Friday, 20 February 2015

Gibran Chuzaefah Amsi, Kreator Alat Pakan Ikan Otomatis


Memberikan makan ikan melalui SMS? Terdengar aneh, memang. Toh, bukan sulap bukan sihir, dengan perangkat berbasis software bernama e-Fishery yang dikembangkan Gibran Chuzaefah Amsi El Farizy, pemberian pakan untuk ikan dan udang dapat dikontrol via ponsel. Menurut Gibran, pengelola tambak ikan atau udang dapat memantau jumlah dan waktu pemberian pakan dari mana saja. Bahkan, pria kelahiran Jakarta 31 Desember 1989 ini mengklaim, dengan menggunakan e-Fishery, mereka dapat lebih efisien 20% dalam pemberian pakan.

Gibran menceritakan, awal mula ia menciptakan aplikasi e-Fishery ketika mengobrol dengan petani ikan. Ternyata, masalah utama dalam budidaya ikan dan udang adalah feeding cost (biaya pakan)yang bersarnya mencapai 70% dari biaya total. “Tidak semua orang bisa memberikan pakan (ikan) sesuai prosedur. Apalagi bila mereka memiliki kolam banyak. Ini jadi masalah besar,” ungkapnya.

Gibran Chuzaefah Amsi, Kreator Alat Pakan Ikan Otomatis
Creative common image by swa

Dari sisi aspek makro, pada 2012, rata-rata kenaikan rate of investment di sektor perikanan nasional hanya 5%. Padahal, peningkatan konsumsinya sebesar 30%. Bila disparitas antara konsumsi dan produksi tidak terpenuhi, Indonesia akan impor terus. Terbukti, pada 2013, Indonesia impor ikan lele dari Malaysia. Salah satu penyebab rendahnya kenaikan investasi ini karena bidang ini dinilai tidak bisa dikontrol. “Teknologi yang sudah ada di (industri) perikanan sangat rendah. Tidak ada teknologi baru yang membuat perikanan semakin akuntabel,prediktabel dan convenience. Itulah alasan saya mengembangkan e-Fishery,” kata Gibran, yang mengembangkan aplikasi e-Fishery dengan mendirikan PT Multidaya Teknologi Nusantara.

Teknologi yang digunakan Gibran adalah Network Operation Centre yang dihubungkan dengan Supervisory Control and Data Acquisition– sistem kontrol yang biasa digunakan di industri besar. Komponen tersebut terhubung dengan kontainer food yang telah dilengkapi dengan perangkat mekanik untuk pengeluaran pakan secara otomatis dan sensor kuantitas pakan.




Melalui perangkat e-Fishery, proses kontrol otomatis dapat dilakukan mulai dari penjadwalan pemberian pakan, pengaturan kuantitas pakan yang diberikan, hingga sistem keamanannya. Untuk yang terakhir disebut, tindak pencurian dapat terdeteksi dari jarak jauh dan aplikasi ini dapat langsung berhubungan dengan nomor telepon kantor kepolisian setempat.

Selain itu, produktivitas dari budidaya ikan pun akan lebih terdata dengan baik, sehingga produktivitas usaha ini untuk masa mendatang dapat diproyeksikan. “Jadi, investor bisa yakin dengan prospek budidaya ikan ini,” ujar alumni Jurusan Biologi ITB ini.

Singkatnya, lanjut Gibran, dengan e-Fishery ada tiga manfaat yang diperoleh pengelola tambak ikan dan udang. Pertama, efisiensi pemberian pakan, karena bisa menurunkan feeding cost sebesar 20%. Kedua, kualitas air akan lebih terjaga karena tidak terjadi kelebihan pakan. Ketiga, survival rate ikan dan udang pun lebih tinggi.

Menurut Gibran, alat kontrol pakan ikan yang dijual seharga Rp 7-9 juta ini bisa digunakan untuk satu kolam berukuran sekitar 500 m2. Produk e-Fishery ini disasarkan ke kalangan perusahaan besar, perusahaan menengah dan perorangan yang memiliki banyak kolam.

Untuk perusahaan besar, perangkat dijual putus, tetapi Gibran masih dapat mengutip pendapatan tambahan dari dashboard. Alat ini memang bisa dihubungkan dengan aplikasidata log untuk laporan pemberian pakan ikan. Dari data log, Gibran mendapat fee setiap bulan. “Saat ini, sudah terjual 142 unit pada tiga perusahaan,” kata Gibran mengklaim.

Adapun untuk perusahaan menengah dan perorangan, Gibran menggunakan cara sewa (rental), dengan perantara distributor. “Kami melakukan kontrol, maintenance, dan data log diberikan ke mereka. Jadi, lebih ke jasa otomasi pakan dengan berbagai macam garansi dan gimmick,” ujarnya.

Gibran mengklaim, sejauh ini respons pasar cukup bagus. Maka, penggemar plesiran dan nonton film ini optimistis produk ciptaannya bakal diterima pasar. Apalagi potensi pasarnya cukup mendukung. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, bisnis akuakulturdi Indonesia mencapai lebih dari 1 juta petani ikan dan udang. Jika satu petani rata-rata punya 100 kolam/tambak misalnya, berarti potensi pasar bagi perangkat e-Fishery mencapai 100 juta kolam. Artinya, potensi market size-nya bisa mencapai triliunan rupiah. Salah satu pemain besar di Indonesia punya 10 ribu tambak udang, plus sejumlah kolam ikan. “Di Indonesia belum ada yang membuat produk seperti ini. Yang ada di pasar adalah produk dari Taiwan dan Thailand, yang interface untuk setting alatnya susah karena memakai bahasa mereka. Sedangkan kami memakai bahasa Indonesia dan user-friendly.”


Ke depan, Gibran mengaku masih akan tetap fokus pada pemasaran dan penyempurnaan perangkat pakan ikan ini. Ia pun berencana menambah fitur sebelum memenetrasi pasar secara intensif. Juga, ia berencana mengembangkan sejumlah perangkat lain berbasis software untuk sektor pertanian, seperti alat hitung benih dan alat hitung hasil panen.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)