Friday, 20 February 2015

Muhamad Fajrin Rasyid, Founder Suitmedia Indonesia


Mereka yang hobi belanja online ada kemungkinan sudah cukup familier dengan situs Bukalapak (www.bukalapak.com) dan HijUp (www.hijup.com). Yang mungkin belum banyak orang yang tahu, kedua situs e-commerce itu dikembangkan di sebuah labolatorium digital yang sama: Suitmedia (www.suitmedia.com)

Muhamad Fajrin Rasyid, Founder Suitmedia Indonesia
Creative common image by Swa
Ternyata di luar itu, Suitmedia juga mengembangkan beberapa situs lainnya, seperti situs e-commerce Scallope (www.scallope.com) dan situs pendidikan MasukNegeri (www.masuknegeri.com). Selain mengembangkan situs sendiri, puluhan perusahaan, baik dari dalam maupun luar negeri, telah memercayakan urusan solusi digitalnya kepada Suitmedia. Sesuai dengan slogan positioning yang diusungnya, Creative Digital Lab, Suitmedia memang menawarkan layanan untuk beragam solusi digital. Mulai dari desain dan pengembangan situs Web, strategi digital, mobile platform, hingga pengembangan software.

Suitmedia didirikan oleh Muhamad Fajrin Rasyid dan kedua temannya semasa kuliah di Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung, Zaki dan Nugroho. Bagaimana anak-anak muda ini menginisiasi lahirnya jasa pengembangan Web dan konsultan digital hingga dipercaya sejumlah perusahaan di luar negeri?

“Awalnya sih kami membuat produk e-commerce Bukalapak.com pada 2009. Kemudian, ada tawaran membuat website,” ungkap Fajrin. “Kami melihat ada peluang bisnis selain membuat produk e-commerce, yaitu jasa teknologi dan konsultan media sosial,” ujar lelaki yang pernah bekerja sebagai tenaga konsultan di Boston Consulting Group ini.

Dari pemikiran tersebut, setelah digodok oleh mereka bertiga, setahun kemudian dibentuklah Suitmedia sebagai induk perusahaan, sekaligus lab digital yang akan melahirkan beragam solusi digital. Mengapa mereka memakai istilah lab untuk Suitmedia? “Kalau di lab itu kan kita lihat isinya orang-orang kreatif yang suka bereksperimen, hanya saja kami di bidang digital,” kata Fajrin, yang pernah sebagai CEO Suitmedia dan kini didapuk sebagai penasehat.

Menurut pria kelahiran Jakarta 11 September 1986 ini, sebagai konsultan digital, Suitmedia menyasar perusahaan kelas menengah dan besar. Alasannya, sejauh ini kelas perusahaan itu yang memiliki anggaran dan kepentingan untuk eksis di dunia digital. “Tahun ini kami akan coba garap pasar instansi pemerintahan,” ujar pehobi nonton dan membaca ini.

Diklaim Fajrin, saat ini dengan didukung 50 orang di tim kreatif, yang berbasis di Jakarta dan Bandung, Suitmedia mampu mengerjakan sekitar 20 proyek aplikasi mobile dan website setiap tahun. Selama sekitar empat tahun berkiprah, Suitmedia telah memiliki lebih dari 50 klien, termasuk sejumlah perusahaan beken seperti Unilever, Bank Mandiri, Samsung Mobile, Toyota, BRI, Air Asia Go, BlackBerry, Citilink, Trimegah Securities, Procter & Gamble, Johnson & Johnson, serta Izzi Pizza. Selain itu, mereka juga mengklaim punya belasan perusahaan klien dari luar negeri, seperti dari Singapura, Hong Kong, negara Timur Tengah, dan Amerika Serikat.

Mengenai pola bisnisnya, menurut Fajrin, untuk pembuatan website dan aplikasi mobile memakai pola jual-beli putus. “Kecuali kalau ada permintaan maintenance dan penambahan,” ujarnya. Adapun untuk proyek pengembangan media sosial menggunakan kontrak 6-12 bulan. “Tarifnya? Tergantung tingkat kerumitan proyeknya. Range-nya Rp 50-200 juta,” ungkap penggemar olah raga voli ini.

Menurut Fajrin, Suitmedia mendapat respons bagus dari pasar karena memiliki kekuatan di sisi kreatif dan teknologinya. “Boleh jadi, perusahaan lain baik di aspek kreatifnya, tetapi kurang di teknologinya. Kami memiliki kekuatan di sisi kreatif dan teknologi. Sebab, beberapa tim teknologinya adalah teman-teman ITB, dan tim kreatifnya punya pengalaman.”

Yang jelas, berbagai langkah promosi pun mereka lakukan. Terutama, melalui media online dan media sosial. Cara lainnya, bekerja sama dengan perusahaan lain, melalui konsep cooperation. Misalnya, dengan perusahaan periklanan besar. “Jadi, kami tidak memandang perusahaan lain sebagai musuh, tetapi sebagai teman. Di satu sisi kami berkompetisi, di sisi lain kami bekerja sama,” ujar Fajrin.

Ke depan, Fajrin berharap Suitmedia bisa menjadi perusahaan digital kreatif terdepan di Indonesia. “Kami punya kemampuan dan kami tidak kalah dibandingkan perusahaan luar sekalipun,” katanya percaya diri.

Mengomentari kiprah Suitmedia, pengamat industri kreatif Yoris Sebastian menyarankan agar Suitmedia mulai berpikir strategis. Misalnya, untuk menggarap pasar luar, dengan mulai membuka kantor di Singapura. Sebab, saat ini Singapura mulai menjadi sentra koneksi orang-orang berjualan. Kenyataannya, sudah banyak yang membuka kantor regional di Singapura. ”Tidak perlu besar-besar (kantornya). Karyawannya pun cukup dua orang saja, berasal dari sana atau orang yang sudah lama di Singapura, sehingga paham kondisinya,” kata Yoris.


Selain itu, saran Yoris lagi, pihak Suitmedia harus tahu siapa saja pemain besar di bidang yang mereka geluti. Dengan begitu, mereka bisa belajar dari para pemain besar itu. ”Mereka tidak akan jadi leader kalau mereka tidak tahu siapa dan bagaimana pemain besarnya (bekerja),” ucap Yoris. Ia pun menyarankan mereka menjaga rekam jejak dan harus berani bilang “tidak” ketika ada tawaran ekspansi tetapi mereka belum siap. “Jadi, tetap hati-hati dan enjoy the process,” kata konsultan industri kreatif itu.


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)