Friday, 13 March 2015

Hery Frianto Owner PT Simulator Dirgantara Indonesia (SDI)


Industri penerbangan memang tengah diterpa berbagai dilema dua tahun belakangan. Akan tetapi hal itu tidak melunturkan minat orang terhadap dunia aviasi. Banyak orang yang tertarik dengan dunia dirgantara, terlebih pada profesi pilot yang dianggap mentereng dan berpotensi mendatangkan penghasilan tinggi.

Sudah bukan rahasia bahwa  sekolah pilot bukan fasilitas pendidikan berbiaya murah. Untuk belajar hingga mendapat lisensi sebagai pilot, seseorang harus merogoh kocek ratusan juta rupiah. Dus, tidak banyak orang yang mampu menerbangkan pesawat sebagai pilot. Namun, sekarang Anda bisa merasakan sensasi jadi pilot dengan biaya yang jauh lebih murah.

Hery Frianto Owner PT Simulator Dirgantara Indonesia (SDI)
Creative common image by Kontan
Adalah Hery Frianto, seorang pengusaha yang memungkinkan banyak orang mengalami serunya menerbangkan pesawat melalui usahanya PT Simulator Dirgantara Indonesia (SDI). Walaupun hanya berupa simulator, sensasi mengendarai pesawat, mulai lepas landas hingga kembali mendarat sangat terasa.

Hery mengaku sudah tertarik dengan dunia kedirgantaraan sejak lama. Awalnya, dia hanya suka memainkan permainan flight simulator di komputer pribadinya pada 2007. Lama-kelamaan, dia semakin penasaran dengan dunia penerbangan. Hingga ia berniat untuk belajar pada pilot sungguhan dengan menggunakan berbagai software flight simulator yang ia miliki. “Bukannya memberi latihan, saya malah disuruh ikut belajar di sekolah pilot,” ceritanya.

Padahal, Hery tak punya niatan jadi pilot. Sebagai orang yang mengutamakan detail, Hery mengaku tertarik dengan teknologi di dunia penerbangan. Akhirnya, Hery membuat simulator penerbangan sendiri pada tahun 2009.

Hery mengatakan simulator pertama yang ia bikin ialah simulator pesawat Boeing 737 dengan single seater. Untuk pembuatan simulator ini, Hery mengeluarkan biaya hingga Rp 450 juta. “Kebanyakan komponennya saya beli dari luar negeri, baru dipasang di bengkel sendiri,” tuturnya.

Simulator yang diletakkan di rumah pribadi Hery ini ternyata cukup menarik minat beberapa kalangan. Bahkan, sejumlah orang menyewa simulatornya untuk belajar menerbangkan pesawat. “Ada lima orang yang lolos masuk ke sekolah penerbangan, setelah belajar mengendarai pesawat dengan simulator saya waktu itu,” ujar dia.

Lantas, Hery pun melihat ini sebagai peluang usaha yang bagus untuk dikembangkan. Apalagi, saat itu belum ada simulator penerbangan milik pribadi sebagai sarana belajar jadi pilot. Ia pun mendirikan PT Simulator Dirgantara Indonesia pada 2010 di Cipondoh, Tangerang.

Pada awalnya membuka bisnis ini, Hery berniat membuka wawasan masyarakat terhadap dunia aviasi. “Terutama untuk profesi pilot yang tak sekadar menerbangkan pesawat,” kata dia. Itulah sebabnya, dia membidik pasar yang cukup luas. Yakni, mulai dari anak TK hingga orang dewasa yang tertarik masuk sekolah pilot, bahkan pilot senior sekalipun.

Pengusaha lain yang melirik usaha simulator penerbangan ialah Munadi Ismail, pemilik PT Cihampelas Tekno Kreasi di Bandung, Jawa Barat, yang memiliki divisi Bandung Simulator Center. Usaha ini sudah berdiri sejak tahun lalu. Sama seperti SDI, perusahaan ini juga menyasar pasar anak-anak dan orang dewasa yang tertarik untuk jadi pilot.

Bahkan, Bandung Simulator Center bekerja sama dengan pusat perbelanjaan di Surabaya. “Kami mendatangkan simulator pesawat di Kaza Simulator Center di Surabaya dengan sistem bagi hasil dengan mereka, jadi kami menyewakan simulator milik kami,” terang Utomo Harja Saputro, salah satu instruktur di BSC.

Pensiunan pilot ini bilang, BSC punya simulator jenis pesawat Helicopter BELL 206, Cessna 172SP Skyhawk, Boeing 737 NG, dan Piper Warrior 3. Bagi anak-anak yang tertarik mencoba menjalankan simulator pesawat, BSC mematok biaya Rp 60.000 per tiga jam. Itu sudah termasuk menonton tayangan dirgantara dan foto bersama. Sementara, bagi orang dewasa, BSC memungut biaya Rp 300.000–Rp 500.000 per 30 menit menggunakan simulator. “Tiap hari kami adakan diskon dari 20%–50%,” ujarnya.

Di SDI, Hery punya dua divisi. Pertama, Junior Pilot yang ditujukan untuk mengenalkan anak-anak pada dunia penerbangan. Murid TK hingga SMP bisa mengikuti program ini. Anak-anak bisa menerbangkan pesawat melalui PC based simulator. Bagi anak yang cuma tertarik mencoba, Junior Pilot menyediakan kelas experience selama 1,5 jam dengan biaya Rp 100.000.

Junior Pilot juga punya kelas reguler yang terdiri dari empat level, mulai basic flight hingga type rating. Pada tiap level, anak-anak belajar selama tiga bulan untuk belajar ilmu dasar penerbangan, baik teori maupun praktik. Junior Pilot mematok biaya Rp 3,125 juta untuk tiap level di kelas reguler ini.

Ada juga Junior Pilot Holiday. Seperti namanya, program ini hanya berlangsung pada masa liburan sekolah anak. Pesertanya bukan hanya anak-anak yang berdomisili di Jabodetabek. Hery bilang, bahkan anak yang tinggal di Papua pun pernah mengikuti program yang berlangsung selama dua hari ini. Untuk biaya, Junior Pilot menetapkan biaya Rp 2,9 juta per anak.

Sementara itu, Hery juga punya student pilot course bagi orang dewasa yang tertarik mengikuti sekolah penerbangan alias ingin jadi pilot. Program ini ditawarkan dengan berbagai pilihan kelas dengan kisaran biaya Rp 600.000–Rp 4,5 juta. “Waktunya beragam, mulai dari satu jam hingga delapan jam belajar dengan flight training device,” jelas Hery.
Semua pelatihan di program ini dilakukan secara privat atau bukan dalam kelas. Hery juga menyertakan sertifikat pada setiap siswa yang berlatih dengan simulatornya.

Dia menambahkan dalam sebulan ada 50 orang yang mengambil program pilot course dan 10 anak yang ikut Junior Pilot di SDI. Hery bisa meraup omzet pada kisaran Rp 50 juta–Rp 150 juta per bulan dari usaha ini. Adapun laba bersihnya, kata Hery, cukup menggiurkan karena bisa mencapai 40% dari omzet. “Dalam tiga tahun, seharusnya usaha seperti ini sudah balik modal,” tandas Hery.

Sementara itu, Utomo bilang, usaha simulator ini pasarnya cukup terbatas. Namun, dalam sebulan BSC bisa meraup omzet sekitar Rp 70 juta.

Teknologi canggih

Lantaran pasarnya sangat terbatas, Hery menyarankan, sebaiknya calon pengusaha yang terjun ke bisnis ini menyukai dunia penerbangan, seperti dirinya. Maklum, meski hanya membangun simulator, namun bisnis ini berhubungan dengan teknologi tinggi. Selain itu, akses ke dunia penerbangan yang sesungguhnya juga diperlukan jika sewaktu-waktu Anda dan konsumen ingin melihat secara langsung kejadian yang sesungguhnya di lapangan. 

Usaha pembuatan simulator penerbangan ini tidak bisa tidak berkaitan dengan teknologi yang canggih. Kendati rumit, Hery meyakinkan bahwa jika dipelajari, teknologi pembuatan dan penggunaan simulator bisa dipelajari. “Saya belajar dari buku dan membaca banyak referensi di internet,” ujarnya.

Yang pasti, pembuatan simulator pesawat ini memakan biaya yang tak murah. Maklum, banyak komponennya harus dipesan dari luar negeri. Walaupun pemasangan bisa dilakukan sendiri.

Hingga kini, Hery mampu membuat simulator pesawat Cessna 172SP Skyhawk, Boeing 737 NG, dan pesawat Piper Warrior 3. Simulator ini dibuat untuk para calon pilot. Di samping itu, dia menghubungkan software flight simulator pada 20 komputer untuk digunakan anak-anak.

Herry merogoh kantong cukup dalam untuk membuat simulator pesawat. Pembuatan simulator Piper Warrior memakan biaya Rp 450 juta. Sementara simulator yang paling mahal ongkos pembuatannya adalah simulator Boeing 737 NG dengan biaya sekitar Rp 800 juta. Dus, Hery bilang sejauh ini ia mengeluarkan modal yang besar untuk usahanya. “Setidaknya saya sudah keluar modal Rp 5 miliar,” ucap dia.

Untuk membuat sebuah simulator pesawat, Hery membutuhkan waktu selama enam bulan. Sebanyak 70% komponen simulator diimpornya dari berbagai negara. Sisanya bisa dibeli atau bahkan dibuat sendiri di dalam negeri.

Di sisi lain, Utomo mengatakan, simulator milik BSC dibuat dengan alat atau komponen dalam negeri alias tak perlu impor. Pembuatannya juga berlangsung selama enam bulan dengan beberapa kali trial and error. “Teknologinya sangat canggih sehingga sangat butuh tim IT yang handal untuk usaha ini,” tandasnya.

Selain itu, Utomo bilang, usaha ini masih terkendala tenaga instruktur. Pasalnya, instruktur harus memiliki lisensi pilot atau setidaknya pernah menerbangkan pesawat. “Kami masih kesulitan karena jarang pilot yang mau bekerja sebagai instruktur,” kata dia.

Sementara, Hery menambahkan, lantaran menggunakan teknologi canggih, peralatan simulator riskan pada kerusakan. Nah, ini berarti ada biaya untuk maintenance alat yang harus dialokasi tiap bulan. Meski, pengeluaran terbesar ialah membayar gaji instruktur.

Lanjut Hery, tantangan dalam usaha ini ialah promosi maupun branding yang tepat. Pasalnya, simulator pesawat bukanlah hal umum. “Meski potensinya cukup besar, pasarnya terlalu niche jadi harus pintar-pintar untuk branding,” ucap Hery yang selama ini mengandalkan produk media aviasi untuk branding usahanya.

Pilihan lokasi harus dipertimbangkan

Bisnis simulator penerbangan menyimpan potensi besar di Indonesia. Wilayah negeri ini yang terdiri dari kepulauan membutuhkan banyak moda transportasi untuk menghubungkan satu dengan yang lainnya. Pesawat pun menjadi salah satu pilihan yang menawarkan kecepatan untuk mencapai tujuan.

Karena itu, kebutuhan pilot terus meningkat di Indonesia. Selain itu, kebutuhan lain juga datang dari penerbang untuk helikopter. Hery Frianto, pemilik PT Simulator Dirgantara Indonesia pun memproyeksikan, kebutuhan pilot helikopter juga terus meningkat seiring tingginya mobilitas dengan menggunakan moda transportasi ini. Inilah peluang yang bisa digarap oleh usaha simulator penerbangan.

Namun, untuk membuat usaha ini, selain kelengkapan simulator, lokasi juga harus menjadi pertimbangan utama. Pemilihan lokasi ini tak boleh sembarangan, karena bisa-bisa usaha simulator penerbangan sepi pengunjung atau jauh dari jangkauan siswa yang ingin belajar terbang.

Hery Frianto, pemilik PT Simulator Dirgantara Indonesia, pun menjelaskan alasannya memilih Cipondoh, Tangerang, sebagai lokasi usaha. Menurut dia, Cipondoh  tergolong strategis karena tidak jauh dari bandara Soekarno–Hatta, Indonesia.

“Jadi kalau ada orang luar kota yang mau datang ke sini tak perlu repot lagi,” ucap dia.

Simulator Center miliknya berada di lantai atas tempat perbelanjaan. Dus, kalau ada orang tua yang mengantarkan anaknya untuk belajar terbang dengan simulator, tersedia tempat sembari menunggu. Hery pun berpesan, jika ingin membangun usaha seperti ini, sebaiknya Anda juga melihat keberadaan sekolah pilot di kota atau wilayah Anda.

Adapun Utomo Harjasaputro, instruktur Bandung Simulator Center, bilang bahwa ada potensi merintis usaha simulator penerbangan di dekat sekolah pilot atau flying school. 

Pasalnya tiap calon murid sekolah pilot disarankan untuk belajar dengan simulator. “Tentu saja mereka butuh simulator ketika mau tes terbang masuk sekolah pilot,” ungkapnya.


Utomo mencontohkan usaha simulator pesawat di Surabaya. Sebanyak 90% pengguna simulator ialah orang-orang yang mau masuk sekolah pilot di Banyuwangi. “Potensinya ada karena simulator ini jadi kebutuhan bagi mereka,” tutur Utomo.  
         


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)