schlosshotel Velden terlebih dahulu. Barchiesi telah menandatangani akta perjanjian jual beli sejak April 2011. 

Sedangkan, transaksi Wlaschek atas Schlosshotel Velden baru dilakukan pada akhir Juli 2011.

Barchiesi telah menunjukkan minat membeli hotel sejak tahun 2010. Ia mengaku sanggup membayar € 4 juta untuk pembelian hotel tersebut di bulan April 2011. Tetapi, hingga 31 Mei 2011, pembayaran tak kunjung dilunasi.

Akhirnya, Hypo menyatakan ganti rugi. Pada bulan berikutnya, Barchiesi ingin melakukan negosiasi ulang.  Dari sudut pandang Hypo, Barchiesi telah melanggar kontrak jual beli.
Wlaschek Realty resmi memiliki Schlosshotel Velden pada akhir Agustus 2011. Di tahun 2011, aset berwujud Wlaschek berkisar € 1,93 miliar.

Pada 2013, Wlaschek merogoh koceknya sebesar € 107 juta untuk investasi rumah baru. Pembelian yang dilakukan tiga yayasan Wlaschek yakni Novoreal, Amisola dan Estrella ini lima kali lipat lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Menurut laporan tahunan yang ada, ketiga yayasan tersebut membeli enam proyek real estate senilai € 85,5 juta.

Masih di tahun 2013, Novoreal mengakuisisi tiga bangunan yakni Burgring 1, Dorotheergasse 6-8 dan Marc -Aurel-Straße 10 (Superfund House). Lalu Estrella membangun gedung apartemen besar di Skodagasse 9 dan dua apartemen baru.
Sementara, Amisola mendirikan properti residensial favorit di Wina, yaitu Rieplstraße. Kompleks perumahan elite itu ditempati para miliarder berkelas.

Ekspansi Wlaschek terus berlanjut. Pada 2014, Wlaschek melalui Wina Insurance Group membeli Wina Ring Palace di sudut Babenbergerstraße. Nilai akuisisi ini ditaksir mencapai € 17,5 juta. Selain itu juga, Wlaschek membangun kompleks perumahan elite, The Uniqua, di pusat kota Wina dengan nilai proyek sekitar € 56 juta. The Uniqua yang dijual Wlaschek memiliki paket mahal dan diantaranya terdapat kantor Superfund.     

Mengalami penderitaan pada Perang Dunia Kedua membuat Karl Wlaschek mendedikasikan hidupnya kepada masyarakat. Sejumlah penghargaan diperoleh oleh Wlaschek dari pemerintah kota Wina dan Pemerintah Austria. Penghargaan perdana yang diperoleh oleh Wlaschek adalah Medal of Honor di tahun 1989. Di bidang sosial kemanusiaan, Wlaschek juga mendapatkan Medali Emas Kehormatan karena telah menyumbangkan robot bedah kepada Rumah Sakit Umum Wina.

Menjadi kaya dan meraih banyak kesuksesan tak menjadikan Karl Wlaschek gelap mata. Belajar dari pengalamannya ketika Perang Dunia Kedua, Wlaschek banyak mengabdikan hidupnya kepada masyarakat. Makanya, Wlaschek menerima berbagai penghargaan yang diberikan oleh pemerintah kota Wina ataupun Pemerintah Austria. Sudah tak terhitung berapa banyak penghargaan yang diperoleh oleh Wlaschek setelah banting setir dari pengusaha ritel menjadi pengusaha real estate.

Karl Wlaschek pertama kali memperoleh penghargaan dari Pemerintah Austria pada tahun 1989. Pendiri supermarket Billa ini mengantongi Medal of Honor, medali emas untuk layanan kota Wina.  Medali kota Wina yang digelar sejak 1949 lalu merupakan salah satu penghargaan penting yang dikeluarkan oleh Pemerintah Austria.

Empat tahun berselang, yakni di tahun 1993, Wlaschek kembali memperoleh penghargaan keduanya. Wlaschek yang saat itu masih suami Karin Gschwendtner mendapatkan penghargaan emas di kategori layanan untuk Republik Austria.

Kepemilikan Wlaschek terhadap bangunan bersejarah membuatnya menerima Medali Emas Kehormatan ibukota Austria, Wina pada tahun 2004. Medali dengan diameter 80 mm ini bergambar lambang kota Wina di salah satu sisinya, kemudian pada sisi lainnya adalah gambar balai kota dengan tulisan "Untuk layanan yang luar biasa ke Wina," dalam karangan bunga Laurel.

Asal tahu saja, penghargaan ini diberikan oleh kota Wina demi menghormati orang-orang yang telah membentuk kehidupan dan badan kota dengan aktivitas yang signifikan di kawasan budaya, ilmiah atau ekonomi. Ring of Honor diberikan sejak 8 Februari 1949 dalam rangka menghormati hak-hak sipil.

Masih di tahun yang sama, Wlaschek menerima penghargaan Medali Emas Dekorasi Tanah Salzburg. Ini adalah penghargaan multi yang diberikan oleh negara bagian Salzburg. Medali yang diberikan berupa cincin Salzburg sebagai salah satu penghargaan tertinggi di provinsi ini. Dasar untuk penghargaan dari Medal of Honour of Salzburg adalah Salzburg Decoration Act, yang telah ditetapkan pada 7 Februari 2001 melalui Undang-Undang Kehormatan Provinsi Salzburg.

Lalu, Walikota Wina Michael Haupl juga memberikan apresiasi kepada Wlaschek berupa Medali Emas Kehormatan Wina di bidang sosial manusia. Anugerah itu diberikan atas sumbangan robot bedah, Da Vinci oleh yayasan Wlaschek kepada Departemen Bedah, Rumah Sakit Umum Wina.

"Komitmen pribadi Karl Wlaschek tidak hanya perawatan medis di Rumah Sakit Umum Wina. Ia juga telah kembali memimpin rumah sakit di Austria. Ia juga menjaga reputasi internasional Vienna Medical School serta bagian penting lain," kata  dr. Pitter, pimpinan Rumah Sakit Umum Wina.

Tak berhenti di situ, Di tahun 2009, Wlaschek juga menerima Medali Perak Besar dengan bintang atas jasanya melayani Republik Austria. Pemberian penghargaan ini adalah upacara kenegaraan paling penting, yang diberikan di Austria.

Tak hanya dermawan memberi materi, Wlaschek juga tak pelit berbagi ilmu. Pada tahun 2005, Wlaschek menulis sebuah biografi yang ditulis oleh mantan Rektor Universitas Salzburg, Adolf Haslinger.


Lewat buku biografi tersebut, Wlaschek bercerita jujur tentang kisah kehidupannya. Buku yang berjudul Wlaschek: Kisah Sukses, tak hanya mengisahkan transformasi Wlaschek dari pengamen kafe menjadi miliarder dunia, melainkan juga beberapa cerita sejarah.




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)