Friday, 20 February 2015

Satrianov, Kisah Sukses Tukangkayu.com


Peluang bisnis dari dunia online memang kian melebar. Tak hanya fashion, media, dan produk-produk teknologi informasi, pertukangan serta desain interior pun bisa dibisniskan dengan mengandalkan penjualan online. Tak percaya? Tanyakan ke Satrianov yang sejak 2012 mengembangkan Tukangkayu.com. Siapa nyana, bisnis online yang dibesut pria 29 tahun itu terus lancar menggelinding.

Satrianov, Kisah Sukses Tukangkayu.com
Creative Common Image by Swa

Semua bermula di tahun 2011. Secara kebetulan dia mampir ke sebuah workshop kayu (furnitur) di Jakarta Barat. Setelah iseng ngobrol ngalor-ngidul dengan pemiliknya, tiba-tiba terlintas dalam benaknya sebuah gagasan: andai bisnis seperti itu dipasarkan online, siapa tahu bisa menghasilkan sesuatu. Tak ingin ide ini lewat begitu saja, dia pun lalu menawarkan diri untuk menjualkan jasa mereka secara online.

Ternyata, pemilik mebel kayu setuju. Dia pun sepakat memberi Satrianov imbalan dari setiap proyek yang terjual. Padalah, Satrianov minim pengalaman. “Saat itu saya benar-benar tidak tahu apa-apa tentang desain interior, furnitur, dan kayu,” dia mengenang. Maka, lahirlah Tukangkayu.blogspot.com. Laman gratisan.

Anak muda ini memang tak punya pengalaman dan pengetahuan yang andal di seputar dunia kayu serta desain interior. Maklum, dia alumni Komunikasi Universitas Padjadjaran. Namun, minatnya pada dunia perkayuan, desain interior dan pemasaran sangatlah besar. “Hanya punya semangat bahwa interior design dan build itu sesuatu yang menarik dan seru bagi saya,” ujarnya.

Berangkat dari iseng, tiada disangka, pasar menyambutnya. Dari blog itulah dia mendapatkan order pertama, membuat sebuah boks kayu. Dan sesuai dengan perjanjian, ada fee yang dikantongi dari order yang terjual.

Uang komisi ini pun segera digunakan untuk membeli domain dan menyewa hosting. Laman gratisan pun bersalin rupa menjadi Tukangkayu.com. “Jadi, modal saya memang nol rupiah,” ungkapnya.

Setelah itu, perlahan-lahan satu-dua klien mulai mengontak. Yang lucu, dia sering tak bisa menjawab pertanyaan calon klien karena saat itu memang masih awam. Otomatis dia harus rajin bolak-balik bertanya ke tukang kayu, baik soal teknis kayu maupun sistem pengerjaannya. Soal desain, dia belajar otodidak dari Internet.

Setelah satu tahun berjalan, jumlah klien mulai datang lebih stabil. Dia pun lalu memutuskan membuat workshop sendiri meski masih ala kadarnya. Kebetulan pula ada satu temannya yang tertarik bekerja sama dan patungan modal. Rp 20 juta dia kumpulkan bersama kawannya, lalu dipakai untuk menyewa tanah, membangun workshop dan membeli mesin basic. “Perlu punya workshop sendiri untuk memudahkan kontrol,” katanya. Sejak itu, dia terus investasi alat dan menambah orang secara bertahap seiring dengan volume proyek yang terus meningkat.


Kini, berangkat dari iseng, Tukangkayu.com terus menggelinding dengan positioning sebagai kontraktor yang membuat atau memproduksi interior, disesuaikan dengan keinginan dan ruang klien. “Pada akhirnya bukan urusan kayu saja yang kami lakukan, namun juga lighting dan sipil. Tetapi, core-nya tetap di urusan kayu,” katanya menjelaskan. 

Kliennya adalah mereka yang butuh jasa kontraktor dan desain interior. “Sebulan paling tidak ada dua proyek,” ungkap Satrianov seraya menjelaskan, harga jasanya tergantung pada jenis bahan, finishing, dan aksesori yang digunakan.

“Kami cukup puas menggunakan jasa Tukangkayu.com. Dari sejumlah penawaran yang masuk, Tukangkayu.com memenuhi spesifikasi kami. Mereka juga kooperatif. Hanya saja, mungkin faktor interaksi langsung perlu diperbanyak dan standar mutu perlu ditingkatkan,” ujar Adelia Risyani, salah satu klien Tukangkayu.com.

Yang membuat Satrianov cukup terkejut, meski tanpa jasa search engine optimization (SEO), website-nya selalu dicari orang dan punya rating tinggi di Google. “Saya dulu memilih nama Tukangkayu.com karena terdengar aneh atau lucu, ternyata ‘kebodohan‘ nama itu justru menarik orang. We might not the greatest carpenter in this country, yet. But for Google, we’re number one,” ujar Satrianov seraya tertawa. Kini ia berbagi pekerjaan dengan mitra bisnisnya. Dirinya menanganiurusan desain serta produksi, sedangkan kawannya lebih fokus ke pemasaran.


Belajar dari Satrianov, keisengan bisa menjadi bisnis bila ditekuni dengan antusiasme disertai keinginan terus belajar. “Website yang paling sering saya kunjungi sampai sekarang www.houzz.com. Itu kitab sucinya desain interior,” ungkap kelahiran Palembang 24 November 1984 ini.




No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)