Saturday, 21 February 2015

Riyeke Ustadiyanto, Chief Technology Officer iPayMu


Sebuah online payment gateway yang menawarkan solusi pembayaran secara online, iPayMu, kini telah berkembang pesat. Buktinya, jumlah merchant aktif ada sekitar 5.800. Perusahaan ini pun berhasil menggandeng 137 bank.

Sekarang,  iPayMu memiliki alat  yang terintegrasi ke e-commerce sebagai alat pembayaran secara online dengan e-wallet, kartu kredit, hingga penarikan dan pengiriman uang. iPayMu juga telah terkoneksi dengan jaringan PT Pos Indonesia yang memiliki lebih dari 4.000 cabang di seluruh Indonesia.

Riyeke Ustadiyanto, Chief Technology Officer iPayMu
Creative common image by Swa

iPayMu pun mempunyai sistem layanan escrow atau rekening bersama. Ini adalah layanan penjaminan dari iPayMu. Layanan ini untuk menghindari keraguan serta risiko penipuan atau transaksi palsu. Dengan begitu, layanan escrow memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pihak penjual maupun pembeli. Pada saat barang telah diterima oleh pelanggan, barulah pelanggan melakukan pembayaran senilai barang yang dibeli.

Beberapa waktu lalu, di Jakarta, wartawan SWA, Ester Meryana, mewawancarai Riyeke Ustadiyanto, Chief Technology Officer iPayMu. Berikut petikannya:

Ide awal pembuatan iPayMu seperti apa?

Awalnya, saya menulis buku tentang security online payment. Itu tahun 2002. Dan baru terlaksana tahun 2010 sampai sekarang. Dari dulu pekerjaan saya seputar e-commerce. Nggak kemana-mana. Kami melakukan soft launch-nya sudah di Bali kemarin, khusus credit card. Untuk grand launching-nya mungkin akhir tahun ini di Jakarta.  Kenapa di Bali? Ya karena pertama, bisnis e-commerce established di pariwisata, baru kami . Terus baru kita ke e-payment-nya.

Ini semacam PayPal? Apa bedanya?

Orang Indonesia punya PayPal yang  semuanya based on kartu kredit, sementara penetrasi kartu kredit  di Indonesia baru 7 persen. Paling banyak digunakan adalah kartu debit. Jadi kalau mau pakai kartu kredit lebih baik pakai PayPal, tapi kalau debit lebih baik pakai iPayMu. Jadi saya melihat kuenya seperti itu. Makanya, kalau orang jual sandal payment-nya pakai kartu kredit, omzetnya kecil sekali. Orang pikir e-commerce pakai kartu kredit pasti keren kan? Nggak. Nggak ada yang beli itu. Tapi kalau pakai debit, itu yang beli banyak.

iPayMu itu pakai sistem e-wallet. Apa tujuannya?

Kenapa harus sistem e-wallet, karena yang saya tahu sistem direct banking itu riskan. Agak berbahaya. Jadi paling enak, paling aman itu harus menggunakan sistem e-wallet.

Semua orang, untuk  pembayaran e-commerce itu harus punya e-wallet di iPayMu. E-wallet-nya iPayMu ini terkoneksi ke 137  bank. Jadi cukup simpel. Orang di daerah pun, kalau banknya Bank Pembangunan Daerah, pun tetap bisa melakukan transaksi e-commerce. Karena bank tersebut rata-rata sudah terkoneksi dengan jaringan ATM. Otomatis ter-connect ke iPayMu juga.

Pengisian e-wallet itu berapa?

E-wallet terserah dari pengguna iPayMu. Terserah mereka maupu masukin berapa. Seperti atau PayPal, kan terserah mau diisi berapa, mau untuk transaksi berapa. Nah, kenapa kami buat konsep itu tidak direct, ya  karena biar aman. Misalnya, beli software tiba-tiba otomatis salah klik langsung direct, ya habis.

Uang yang didepositkan konsumen di e-wallet itu ada biaya?

Deposit tetap disimpan. Tidak ada bunga. Kita bukan bank. Tidak ada administrasi. Jangka waktunya free life time.

Bagaimana keuntungan yang didapat iPayMu?

Semua gratis. Kami dapat keuntungan cuma satu persen dari setiap transaksi. Jadi beli sarung Rp 100.000, iPayMu dapat 1 persennya, yakni Rp 1.000.

Bagaimana perkembangan iPayMu hingga saat ini?

Di situs bisa dilihat jumlah merchant selalu bertambah. Sekarang,  kalau nggak salah sekitar 5.800 merchant. Peningkatan setelah kami buka langsung sampai sekarang 300-400 persen. Itu angka user yang menggunakan. Padahal, kami  belum pernah masuk televisi maupun koran. Kami memang belum pernah beriklan, tapi kami siapkan semua secara bagus. .

Ada kesusahan menjaring 137 bank sebagai mitra?

Alhamdullilah, karena perbankan kan belum tentu mau mengadopsi model bisnis ini. Tapi alhamdullilah mereka paham terus mau mengadopsi. Dari 137 bank, ada lebih dari 10 bank asing.

Apa yang sedang dipersiapkan untuk ke depan?

Kami nanti juga punya mobile payment. Mobile payment nanti seperti ini, karena kan visi kami untuk UKM (usaha kecil menengah). Misalnya,  usaha pecel lele bisa punya mesin EDC (Electronic Data Capture) apa nggak? Nggak bisa kan. Tapi, jika mereka sudah punya account iPayMu, menggunakan handphone itu sudah menjadi mesin EDC. Pakai Android. Caranya, konsumen punya account iPayMu, si penjual lele punya account iPayMu. Lalu, misalnya, beli makanan habis Rp 15.000. Nggak bawa cash. Tinggal apa username-nya, saya transfer langsung.  Jadi, platform mobile kami gunakan juga.  Desember nanti kami keluarkan semuanya, termasuk jaringan ke mana saja kami buka.

Berapa target transaksi maupun merchant yang menggunakan iPayMu ke depan?


Begini cara saya bekerja saya.  Saya hanya melempar kebutuhan orang. Yang mem-push target ternyata bukan dari kami. Dan, ternyata,  timbulnya transaksi itu dari mereka sendiri. Kadang saya juga heran, pada bulan tertentu transaksinya melebihi target.  Tim kami tidak bekerja, itu jalan sendiri. Karena itulah yang dibutuhkan oleh orang Indonesia. Jadi, menurut saya, target itu terkejar ketika tren itu bergerak, karena saya mengikuti kemauan pasar. Saya bikin sistem, pasar merespon, menyerap, akhirnya jalan. Tim kami itu hanya ada sekitar 8 orang. Di Jakarta baru sekitar 2 orang. Nggak mungkin harus push, lalu pasang baliho di mana-mana. Ya taruh di internet, semua orang pakai, selesai.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)